
Disaat hatinya sudah mantap untuk melupakan dan enggan untuk bertemu, Irwan malah tiba-tiba muncul dihadapan Tania. Hari ini mentalnya sedang diuji, indikator ia akan naik kelas mungkin. Bukan kelas sekolah melainkan kelas kehidupan. Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga, sudah sakit karena patah hati begitu sembuh kena hukuman ditempat kerja.
Tidak tanggung-tanggung lawannya kali ini barisan emak gengster. Sudahlah, apapun yang berhubungan dengan emak pasti ujungnya kita yang akan kalah, maha benar emak gengster dengan segala kejulidannya.
Sesampainya di rumah, Tania membersihkan dirinya lalu bersiap untuk sholat dan makan. Energinya hari ini terkuras habis saat bekerja.
"Teh, gimana tadi kerjanya lancar?" tanya Bapak.
"Ya gitu lah, Pak" lirih Tania.
"Kenapa sih Teh murung mulu di liatin beberapa hari ini" ucap Salwa.
"Kepo" cibir Tania.
"Yaelah orang tanya juga dibilang kepo. Tuh kepo mah burungnya Bah Diman tuh kalo aku lewat teh berisik pisan" protes Salwa.
"Oh burung beo ya? Kasian amat anak Bapak di kecengin sama burung beo hahahah" gelak Bapak.
"Iya tuh, Pak. Si Baim yang ajarin kalo aku lewat teh tuh burung beo manggil 'Salwa geulis, Salwa geulis'" ucap Salwa dengan pedenya.
"geuleuh ih kalo pulang ngaji teh diledekin mulu" Salwa bersungut mengadu pada Bapak.
"Nikmati masa-masa ini de, nanti kamu udah SMA mah bakalan kangen masa ini, sering ledek-ledekkan sama temen. Nanti mah udah gede pasti pada jaim" ucap Bapak.
"Iya, kalo udah segede teteh mah malah baper baperan adanya" ucap Tania.
"Iya makanya teteh juga jadi korban baper kan ya" ledek Salwa.
"Biarin itu tandanya teteh normal" ucap Tania menjulurkan lidahnya ke arah Salwa.
"Teh, teteh mah baik kan ya" rayu Salwa.
"Apaan ih ujug-ujug bilang gitu pasti ada maunya ini mah"
"Heheh bantuin aku ngerjain PR matematika ya" ucap Salwa memohon.
"Gak ah, tuh ada Bapak sama Ibu tanya aja sama mereka teteh mau istirahat. Lelah jiwa dan raga aku hari ini" bantah Tania.
"Huuuuuu awas ajaa kalo nyuruh aku gak akan mau" ucap Salwa sambil memanyunkan bibirnya.
.
"Bapak juga capek mau istirahat" ucap Bapak.
__ADS_1
"Ibu juga mau lanjutin setrikaan nih" ucap Ibu
"Yaaa Allah tolong Salwa Yaa Allah" teriak Salwa.
"Iya hayu atuh ngerjain sama Bapak. Kalo Bapak gak bisa nanti panggil Teh Dewi aja ya. Maklum lah Bapak kan udah kolot pelajaran matematika dulu sama sekarang konsepnya beda udah gak keotakin sama Bapak mah. Jadi sebisa Bapak aja dulu ya" ujar Bapak
"Iya ayo atuh Pak ke kamar Salwa biar fokus ngerjainnya" ajak Salwa dan diikuti oleh Bapak di belakangnya. Ibu membereskan piring sisa makan malam dibantu oleh Tania. Ia menawarkan diri untuk mencuci piring tapi akhirnya tidak jadi sebab terdengar ponsel miliknya berbunyi.
"Ibu lagi ..... Ibu lagiii" ucap Ibu menggelengkan kepalanya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Assalamu'alaikum" sapa Tania. Awalnya ia ragu untuk mengangkat telepon dari Irwan, tapi ia masih penasaran ada apa lagi Irwan menghubunginya.
"Wa'alaikumsalam. Lagi apa, Tan?" tanya Irwan.
"Lagi bantuin Ibu beres-beres. Ada apa?"
"Ohh... Aku ganggu gak?"
"Ada apa emang?"
"Aku ada di depan gang rumah kamu. Bisa ketemu sebentar?"
Di depan gang Irwan sudah menunggu terduduk diatas motor. Senyumnya mengembang begitu melihat Tania menghampirinya.
"Ada apa?" ketus Tania
"Gak usah jutek juga atuh biasa aja" ucap Irwan.
"Moodku lagi jelek" ucap Tania masih dengan nada ketus.
"Childish banget kamu tuh" ucap Irwan sambil tersenyum miring.
"Biarin. Lebih baik keliatan childish daripada ngaku dewasa tapi childishnya lebih lebih"
"Oh ceritanya kamu nyindir aku nih?"
