
Sementara Tania menyabarkan hatinya mendengar para emak yang menggibah tentang dirinya. Mau di lawan rasanya bukan tandingan serta nanti tambah dikata anak gak tau sopan santun lagi.
"Tan, nih pake lotion anti nyamuknya" untungnya Yudha datang memberikan dua sachet lotion anti nyamuk dan membuat para Emak diam memperhatikan keduanya. Tania beranjak mengambil dari tangan Yudha.
"Makasih, A" senyum Tania. Kemudian Yudha kembali berlalu menuju area mesin.
"Tuh kan anak baru mentang-mentang bening, kerja gak becus, bisanya mikat para lelaki" cibir si ibu yang memakai kerudung kuning.
"Jaman sekarang ngandelin tampang mah segalanya jadi mudah" timpal si ibu berbaju merah.
"Eh bukannya lelaki barusan itu yang disukai sama keponakan kamu?" ucap si ibu berkerudung kuning.
"Aeeehhhh iyah bener, geningan sudah punya kabogoh (pacar) atuh kasian ya si Leni patah hati" ucap si ibu berbaju merah.
"Heh kamu mendingan jauhin tuh cowok, gak pantes kamu sama dia" ucap sinis si ibu berbaju merah kepada Tania. Tania yang tidak tahu jika si ibu berbaju merah itu bicara kepadanya, ia hanya fokus dengan pekerjaannya sambil sesekali mendengarkan kejulidan para Emak.
Saking kesal karena Tania tidak merespon ucapannya, akhirnya Tania didatangi dan keranjang Tania ditendang oleh si ibu berbaju merah. Tania terperanjat saking kagetnya.
"Astaghfirullah...Kenapa ari Ibu?" tanya Tania.
"Gak sopan ya kamu daritadi saya ngomong sama kamu malah gak di dengar" ucapnya marah dengan bertolak pinggang. Emak yang lain memegangnya sambil menenangkan agar tidak sampai timbul keributan. Tapi sayang kesabaran si Ibu berbaju merah telah sampai di puncak kepalanya sehingga melabrak Tania yang tidak tahu menahu alasan si Ibu itu marah.
"Maksud Ibu apa? Daritadi saya hanya fokus kerja dan tidak mendengarkan obrolan ibu" ucap Tania masih dengan tenang meskipun dadanya deg degan parah. Ini rasanya lebih-lebih dari ospekan Mbak Ani waktu itu, parah ini sih.
"Heh denger ya kamu jauhin tuh si Yudha. Dia udah ada yang punya namanya Leni" ucap si Ibu dengan mata melotot.
"Maaf ya, Bu, bukannya saya tidak sopan tapi apa hak Ibu melarang saya untuk menjauhi A Yudha?" ucap Tania masih dengan nada yang merendah
"Si Leni itu keponakan saya dan dia suka sama si Yudha jadi lebih baik kamu jauhi dia" ucapnya lagi. Tania jadi teringat ucapan Yudha beberapa waktu yang lalu bahwa ada cewek bagian label yang mengejar-ngejar terus sampai meminta bantuan Resya. Yudha merasa risih dan berkali-kali menolak ajakan Leni untuk berkencan. Ia masih belum menemukan orang yang srek dihatinya.
__ADS_1
"Ya Ibu bilang aja sama A Yudha nya sendiri suruh jauhin saya, terus tanya sama dia apa A Yudha mau jadi pacar keponakan Ibu? Kalo saya rasa sih enggak" ucap Tania.
"Kurang ajar ya kamu berani ngelawan orang tua" ucapnya marah. Temannya memegang bahu si Ibu agar menyudahi perdebatannya sebab dari tadi Pak Dindin sudah memperhatikan mereka dari kejauhan.
"Maaf ya bu dari tadi saya sudah bersikap sopan sama Ibu tapi Ibu yang mancing saya buat lawan Ibu. Lagian ya bu saya memang sedang kena sanksi makanya saya dipindahkan kesini sementara, saya kerja juga gak jual tampang kok, orang ini pabrik bukan toko swalayan yang pekerjanya SPG-SPG cantik. Jadi jangan merasa tersaingi saya juga sadar diri, Bu. Saya disini karyawan kontrak dan gak akan bisa menyaingi gaji Ibu-ibu semua kecuali saya kerja lembur bagai kuda. Maaf saya disini mau bekerja bukan mau berdebat silahkan Ibu-ibu bekerja seperti biasanya anggap saja saya tidak ada toh kita disini sama-sama digaji" ucap Tania yang berbalik kembali meneruskan pekerjaannya dengan nafas yang memburu.
