
Baik Nicko, Tania, maupun Iqbal hari itu tidak jadi menjenguk Yudha. Masalah pekerjaan menjadi alasan utama yang membuat mereka tidak jadi pergi. Pukul tujuh malam, mereka baru bisa keluar dari pabrik. Angkutan karyawan sudah tidak beroprasi pada jam segitu, terpaksa Tania harus menaiki ojek online untuk pulang ke rumah.
Begitu sampai di rumah, Tania membuka ponselnya dan memberikan kabar kepada Neng bahwa ia tidak jadi menengok Yudha.
Neng
It's oke, Teh. Lagian di rumah lagi ada Ua yang dari Majalengka.
Hufhhh..... Tania menghempaskan badannya di atas kasur. Badannya benar-benar terasa remuk. Agendanya hari ini cukup ambyar. Ditinggal cuti oleh Mbak Ani, ia masih belum bisa memanage waktu dan pekerjaannya dengan baik sehingga selalu saja keteteran.
Kalau saja Bapak tidak mengetuk pintu mengingatkan Tania untuk sekadar bertanya sudah makan atau belum, rasanya ia ingin langsung saja terlelap. Tapi ia juga ingat belum mandi dan sholat isya.
Masih dengan memakai mukena atasan, Tania menyenderkan tubuhnya dibawah ranjang berniat untuk sekedar dzikir. Baru beberapa dzikir yang ia lantunkan, matanya sudah tidak bisa diajak kompromi lagi. Ia benar-benar terlelap dalam posisi duduk dan entah kapan badannya berubah posisi jadi berbaring.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Pukul dua pagi, Tania terperanjat bangun. Ia baru sadar kalau ia tertidur saat sedang berdzikir. Ah, mungkin itu karena efek lelah. Ia mencari ponselnya bermaksud untuk menchargernya.
Ahhh ketemu. Ternyata di bawah bantal. Wuiiidihhhh banyak amat panggilan tidak terjawab dari A Nicko dan Neng. Eh tapi ada apa ya? Eh tunggu, tunggu. Pesan masuk juga banyak amat inih. Tania berkata dalam hatinya.
Nicko
P
P
P
P
P
P
P
__ADS_1
Tanikukkkkk ****** amat sih lu. Ditelepon gak bisa, di chat juga gak jawab. ðŸ˜
Penting !!
Neng
Tetehhhhhhhh ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
A Yudhaaaaaaa.........
Perasaan Tania mendadak tidak enak. Secepat kilat ia langsung menelepon Neng. Lama tidak ada jawaban. Lalu ia menghubungi Nicko.
Tutt...... Panggilan tersambung. Pada nada kedua dengan cepat langsung diangkat.
"A...Assalamm.." Ucapan Tania terpotong.
"LU KEMANA AJA HAH? KENAPA BARU BISA DI HUBUNGI SEKARANG?" Suara Nicko meninggi tapi ada nada gemetar terdengar seperti menahan sesuatu.
"Kenapa, A? Ada apa?" Tanya Tania kebingungan.
"A yudha kenapa? Ada apa?"
"Yudha...hiksss hiksss hikss"
"Iyaaa A Yudha kenapa?" Tiba-tiba saja air mata menetes di pipi Tania, meski ia belum tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Yudha, Tan. Yudha udah gak ada..." Kali ini suara tangisan Nicko pecah.
"Jangan bercanda, A. Gak lucu."
"Ngapain juga gue bikin gurauan tentang kematian temen? Kagak ngotak." Bentaknya.
"Kenapa bisa? Bukannya A Yudha udah baikan dan udah pulang ke rumah kan?" Masih dalam keadaan antara percaya dan tidak, tapi air matanya mengucur semakin deras.
"Gue juga gak tau, Tan. Ini gue lagi di rumahnya. Si Iqbal juga lagi on the way kesini."
__ADS_1
"Innalillahi wainna ilaihi roji'un. A Yudha...... Kenapa secepat ini A Yudha ninggalin aku...huwaaaaa......"
Tangis Tania pecah. Pikirannya rancu dan sudah tidak bisa memikirkan apa-apa. Bibirnya pun kelu. Ada rasa nyeri yang merasuk kedalam hatinya kini. Tangisnya getir. Membangunkan seisi rumah. Bapak, Ibu, dan Salwa menghampiri Tania di kamarnya.
"Teteh... Ada apa?" Tanya Bapak. Ibu dan Salwa langsung menghambur memeluk Tania. Melihat ponsel Tania yang masih tersambung panggilan dengan Nicko, Bapak pun mengambilnya dan bertanya kepada Nicko.
"Hallo, A Koko ada apa ini? Kenapa Tania nangis?"
"Hallo, Pak. Yudha, Pak. Yudha.."
"Yudha kenapa?"
"Yudha meninggal, Pak."
"Innalillahi Wainna ilaihi roji'un. Terimakasih sudah memberi kabar, Ko. Nanti kami kesana. Kami harus menenangkan Tania dulu, dia nangis histeris. Shock. Kalian yang tabah, ya. Yudha orang baik. Insya Allah Husnul Khotimah."
"Baik, Pak. Terimakasih. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Koko adalah panggilan khusus Bapak untuk Nicko. Melihat anaknya merasa terpukul seperti itu, Bapak mengelus puncak kepala anaknya. Ibu dan Salwa masih terus berusaha menenangkan Tania dengan tidak melepaskan pelukan dan usapan lembut di punggungnya.
"A Yudha, Bu..... A Yudha.... Kenapa pergi ninggalin aku. Mana perginya gak akan kembali....huwaaaaaaaaaa." Tania terus saja histeris sambil menceracau tidak karuan. Sampai pada akhirnya semuanya terasa gelap, ia tidak bisa lagi memandang sekitar. Tania pingsan.
Salwa panik melihat keadaan kakaknya yang demikian. Ia pun tak kuasa menahan tangisnya. Bagaimana pun ia sangat mengenal dekat sosok Yudha. Dan apa arti Yudha bagi Tania, ia pun tahu. Siapapun tidak akan pernah sanggup untuk merasa kehilangan apalagi jika jaraknya itu adalah kematian.
Setelah sadar, Tania mengedarkan pandangannya dengan tatapan nanar, lalu kembali menatap netra ibunya.
"Ibu.... A Yudha... A Yudha .. Hiksss... Hikssss".
Ibu mengangguk dan kembali memeluk anaknya. "Teteh.... Dengar ibu, segalanya sudah tertuliskan hari, jam, menit, bahkan detiknya. Kita tidak bisa melawan dan menolak apa yang sudah digariskan. Jodoh, rejeki, maut, musibah, kita semua tidak ada yang tau. Yang di atas punya rencana yang lebih indah. Mungkin dengan dipanggilnya Yudha, dia gak akan ngerasa sakit yang lebih lama lagi. Kita semua sayang Yudha, tapi Dia lebih sayang lagi, Nak." Jelas Ibu lembut sembari terus mengelus kepala Tania.
Tangis Tania yang semula keras, mulai mereda. Ucapan Ibu memang benar. Tania mengusap mukanya dengan kasar, masih dengan nafas sesenggukan. "Pak, Bu, Ade, hayu kita ngaji sama-sama buat mendo'akan A Yudha sekarang." Pinta Tania, yang di setujui oleh semuanya.
"Selepas subuh nanti kita langsung kesana." Ucap Bapak.
__ADS_1