Cahaya Cinta Tania

Cahaya Cinta Tania
Aku titipkan dia....


__ADS_3

Tania berjalan menyusuri lorong rumah sakit mengikuti langkah Akbar di depannya. Badannya gemetar, apakah ia akan kuat melihat keadaan Yudha yang sedang terbaring kesakitan?


Ruang Anggrek, kelas dua. Tepat di lantai tiga disebuah rumah sakit besar di kota Bandung.


Tepat didepan pintu kamar, Tania berusaha mengatur nafasnya yang memburu, berusaha menyusun kata-kata yang akan membuat Yudha agar semangat untuk sembuh. Tapi, ia ragu apakah bisa menyampaikan segala kata yang telah di rancangnya. Sebab, pasti didalam ada keluarga Yudha yang mungkin tidak mengharapkan kedatangan Tania.


Akbar memegang bahu Tania seolah meyakinkan Tania bahwa semuanya akan baik-baik saja. Ada semburat kekhawatiran di matanya sebelum akhirnya Akbar membuka pintu dan mengucapkan salam.


Melihat setiap bed yang ada di ruangan itu. Ada 2 bed disana, karena Akbar hanya sekilas melihat Yudha waktu itu, ia mempersilahkan Tania untuk maju kedepannya dan melihat Yudha ada di bed mana.


Setelah yakin, Tania berhenti di dekat salah satu bed, terlihat selang infus tertancap di salah satu tangan Yudha serta infusan darah ditangan yang satunya lagi serta selang oksigen di hidungnya. Betapa menyedihkannya keadaan Yudha. Yudha yang biasanya terlihat kuat kini harus terbaring lemah melawan penyakitnya.


"Assalamualaikum" ucapnya pelan. Mamah Yudha yang sedang duduk disamping bed sambil menundukkan kepalanya disamping Yudha menoleh keasal suara.


Matanya terlihat lelah karena kurang tidur. Dengan tatapan nanar ia menyunggingkan senyuman miring kepada Tania dan menjawab salam dengan nada ketus.


"Mah, gimana keadaan A Yudha sekarang?" Mamah Yudha menoleh ke arah anaknya yang sedang tertidur setelah diberi obat oleh Dokter jaga.


"Seperti yang kamu lihat" tanpa menoleh kepada Tania setiap kalimat yang Mamah Yudha bicarakan masih terdengar ketus. Sepertinya malas untuk berbucafa dengan Tania.


"Sejak kapan?" Tanya Tania dengan nada gemetar menahan tangis. " Sejak kapan A Yudha sakit?" Suaranya tercekat. Mamah Yudha memandang Akbar kali ini lalu tersenyum miring tanda tak suka.


"Kamu tau dari mana Yudha sakit?" Tanpa menjawab pertanyaan Tania, Mamah Yudha malah balik bertanya.


"A Nicko--Dia yang ngasih tau aku"


"Hmm gak bisa di percaya emang tuh anak, udah dibilang jangan kasih tau kamu malah ngeyel."


"Kenapa mah?"


Belum sempat Tania mendapat jawaban dari Mamah Yudha, terlihat Yudha bangun dari Yudha.


"Euh...Mah, mau minum" ucap Yudha lirih.


Dengan sigap Mamah Yudha meraih air mineral di atas nakas lalu memberikannya kepada Yudha. Perlahan Mamah membantu Yudha untuk minum dengan bantuan sedotan. Tania hanya bisa memandangnya dengan prihatin.

__ADS_1


"A....." Panggil Tania lirih saat Yudha telah menyelesaikan minumnya.


Yudha mengalihkan pandangannya kearah Tania dan berusaha untuk tersenyum walau keadaannya lemah.


"Tan....kamu kok bisa ada disini?" Ucapnya lemah dengan nafas tersengal-sengal.


"Aku khawatir sama A Yudha" Tania sudah tidak bisa menahan lagi tangisnya sambil mengusap-usap lengan Yudha dengan lembut.


Yudha tersenyum. "Aku baik-baik aja kok".


"A Yudha seneng boong ya. Aku tau A Yudha gak baik-baik aja" ujar Tania dengan suara tersedu karena menangis.


"Kamu tau dari mana aku disini?"


"Tau dari A Nicko. Kenapa A Yudha gak ngasih tau aku kalo..." Ucapan Tania terhenti karena mamah Yudha memotong pembicaraan.


