Cahaya Cinta Tania

Cahaya Cinta Tania
Rumah Yudha


__ADS_3

Mata Tania terlihat sembab dan sedikit bengkak. Bagaimana pun Tania sangat tidak menyukai kekerasan. Neng juga masih tidak mengerti apa yang terjadi. Setahu ia kakaknya tidak pernah mempunyai musuh atau sedang memiliki masalah dengan siapapun. Ia juga tahu bahwa kakaknya bukan anak gengster atau anak tongkrongan yang mengenal orang banyak.


Yudha itu tipikal anak rumahan, kalau berkumpul dengan temannya pastilah harus di rumah. Dan teman dekatnya pun hanya Nicko, Iqbal, dan Andra teman sekolah waktu di SMK.


Pikiran Neng tertuju pada Tania, sebab laki-laki yang memancing kakaknya untuk menghajar, mengenal Tania juga.


Laki-laki itu kenal sama Teh Tania, apa hubungan antara A Yudha, Teh Tania dan cowok itu? Kenapa juga A Yudha sampai marah besar saat cowok itu menghina Teh Tania? Apa jangan-jangan A Yudha.......


Sepanjang perjalanan pulang Neng terlarut dalam pikirannya. Kejadian tadi menyisakan teka-teki yang semu bagi anak seumuran Neng.


Sesampainya di rumah, ibunya Yudha sangat kaget dengan keadaan anaknya. Ia menangis melihat wajah lebam dengan luka di sudut bibir, hidung yang mengeluarkan darah, dan pelipis yang membiru. Kuat juga pukulan laki-laki macam Irwan. Yudha kira laki-laki macam Irwan bukan tipe yang suka menggunakan kekerasan tapi cuman modal penampilan dan kata-kata rayuan maut.


"Mah, Tania minta maaf ya karena Tania A Yudha jadi begini hiks hiks hiks" ucap Tania sambil berderai air mata dan Yudha malah mengusap lembut lengan Tania seolah menandakan 'aku tidak apa-apa'.


"Memangnya apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Mamah Yudha.


"Tania gak bisa cerita sekarang mah, Tania juga masih shock sama kejadian tadi" ujar Tania masih dengan deraian air mata bersalah.


"Udah mah, sekarang kita fokus ke Yudha aja, tadi aku udah bawa Yudha langsung ke dokter terus aku beli obat buat lukanya di apotek. Yang lebamnya di kompres dikit aja ya, biar gak terlalu bengkak" ucap A Dicky kakak ipar Yudha yang tadi menjemput.


"Iya mah, kasian juga Teh Tania dari tadi nangis terus. ini minum dulu Teh biar agak tenang" ucap Neng menimpali ucapan kakak iparnya dan mengasongkan secangkir teh manis hangat kepada Yudha dan Tania.


A Dicky kemudian menceritakan kejadian tadi saat situasi sudah mendingin dan Tania mulai tenang. Mamah Yudha tidak terima anaknya sampai dipukuli seperti ini. Awalnya Mamah Yudha akan memperkarakan masalah ini ke pihak kepolisian, tapi A Dicky melarangnya. Sebab, yang memukul terlebih dahulu adalah Yudha dan jika itu di laporkan ke polisi maka Yudha lah yang akan di beratkan ditambah tidak adanya bukti yang kuat atas ucapan-ucapan Irwan yang memancing kemarahan Yudha seperti tidak adanya rekaman video atau suara ketika Irwan berbicara.


Dalam rekaman cctv pun tidak terdengar dengan jelas. Dengan banyak pertimbangan akhirnya A Dicky tadi memutuskan untuk menyelesaikan masalah ini dengan cara kekeluargaan tanpa merundingkan terlebih dahulu dengan Bapak ataupun Mamah Yudha. Bapak Edy yang saat itu baru datang dari pengajian sangat terkejut melihat kondisi anaknya. Dengan pelan dan penuh pengertian A Dicky menjelasakan runtutan kejadian tadi kepada Bapak Edy ayahnya Yudha.


Pak Edy manggut-manggut tanda mengerti apa yang di ucapkan menantunya tersebut yang awalnya ia tersulut emosi akhirnya jadi melunak dengan penjelasan dari A Dicky.

__ADS_1


"Hmm keputusan yang kamu ambil udah bener, ****. Jangan sampai masalah ini memberatkan adik iparmu" ucapnya lalu kali ini tatapannya beralih kepada Tania.


"Tania, sebetulnya Bapak gak tau apa yang terjadi antara kamu, Yudha dan anak itu. Apa kalian terlibat cinta segitiga?" tanya Pak Edy serius.