"Siapa yang nyindir. Situ nya aja kali yang KEGEERAN"
"Kamu kenapa sih, Tan? Kok berubah gitu?"
"Tanya aja sama diri A Irwan sendiri. Cepetan ada apa kesini aku mau istirahat"
__ADS_1
"Ini aku mau ngasih ini buat kamu" ucap Irwan sambil menyodorkan sebuah kotak kehadapan Tania.
"Ini apaan?" tanya Tania.
"Kamu buka aja. Semoga kamu suka ya"
Tania mengambil kotak hadiah dari Irwan dan membukanya saat itu juga. Irwan yang terus memperhatikan tersenyum kala Tania membuka hadiah. Tania mengerutkan dahinya lalu mengambil sebuah bros kecil bermata ungu berbentuk love. Ia menatap Irwan, tersirat sebuah tanda tanya di mata Tania yang sontak saja Irwan angkat bicara.
"Ini hadiah kecil buat kamu. Aku ngerasa bersalah sama kamu pas kamu sakit. Aku minta maaf ya selama ini kurang peka sama kamu" kali ini ucapan Irwan terdengar tulus di telinga Tania. Tania kehilangan kata-kata, yang awalnya ia ketus terhadap Irwan, perlahan melembut lagi.
Apa ini? Dia beneran tau kelemahan aku tuh perhatian dari dia, duhh sampe speechless gini aku. Tapi please Tania kali ini kamu harus konsisten dengan keputusan kamu. Kamu harus bisa melupakan perasaan kamu sama dia. Mulai sekarang anggap aja perhatiannya ini hanya sekedar buat teman, gak lebih. Oke anggap dia teman biasa. Toh selama ini dia tidak mengatakan apapun tentang hubungan kita berarti memang sudah sejatinya menjadi teman. Tania bergelut dengan hatinya sendiri.
"Hey kenapa melamun?" Irwan melambaikan tangannya didepan muka Tania sehingga membuat Tania tersadar dari lamunannya.
"Ah iya" jawabnya kaget.
"Kenapa? Gak suka ya?" tanya Irwan.
"Oh suka. Lain kali gak perlu sampe malam-malam kesini kalo sekedar ngasih beginian cukup titipin aja sama Wulan" jelas Tania.
"Pede banget sih kamu" ucap Irwan sambil mengacak-acak jilbab Tania. "Siapa juga yang mau ngasih lagi hadiah buat kamu" cibirnya.
"Yaa kali aja. Ya udah cuman ngasih ini doank kan. Makasih" jawab Tania dingin sambil membalikkan badannya.
"Eh tunggu kok gitu sih?"
"Gitu apanya? A Irwan kan cuman mau ngasihin ini aja kan sebagai rasa bersalah sama aku gak ada yang lain"
"Emmmm.... Masalah waktu dipernikahan Sari aku minta maaf ya" ucapnya ragu untuk melanjutkan kata-katanya. Tania hanya diam memutar matanya malas tanpa membalas ucapan Irwan. Setidaknya ia ingin sedikit mendengar penjelasan Irwan.
"Aku lupa soal janji mau datang ke nikahan Sari, terus aku waktu itu diajak Franda buat nganter dia ke undangan dan aku gak tau kalo undangan yang Franda maksud adalah nikahannya Sari. Belakangan aku tau kalo Aris itu temennya Franda".
Oh jadi nama cewek itu Franda. Pantes aja dia mau diajak keundangan dibanding menuhin janji dia ke aku. Beda jauh sama aku. Franda cantik langsing seksi, aku mah apa atuh. Lirih Tania dalam hati.
"Aku bukan bermaksud bikin kamu kecewa tapi beneran aku gak tau dan tiba-tiba aja kamu jauhin aku, terus pas jemput kamu ke pabrik aku gak tau kalo kamu sakit dan pulang setengah hari. Semua temen kamu pada ketus sama aku. Ya, kalo di pikir-pikir respon mereka wajar sih kayak gitu liat temennya yang secara gak sengaja aku kecewain"
"Kadang aku iri sama kamu, temen-temen kamu segitu sayangnya sama kamu dan gak mau liat kamu sakit" ucapnya sambil tersenyum miring. Tania masih diam dan mendengarkan perkataan Irwan.
"Temen aku yang paling peduli ya cuman si Aldi aja" tambahnya lagi sambil memutar-mutar kunci motor di jarinya.
"Ya udah ini udah malam, kamu masuk gih, istirahat. Makasih ya udah mau nemuin aku" ucapnya.
"Ya, permisi" ucap Tania. Irwan masih terpaku ditempatnya sampai Tania menghilang dari penglihatannya. Ia merasa lega akhirnya ia punya kesempatan untuk mengungkapkan yang mengganjal di hatinya.
__ADS_1