"Tan, bisa ikut mamah sebentar?" Tanya mamah Yudha sembari beranjak keluar.


Tania menurut lalu mengikuti Mamah Yudha keluar ruangan. Tinggalah Akbar dan Yudha diruangan itu.


Akbar menghampiri Yudha, lalu duduk disamping kasur.


"Lupa-lupa ingat. Udah lama kalian dekat?" Tanya Yudha pelan.


"Lumayan, A."


Keduanya tersenyum.


"Aku titip Tania ya. Waktuku udah gak lama lagi. Aku gak yakin nitipin Tania sama si Nicko atau si Iqbal."


"Kenapa Aa percaya sama saya?"


"Ya karena aku percaya kamu bisa jaga Tania. Aku pesan, kalo kamu serius sama Tania jaga dia baik hati ataupun segalanya. Jangan sakiti dia apalagi buat dia menangis."


"Aku gak bisa janji, A. Yang namanya manusia bisa ingkar. Tapi saya akan berusaha semampu saya menjalankan amanah Aa".

__ADS_1


Yudha berusaha meraih lengan Akbar. Tangannya melambai-lambai. Menyadari itu Akbar meraih lengan Yudha lalu menggenggamnya dan mengusapnya lembut.


"Kalau begitu aku udah gak punya beban lagi."


"Saya tau Aa sangat amat menyayangi Tania. Kenapa gak Aa sendiri yang melindungi Tania?"


"Karena ada hal yang membuat aku gak bisa memilikinya. Tugas aku akan segera berakhir tapi rasa sayang aku gak akan pernah berakhir buat Tania".


"Saya justru malu, A. Karena kasih sayang Aa begitu tulus dan besar buat Tania."


\=\=\=\=\=\=


Di sisi lain taman rumah sakit.


Tania duduk dibangku taman dengan Mamah Yudha disebelahnya. Pandangannya lurus kedepan.


"Tan, maafkan Mamah ya."


"Maaf buat apa,Mah?"


"Buat kata-kata Mamah yang mungkin menyakiti kamu".


"Kata-kata mana yang Mamah maksud?"


"Sebetulnya mamah yang menyuruh Yudha menjauhi kamu, merahasiakan sakit Yudha dari siapapun walau pada akhirnya Nicko berhasil mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi." Kali ini Mamah Yudha bicara terang-terangan dengan suara gemetar menahan tangis.


"Yudha juga tidak tahu dia sakit apa. Kami sekeluarga sepakat merahasiakannya". Ucap Mamah Yudha. Padahal sebenarnya Yudha sudah tahu ia sakit apa ketika dokter bicara dengan ayahnya di luar ruangan kala itu.


"Rasa takut kami kehilangan Yudha begitu besar sehingga kami menjadikan kamu sebagai kambing hitam. Mamah tau Yudha itu sayang sama kamu lebih dari sekedar kakak tapi kamu gak pernah menyadari itu. Dari situ Mamah marah, Mamah gak rela melihat anak Mamah sakit hatinya begitu tau kalo rasanya gak akan terbalas. Apalagi ada kejadian dia sampai babak belur demi melindungi kamu. Rasa marah Mamah semakin membuncah sama kamu. Mamah putuskan untuk memaksa Yudha agar ia mau menjauhi kamu demi kebaikan bersama". Air mata Mamah Yudha sudah tak terbendung lagi. Bahunya bergetar seiring isak tangis yang keluar.


"Apa Mamah pikir dengan menjauhkan A Yudha sama aku akan membuat A Yudha semakin baik?". Mamah Yudha menggeleng pelan. Menyusut air mata dan hidungnya.


"Mamah gak tau perasaan Yudha sebesar itu sama kamu".


"Dan yang aku sesalkan kenapa A Yudha gak pernah bilang kalau ia punya rasa yang lebih buat aku". Tania menunduk, air matanya tidak bisa terbendung lagi. Bahunya bergetar.

__ADS_1


"Itulah bodohnya kamu. Harusnya sebagai perempuan hati kamu lebih peka".


"Iya Mamah bener. Rasa cinta itu datang dan pergi tanpa dipaksa mah. Cinta itu hadir dan tumbuh dengan sendirinya. Dan sampai detik ini rasaku buat A Yudha masih abu-abu. Karena pada awalnya memang kita berjanji dan mengikrarkan akan menjadi kakak dan adik tidak lebih dari itu".


__ADS_2