Dari tadi kupingnya sudah merah mendengar celoteh kejulidan para emak. Pikirnya lebih baik mendengar celotehan emak di bagian komputer produksi walaupun obrolan mereka jorok seputar ranjang tapi ada ilmu tentang rumah tangga yang mereka ceritakan daripada di bagian lorot benang malah menambah dosa.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Jam Istirahat
Selesai sholat dengan langkah gontai Tania menuju kantin dan mencari bangku yang kosong. Ia duduk sebelum memesan makanan, ia menghela nafas lalu menghembuskannya kemudian meneguk setengah botol air minum mineral yang ia bawa.
"Neng" ucap seseorang menepuk pundak Tania. Tania menoleh, rupanya itu Pak Dindin. Ia pun tersenyum lalu duduk didepan Tania.
"Jangan ambil hati ya omongan Ibu-ibu tadi, mereka memang terkenal biang gosip sama mulut pedas" ucap Pak Dindin.
"Apa pekerjaan kamu masih banyak?"
"Alhamdulillah tinggal sedikit lagi, Pak. Tadi saking kesalnya saya terus muterin mesin lorotnya jadi cepat selesai"
"Oh ya bagus kalau begitu. Segera makan, isi tenaga biar kuat menghadapi mulut tajam mereka" ujar pak Dindin. " Kalau begitu saya permisi dulu ya, selamat menikmati jam istirahatnya" ucapnya lagi.
"Baik, terimakasih, Pak" ucap Tania. Setelah kepergian Pak Dindin ia pun beranjak memesan makanan Bu Maryati. Dibelakang Yudha dan yang lainnya juga kebetulan akan memesan makanan.
"Ehh si Tanikuk, gimana nih jadi anak baru di bagian lorot benang?" kekeh Nicko.
" Au ah gelap" ucap Tania sambil berlalu membawa satu piring nasi ke mejanya tadi yang diikuti tiga serangkai.
__ADS_1
"Lah kan emang disana mah auranya gelap" ujar Iqbal asal.
"Euhh bener kamu, Bal. Aura orangnya juga ikutan gelap" ucap Tania bergidik membayangkan kejadian tadi.
"Kenapa emang?" tanya Iqbal penasaran.
"Ih ngeri aku berhadapan sama Emak gengster" ucap Tania.
"Wahahahaha ada-ada aja kamu mah" ucap Yudha.
"Tuh gara-gara A Yudha aku jadi kena omel sampe keranjang benang aku ditendang"
"Loh kok gara-gara aku?" tanya Yudha yang tidak terima di salahkan.
"Iya A Yudha jadi kambing hitam disini gara-gara tuh keponakan si emak suka bangetttttt sama A Yudha" ujar Tania cemberut.
"Keponakan? Siapa?" Yudha memicingkan matanya.
"Wah jangan-jangan si Leni boy" tebak Nicko.
"Yups A Nicko betul, seratus untuk anda" Tania mengacungkan jempol ke depan wajah Nicko. Sontak saja Nicko dan Iqbal tertawa terbahak-bahak mengingat cara Leni yang sungguh ganjen sekali mencari perhatian dan berulang kali mengajak Yudha untuk berkencan.
"Whahahhaha ternyata si Leni punya bodyguard cuy" Iqbal tergelak.
"Sssstttttt.....Ngomongnya jangan kenceng-kenceng tuh liat emak gengster lagi liatin kearah sini bisa-bisa pas masuk nanti habis aku" ucap Tania ketakutan.
"Kalo kamu gak salah ngapain musti takut segala" jawab Yudha cuek.
"Yahhh muka mereka nyeremin, A. Tadi aku memberanikan diri buat lawan mereka takutnya lagi nanti ada lagi ospekan yang lainnya"
__ADS_1
"Udahh ah abisin tuh makanan kamu, baru sembuh juga malah ngurusin yang kayak gitu. Bilang aja aku gak minat sama si Leni kalo mereka masih marahin kamu. Nanti kalo kelewatan aku yang maju". Makan siang mereka lewatkan dengan tidak lagi mengobrolkan tentang Leni, muka Yudha berubah masam jika membahasnya. Ia merasa risih dengan sikap Leni dan yang pasti membuatnya illfeel.