
Seminggu berlalu...
Baik Pak Mul dan Mbak Ani masih bungkam dengan keadaan Yudha. Sejak hari dimana Tania secara tidak sengaja mendengar Pak Mul menanyakan kabar kepada Mbak Ani, mereka tidak lagi membicarakan Yudha di area kerja. Pun Nicko belum memberi kabar lagi akan keberadaan Yudha sekarang.
Sanak saudara Yudha yang ada di dekat rumahnya pun sama enggan memberi tahu dan berkata tidak tahu tentang Yudha dan keluarganya. Yang Tania yakini sekarang adalah ada yang benar-benar di sembunyikan oleh semua orang tentang Yudha.
"A, lagi benerin mesin yang deret mana?" Tanya Tania ketika berpapasan dengan Nicko dekat meja ukur.
Saat itu Nicko tampak kikuk, hanya menatap mata Tania sekilas lalu menundukkan kepalanya lagi dan melihat ke lain arah.
"Oh, lagi beresin mesin Stool yang deret 5. Aku duluan ya, Pak Jean udah nunggu" ucapnya sambil berjalan terburu-buru.
Tania hanya mengangguk lalu melenggang masuk kedalam ruangannya. Ia menangkupkan tangannya diatas meja. Kali ini ia tampak melamun, pikirannya sedang menceracau ke berbagai hal. Matanya melihat pada arah operator yang sedang sibuk-sibuknya menjelang jam pulang kerja. Namun bukan hal pekerjaan yang ia pikirkan.
Pikirannya masih terpusat kemana perginya Yudha, lalu ia pun merasakan ada gelagat aneh dalam sikap dan tatapan Nicko kepadanya. Nicko seakan perlahan menjauh atau menghindar dari Tania.
A Nicko hari ini aneh, biasanya kalo istirahat suka ajak aku, tadi pagi juga biasanya dia maupun Iqbal suka dateng ke ruangan aku sebelum jam kerja di mulai. Malah aku juga gak ketemu Iqbal hari ini. Ada apa ya dengan dua orang itu?. Aku yakin ada yang mereka sembunyikan dari aku. Tania membathin.
Ia putuskan untuk menegur Iqbal maupun Nicko secara langsung. Kalaupun lewat chat atau telepon mereka akan berkilah dan bisa mencari-cari alasan. Setelah beberapa waktu lalu ia dan Nicko membicarakan hal ini, dari sana pula Nicko tidak memberikan info apapun.
Mau tidak mau Tania akan memaksa siapapun untuk angkat bicara mengenai Yudha. Malamnya Tania tidak bisa tidur, ia berusaha mencari posisi ternyaman agar bisa cepat terlelap. Tetap saja karena rasa khawatir yang berlebih matanya sulit untuk diajak terpejam.
"Aduhhh gak bisa tidur ini....Perasaan tadi mau tidur udah cuci kaki, wudhu sama berdo'a juga tapi ini mata gak bisa di ajak kompromi" keluh Tania sambil badannya berguling bolak balik diatas kasur.
"Oh iya, kata Bapak kan kalo gak bisa tidur coba aja dzikir" gumamnya.
Ia pun mulai melantunkan beberapa dzikir penenang hati, sampai pada akhirnya matanya menutup perlahan dan membawanya ke alam mimpi. Benar-benar mujarab saran dari Bapak ini.
Paginya ia pergi dengan tergesa seakan tidak sabar lagi untuk berbicara dengan Nicko maupun Iqbal. Sebelumnya ia sudah mewanti-wanti agar mereka menemui dulu Tania di ruangannya sebelum mulai bekerja.
"Good Morning everybody" sapa Iqbal penuh semangat saat memasuki ruangan Tania.
"Lah..Si Boy belum datang?". Tania menggeleng pelan, Iqbal pun duduk di kursi depan meja Tania.
"Nah itu dia" tunjuk Iqbal pada Nicko yang baru datang dan masih memakai jaket serta menenteng helm ditangannya.
"Nih bisi pada belum sarapan". Tania menyodorkan sebungkus makanan ke hadapan Nicko dan Iqbal. Mata mereka langsung berbinar, Tania memang selalu tahu kebiasaan para sahabatnya itu yang selalu melewatkan sarapan.
__ADS_1
"Aihhh lu mah emang pengertian, Kuk" ujar Nicko sambil mengunyah sepotong kue balok yang masih hangat.
"Ini beli sendiri? Emang ada tukang kue balok deket rumah kamu?"
"Hehehe biasa, A. Ada yang rajin kirim sarapan buat aku. Di deket rumah aku belum ada yang jualan kue balok, paling adanya yang jualan surabi oncom"
"Jadi penasaran deh, siapa sih yang care banget sama kamu" celoteh Iqbal.
