Cahaya Cinta Tania

Cahaya Cinta Tania
Menjemput


__ADS_3

Kenal dan dekat dengan Tania sedikitnya merubah dunia Irwan. Dua bulan berkenalan dengannya membuat Irwan merasa cukup dengan satu wanita. Irwan tidak lagi dekat dengan wanita manapun selain Tania, bahkan banyak yang mendekat ia menolak. Hmmmmmm apa Irwan benar berubah?


Tidak dipungkiri dengan semakin intens mereka berkomunikasi ada sedikit benih rasa yang tumbuh di hati Tania. Mula dari cerita Wulan dan Aldi yang mengatakan bahwa Irwan kini berubah. Ia tak lagi jalan dengan bergonta ganti wanita. Akun sosial medianya pun sudah tidak aktif dari dua bulan yang lalu.


Namun entah apa yang menghalangi Irwan untuk memperjelas hubungannya dengan Tania. Lidahnya masih kelu untuk meminta Tania menjadi kekasihnya. Begitupun Tania, ia tidak pernah meminta kejelasan hubungan antara mereka. Itu ia lakukan karena masih ada keraguan untuk menyerahkan rasanya kepada Irwan.


Kini, pulang dan pergi bekerja Tania akan diantar jemput oleh Irwan. Awalnya Tania tidak setuju karena menurutnya takut terlalu merepotkan Irwan, tapi Irwan keukeuh ingin melakukannya. Seperti hari ini, Irwan sudah stand by didepan gerbang pabrik Tania.


"Aku sudah ada di depan pabrik". Irwan mengirimkan pesan kepada Tania. Lama pesan belum terbaca akhirnya ia memutuskan menelepon.


Drrrttttt ....... drrrtttt.. Ponsel Tania bergetar.


"Assalamualaikum A?" ucap Tania.


"Aku udah ada di gerbang depan" ucap Irwan to the point tanpa menjawab salam karena sudah lama menunggu. Karyawan yang lain sudah bubar tapi ia belum melihat batang hidung gadis yang ditunggunya sampai bubaran karyawan itu lengang.


"Aduh A maaf tadi aku gak ngabarin. A Irwan pulang duluan aja. Aku masih ada kerjaan harus diselesaikan sekarang juga"


"Pantesan aku kirim pesan kamu gak baca"


"Oh A Irwan kirim pesan? Maaf aku belum buka hp soalnya ini kerjaannya urgent jadi gak bisa pulang bareng A Irwan"


"Memangnya kamu pulang jam berapa? terus nanti pulang sama siapa?" Tanya Irwan.


"Gak tau seberesnya kerjaan kali A. Gampang pulang mah aku bisa nebeng A Yudha"


"Sama Yudha juga?"


"Enggak. Harusnya A Yudha udah pulang tapi dia lagi temenin aku jadi nanti aku pulang ama dia"


"Oh Ya sudah" ucap Irwan mematikan panggilan tanpa mengucapkan salam.


Waalaikumsalam, bisik Tania sambil memasukkan ponselnya kedalam tas.


"Siapa?" tanya Yudha.


"Biasa. A Irwan" ucap Tania yang dibalas anggukan dari Yudha.


Pukul delapan malam Tania baru bisa menyelesaikan pekerjaannya. Ternyata menyusun benang untuk produksi yang baru memakan waktu yang banyak. Mbak Ani juga sibuk menyusun kartu produksi yang akan dikerjakan besok. Pak Mul mempersiapkan program bersama Maela.

__ADS_1


Besok pabrik akan ada kunjungan industri oleh para pemegang saham, Pak Robert pemilik pabrik ingin besok terlihat sempurna, area kerja harus tertata rapih dan bersih. Makanya hari ini Tania, Mbak Ani, Maela dan Pak Mul kerja lembur.


Tok tok tok....


Mbak Ani dan Tania mengetuk pintu ruangan Pak Mul. Clek... Pintu di buka oleh Maela.


"Masuk Mbak, Tan" ucap Maela yang kemudian diikuti Mbak Ani dan Tania untuk masuk keruangan.


"Pak, saya sama Tania mau pamit pulang. Kerjaan kami udah selesai Pak" ucap Mbak Ani. Terlihat Pak Mul masih sibuk didepan layar komputernya, begitupun Maela.


"Oh iya, An. Kalian boleh pulang sekarang. Terimakasih atas bantuannya ya" ucap Pak Mul yang tidak mengalihkan pandangannya dari layar komputer.


"Iya Pak, sama-sama. Itu sudah tugas kami Pak" jawab Mbak Ani. Mereka pun berjalan keluar ruangan.


"Ehh Tan, tolong teleponin Kang Harits ya suruh jemput aku setengah jam lagi. Batre hp aku habis. Maaf banget ya Tan" pinta Maela sambil menyusul Tania yang sudah berada di luar ruangan.


