
Irwan PoV
Kata-kata Tania menyentilku. Perasaanku padanya memang belum terbentuk sempurna sehingga aku belum bisa memandangnya sebagai wanita yang aku inginkan. Padahal kurang baik apa Tania bagiku. Dekat dengannya bagai candu bagiku. Tapi aku tidak ingin senyumannya ia berikan kepada orang lain. Aku sudah merasa berhasil membuatnya sedikit tergantung dengan kehadiranku.
Aku seorang lelaki yang bisa merasakan jika perhatian Yudha bukan hanya sebagai seorang kakak bagi Tania. Entah Tania yang terlalu naif atau si Yudha yang tidak mau mengakui cintanya kepada Tania. Ku lihat sorot matanya setiap Tania di antar atau di jemput olehku, ada ucapan tidak rela dari tatapannya.
Mungkin aku terlalu egois dan pecundang. Sebagai lelaki aku hanya mengedepankan rasa penasaranku pada setiap wanita tanpa harus berkomitmen. Tania memang berbeda dengan yang lain, ia mampu sedikit demi sedikit mengubah kebiasaan jelekku. Aku mulai rajin beribadah, tidak lagi chatting dengan sembarang wanita.
Tapi hei....Tania mungkin terlalu percaya diri. Bukankah ia tahu jika aku tipe pria seperti apa, lalu ia keukeuh meminta kejelasan hubungan denganku. Bagi sebagian besar temannya mungkin aku adalah laki-laki kurang ajar yang telah mempermainkan perasaan seorang Tania. Tapi perkataan Tania kali ini benar-benar menamparku, dari sekian banyak wanita yang aku kencani tak ada satu pun yang bisa membuatku untuk berpikir tentang tujuan dari suatu hubungan. Umurku sudah lebih dari seperempat abad, tapi aku tidak memiliki tujuan apapun dalam hatiku.
Kehidupan yang mapan serta ketampananku ternyata tidak menjamin ketenangan hati. Sejak percakapan terakhir kami, aku gelisah tidak bisa memejamkan mataku. Baru kali ini ada perempuan yang berani blak-blakan tentang perasaannya dan begitu amat sangat menyesal mempunyai rasa untukku. Kalau untuk wanita lain mungkin akan merasa bangga bisa dekat denganku. Rasanya seperti ada yang hilang dan semua terasa hampa. Andai saja saat itu aku tidak menemani Franda ke undangan mungkin Tania tidak akan menjauhiku seperti ini.
Aku juga tidak tahu jika Franda adalah teman sekolah Aris suami Sari. Aku terkejut saat tiba di pernikahan Sari, saat ku lihat ke arah keramaian dan orang-orang begitu terpukau dengan penampilan seorang gadis cantik imut bernyanyi diatas panggung. Ia tampak menghayati lagu yang ia bawakan. Bukan hanya semua orang yang terpesona tapi aku juga sangat terpesona kepadanya. "kamu cantik" gumamku yang terdengar oleh Franda yang menyadari arah tatapan mataku. Franda terlihat tidak senang saat aku terus memperhatikan Tania dari kejauhan. Penampilan Tania di atas panggung memukau semua orang saat tepukan riuh semua orang untuknya. Suaranya yang mumpuni serta penampilannya mempunyai daya tarik bagi semua orang.
__ADS_1
Aku tersenyum kecut saat ku lihat adegan terakhir sebelum mereka turun dari atas panggung. Ya mereka, Tania dan Yudha. Lagi-lagi laki-laki itu selalu saja ada di samping Tania, macam bodyguard saja pikirku. Semua orang pasti akan mengira mereka adalah sepasang kekasih, tapi lihat aku pun sama. Dengan Franda aku pun begitu, kami dekat namun tidak mempunyai hubungan apapun yang pasti orang juga akan mengira jika aku dan Franda sepasang kekasih seperti dugaan Tania.
Ia terlihat kaget saat begitu melihat aku datang bersama Franda yang dengan mesra menggandengku. Sikapnya mungkin terlihat biasa saja saat melihatku, tapi aku bisa melihat sorot matanya yang kecewa. Pintarnya si Yudha bisa membaca situasi kami saat itu terlebih ada temannya yang mengajaknya berfoto. Tania terlihat lega bisa menghindariku, ia berlalu tanpa menatapku seolah tidak pernah mengenalku. Semalam sebelum pernikahan Sari aku sempat ngobrol dengannya lewat chat, salahku juga aku tidak memberi kepastian tentang kedatanganku dan malah pergi menemani Franda ke undangan temannya yang ternyata itu undangan yang sama yaitu pernikahan Sari dan Aris.
Sial........Umpatku kasar dalam hati. Lagi-lagi si Yudha dengan sengaja ingin memperlihatkan kedekatannya bersama Tania dengan berfoto berdua. Belum reda rasa kesalku, ketika aku melihat Tania ke area gedung dan hendak menyusul untuk mengajaknya berbicara. Niat hati aku ingin meminta maaf kepada Tania, tapi Franda seperti membaca gerak gerikku dan menahan aku agar tidak pergi keluar. Aku berkilah agar bisa menemui Tania, dan itu berhasil. Aku kembali melihat Tania sedang berbicara dengan seorang pria. Perlahan kudengarkan percakapan mereka, rupanya lelaki itu mengajak Tania berkenalan. Dalam hitungan menit dengan jiwa supelnya Tania bisa mudah akrab dengan lelaki itu.
Tak lama ku lihat si Yudha juga menghampiri, ternyata dia hanya mau berpamitan. Kalau saja aku tidak datang bersama Franda mungkin aku bisa mengantarnya pulang. Selang beberapa menit setelah kepergian si Yudha, Tania berjalan masuk menuju gedung. Aku memanfaatkan kesempatan ini untuk bicara dengannya tapi sepertinya Tania memberikan respon yang kurang baik kepadaku.
Ahh Tania....
Kenapa kamu mampu membuatku jungkir balik seperti ini? Setidaknya dengan keputusan kamu untuk berharap tidak bertemu lagi denganku itu rasanya ada yang retak dihati ini.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Hay hay readers yang baik hati.....
Dukung terus author ya, maaf jika up nya agak telat.
pekerjaan dunia nyata membersamai anak buat daring bikin author riweuh sekali ditambah punya baby usia 2 tahun dan mengajar online juga....
Tapi tenang author akan istiqomah meng-up cerita ini...
Thank you...
With ❤️
Santii_Chan
__ADS_1