"Hah? Tii....Tidak, Pak. Saya dan A Yudha tidak ada hubungan yang lebih dari sekedar adik dan kakak" ucap Tania


"Lalu kalau dengan anak itu?" tanya Pak Edy penuh selidik.


"Saya juga sudah tidak punya urusan dengan orang itu sejak lama, Pak. Dan saya juga tidak tau maksud dari orang itu apa sampai sebegitu beraninya menghina saya sehingga A Yudha terpancing emosinya"


"Hmmm Begitu ya.. Jadi disini Yudha bermaksud untuk melindungi kamu" ucap Pak Edy menunduk seperti memikirkan sesuatu dan hendak berbicara lagi tapi tidak jadi.


Yudha sudah terlelap sekitar lima belas menit yang lalu karena efek obat anti nyeri yang di berikan oleh dokter.


"Kamu mau menginap saja di sini atau mau pulang?" tanya Pak Edy lagi karena waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam.


"Baiklah kalau begitu biar nanti diantar Neng saja pulangnya pakai motor Yudha"


"Tidak usah, Pak. Saya sudah banyak merepotkan hari ini biar saya naik ojek online saja" ucap Tania.


"Sekalian aja saya antar kamu pulang, Tan. Saya juga mau pulang. Azni sudah nunggu saya dan nunggu kabar tentang Yudha juga terus itu bocil nanyain terus papanya" ucap A Dicky.


"Ya sudah kalau begitu kamu bareng sama Dicky saja ya. Khawatir mamah tuh anak perempuan pulang sendirian apalagi naik ojol. Oh Iya Dicky kapan kalian mau kesini? Mamah udah kangen sama cucu Mamah, Zelda"


"Insya Allah besok ya, Mah. Sekalian Azni mau nengokin Yudha dari tadi gelisah denger adiknya baku hantam sama orang" ujar A Dicky.


"Hmm baiklah" ucap Pak Edy.

__ADS_1


"Kalau begitu saya pamit pulang, Pak, Mah. Salam buat A Yudha kalau dia udah bangun. Nanti insya Allah saya kesini lagi" pamit Tania seraya mencium tangan kedua orang tua Yudha.


"Dicky juga ya, Pak, Mah" ucap A Dicky yang juga mencium tangan kedua mertuanya.


Di perjalanan A Dicky berusaha menghibur Tania yang dari tadi mukanya terlihat sangat shock apalagi tadi sempat di interogasi kecil kecilan oleh keluarga Yudha. Ia pun sangat jarang sekali melihat ekspresi mertuanya seserius itu.


"Tan, tau gak udah hampir empat tahun aku nikah sama Azni, baru kali ini aku lihat wajah Bapak seserius ini lagi. Serius pertama saat Bapak menanyai aku tentang keseriusan lanjutan hubungan sama Azni, lalu yang kedua saat ijab qobul depan penghulu"


"Terus yang ketiga pas barusan ya, A. Kalo aja A Yudha tadi gak nyusulin aku sama Neng mungkin kejadiannya gak bakal kayak gini. Aku jadi ngerasa bersalah banget sama A Yudha apalagi tadi Mamah kayak yang kecewa" tunduk Tania.


"Yang terjadi biar jadi pelajaran yang berharga. Disaat kayak gini kita gak bisa saling menyalahkan, apalagi menyalahkan diri sendiri" hibur A Dicky.


"Terus aku harus gimana?"


"Nanti saat perundingan antar keluarga Yudha dan keluarga anak itu, kamu dan Neng harus jadi saksi. Katakan yang sebenarnya terjadi biar gak memberatkan Yudha".


"Kalau itu pasti, A. Aku gak terima A Yudha jadi kayak gitu. Andai aja aku tadi punya tenaga kayak wonderwomen mungkin aku juga udah kasih bogem mentah sama mulut lemesnya si Irwan" ucap Tania menggebu.


"Hahaha ada-ada aja kamu. Gak sekalian aja atuh tadi berubah jadi power ranger pink"


"Hahah A Dicky mah bisa aja"


"Nah gitu atuh ketawa jangan tenggelam dalam emosi"


"Iya, A. Makasih udah nganterin sekaligus ngehibur aku ya. Salam buat Teh Azni dan Zelda ya" ucap Tania sambil turun dari mobil A Dicky karena tidak terasa sudah sampai depan gang rumah Tania.


"Sip okey. Nanti aku sampaikan ya" ucap A Dicky.

__ADS_1


"Nuhun, A. Hati-hati di jalan" ucap Tania melambaikan Tangan yang dibalas lambaian tangan juga oleh A Dicky.


__ADS_2