"Oke"


Tania langsung menelepon Harits pacar Maela sambil berjalan menuju parkiran sebab Yudha sudah menunggunya. Tania kenal dengan Harits sebab Harits adalah kakak kelas Tania waktu SMA jadi Maela tidak sungkan meminta tolong pada Tania untuk menelepon kekasihnya tersebut. Tania adalah gadis yang supel, ia mudah akrab dengan siapa saja. Malam ini Mbak Ani dijemput suaminya, biasanya jika pulang di jam normal, ia suka naik jemputan karyawan.


Tut.... Panggilan berakhir.


"Itu Kang Harits, Maela minta jemput setengah jam lagi katanya hpnya habis batre jadi minta tolong sama aku buat teleponin Kang Harits" jawab Tania.


"Oh.. Kamu suka nyimpen kontak pacar temen kamu?" tanya Yudha sambil menstarter motornya.


"Gak juga ah. Ngapain nyimpen nomor pacar temen. Nanti bisi ada yang salah sangka"


"Itu kamu bisa nelepon Harits"


"Oh itu kebetulan aku satu kontak sama Kang Harits, kan dia satu almamater sama aku. Terus waktu aku ekskul dia yang jadi kakak pembimbing aku jadi aku punya kontaknya" ucap Tania.


"Yaudah ayo naik udah malem"


Motor melaju perlahan menuju depan gerbang depan pabrik. Saat melewati pos satpam, Yudha ngobrol sebentar dengan Pak Udin satpam pabrik yang kebagian tugas jaga malam. Begitu motor keluar gerbang, Yudha menghentikan motornya dan menyuruh Tania turun.


"Kamu, turun dulu" suruh Yudha.


"Eh kenapa di suruh turun?" tanya Tania bingung.

__ADS_1


"Tuh lihat dia masih nungguin kamu ternyata. Kamu pulang aja sama dia. Liat mukanya udah kusut gitu" ucap Yudha sambil menunjuk dengaj dagunya. Tania menoleh ke arah yang ditunjukkan oleh Yudha.


Ya ampuuuunn....A Irwan masih nunggu? batin Tania kaget membelalakkan matanya. Akhirnya Tania memutuskan untuk menghampiri Irwan dan menyuruh Yudha untuk pulang duluan.


"Kirain aku A Irwan udah pulang. 3 jam nungguin itu muka penuh minyak semua" goda Tania.


"Siapa yang nungguin kamu?" tanyanya sinis.


"Oh bukan nungguin aku yah. Duh kepedean nih aku, mana A Yudha udah aku suruh pulang duluan lagi. Ahh naik ojek online aja" ucap Tania sambil mengeluarkan ponsel didalam tasnya.


"Naik ojek online, bahaya udah malem" ucap Irwan masih dengan nada yang sinis.


"Gak papa masih belum terlalu malem baru jam delapan ini"


"Masukin hp kamu. Gak usah naik ojek online, ayo naik'


"Eh tadi katanya bukan nungguin aku" ucap Tania tersenyum menaiki motor Irwan dan memakai helm yang disodorkan Irwan.


"Kalo bukan nungguin kamu aku nungguin siapa lagi coba. Yang aku kenal di pabrik ini kan cuman kamu sama si Nicko itu" kata Irwan.


Motor melaju dengan kecepatan sedang.


"Kenapa kamu barusan aku telepon kok sambungannya sibuk terus?"


"Apa A?" suara Irwan tidak terdengar di atas motor yang sedang melaju. Tania mencondongkan kepalanya kedepan agar suara Irwan terdengar. Irwan berbalik ke arah yang sama sehingga jarak wajah Tania dan Irwan sangat dekat. Irwan terkejut dan langsung memalingkan muka ke arah depan menjaga kestabilan.


"Wajah kamu jangan terlalu deket juga atuh. Bikin gagal fokus aja. Kalo aku khilaf nanti gimana coba kelepasan cium kamu" ucap Irwan


"Ishhhhh mulaiii otak mesumnya keluar" Tania memukul pundak Irwan. "Kan tadi suara A Irwan gak kedenger makanya kepala aku maju dikit. Lagian tadi bilang apa sih gak kedengeran berisik"


"Tadi aku telepon kamu kenapa sambungannya sibuk terus?"


"Oh tadi lagi nelepon temen"


Deru kendaraan di jalan raya perlahan senyap ketika motor memasuki area tinggal Tania. Tania mengucapkan terima kasih karena sudah di antar pulang oleh Irwan. Tidak tega juga melihat Irwan menunggunya 3 jam sampai terlihat kusam begitu. Ia pun pamit masuk rumah.


"Makasih ya A. Pulangnya jangan lupa bersih-bersih dulu terus sholat. Langsung istirahat ya itu mukanya keliatan capek gitu" ucap Tania.


"Iya sama-sama. Kamu juga ya"

__ADS_1


__ADS_2