"Pasti kalian pernah liat. Dia pernah ngisi acara di nikahan Mbak Sari waktu itu"
Iqbal tampak berpikir mengingat-ngingat orang-orang yang ada di atas panggung. Tapi ingatannya tidak spesifik sebab yang ia ingat hanya sebatas orang yang menghibur saja.
"Gak tau ah gue. Gak ngilik-ngilik(melihat secara detail) juga orang-orang yang ngisi acara disana" jawab Iqbal.
"Hmmh kalo gitu inget gak orang yang ngajak aku nyanyi pas kita lagi makan di rumah makan khas sunda?"
"Ohhhh yang itu?" jawab Nicko dengan suara yang keras mengagetkan Iqbal dan Tania.
"Aihhh cakep, cakep, sopan, baik, yaahhh cocok lah sama kamu" ucap Iqbal memicingkan matanya.
"Udah lama kalian deket?" tanya Nicko.
"Hah? Ke rumah?"
"Iya ke rumah. Kenapa sih, A? Kok kayak yang kaget gitu". Nicko terlihat gelagapan mendapat pertanyaan dari Tania.
"Oh, gak apa-apa" jawabnya kikuk.
"By the way aku tuh sebenernya mau tanya sesuatu sama kalian".
"Apaan?" tanya Iqbal.
"Aku tau sebenernya ada yang A Nicko sama kamu sembunyiin dari aku" todong Tania tanpa embel-embel basa basi.
"Perihal apa?" tanya Iqbal lagi.
"A Yudha". Tegas Tania dengan tatapan yang tidak beralih dari Nicko.
__ADS_1
"Belum ada info apapun" jawab Nicko santai dengan tidak memandang wajah Tania.
"A Nicko please banget yah. Aku tau A Nicko tau sesuatu soal A Yudha. Dan bukan hanya A Nicko, tapi Mbak Ani dan Pak Mul juga".
"Eh asli, Boy? Lu tau Yudha kemana? Kenapa lu gak ngasih tau gue?". Kali ini Iqbal yang dibuatnya bertanya-tanya dengan mengguncangkan badan Nicko.
Nicko masih terdiam. Sampai tak beberapa lama ia pun kembali angkat suara.
"Kalaupun kamu tau, apa yang akan kamu lakuin pertama kali?"
"Aku akan bertindak kalo aku tau dulu keadaan A Yudha. Percuma saja A Nicko kasih aku pertanyaan kayak gitu tapi A Nicko gak memberitahu aku apapun".
Hening...Nicko tertunduk, Iqbal melempar pandangannya bergantian ke arah Nicko maupun Tania. Tatapan Tania tajam mengarah pada Nicko.
"Kalian jangan kaget. Sebetulnya keluarga Yudha melarang aku ngasih tau ini sama siapapun termasuk kamu, Tan".
"Kenapa begitu? Apa ada yang serius menimpa A Yudha?"
"Ho'oh. Buruan kasih tau lah Boy. Sebetulnya kita ini siapa sih sampe kagak boleh tau keadaan si Yudha? Kek gak dianggap sobat nih gue"
"Awalnya gue juga mikir kek lu, Bal. Tapi ya mungkin mereka banyak pertimbangan juga ngelakuin ini. Terutama sama kamu, Tan..." Suara Nicko melemah ketika mengucapkan kata-kata yang terakhir.
"Kok gitu? Ayolah, A.....Please. Aku mohon dengan sangat sama A Nicko. Kasih tau aku kabar A Yudha yang sebenarnya sekarang" ucap Tania memelas. Hati Nicko merasa tidak tega melihat sorot mata Tania yang diliputi rasa khawatir.
"Oke. Gue akan kasih tau kalian sekarang. Tapi gue juga mohon dengan sangat kalian bisa kontrol perasaan kalian"
"Iya buruan apaan, Boy"
"Yudha....Sakit" ucapnya lirih.
Tania dan Iqbal menghempaskan badannya ke senderan kursi.
"Sakit apa? Kenapa musti di rahasiakan segala?"
"Leukimia...Dan sudah di stadium yang parah"
"What?? Leukimia? Hey..Tunggu...Tunggu apa gue gak salah denger?" tanya Iqbal terkejut sambil tersenyum getir membayangkan sahabatnya yang kini tengah berjuang melawan sakit.
__ADS_1
Tania tidak sanggup berkata-kata lagi. Kekhawatiran-kekhawatirannya kini menjelma menjadi kenyataan. Tapi tidak pernah terpikir bahwa Yudha akan sakit separah ini. Buliran air matanya menetes, menerobos pelupuk matanya dan membanjiri pipi putihnya.
Leukimia??