
Setelah merasa sehat akhirnya Tania memutuskan masuk kerja kembali. Lima hari tidak masuk kerja ternyata banyak hal yang terlewat, mulai dari kesalahan Tania salah memasang benang, gosip anak baru, renggangnya hubungan Nicko dan Resya, serta kehamilan Mbak Sari. Begitu masuk Tania sudah disuguhi oleh muka masam Mbak Ani. Rupanya ia masih dongkol dengan Tania akibat insiden salah benang.
"Udah sehat kamu?" tanya Mbak Ani. Walaupun mukanya masam tetap saja naluri kemanusiaannya jalan.
"Alhamdulillah Mbak" ucap Tania.
"Mbak aku denger cerita dari A Nicko sama Iqbal ada masalah ya gara-gara aku" dengan berhati-hati Tania memulai percakapan.
"Hmmmmmhhhhh sampe juga ketelinga kamu. Makanya lain kali kamu harus lebih teliti kalo mau pasang benang style baru" tegas Mbak Ani.
"Iya Mbak maaf waktu itu kan kondisi aku lagi gak baik jadi aku gak fokus" bela Tania.
"Yasudah aku mau keliling dulu" kemudian Mbak Ani meninggalkan ruangan Tania dan meninggalkan Tania sendiri dengan perasaan was was. Mbak Sofie yang melihat Tania melamun langsung menghampirinya.
"Masih pagi neng jangan melamun. Jangan berkepanjangan kalo patah hati. Dunia gak selebar daun kelor" goda Mbak Sofie.
"Ish..... Mbak Sofie apaan sih bahas itu lagi. Orang aku mau move on juga malah diingetin lagi" jawab Tania dengan malas. Ia merasa sudah jengah jika pembicaraan mengarah tentang Irwan.
"Ehhehehe maaf deh maaf kirain masih menyimpan rasa" kekeh Mbak Sofie.
"Mbak Sari mana, Mbak? Oh iya apa bener Mbak Sari lagi hamil?" tanya Tania penasaran.
"Iya, sekarang dia ijin gak masuk. Mabok berat" ucap Mbak Sofie. "Si Aris hebat tokcer gak dikasih kendor si Sari" kekehnya lagi.
"Ish si Mbak alhamdulillah berarti Mbak Sari dikasih rejekinya cepet. Terus Mbak Sofie kapan atuh mau nyusul?" ledek Tania.
"Kamu itu sama orang lebih tua gak sopan ya. Orang kita senasib kok belum datang hilal jodohnya" ucap Mbak Sari ngotot.
"Hahahhaha iya iya hayu ah kita mulai kerja. Badan aku mesti digerakin udah di charge selama 5 hari"
"Semangat amat. Mentang-mentang baterai sudah full" Mbak Sari meninggalkan ruangan Tania. Sebetulnya saat bel masuk tadi hati Tania tidak karuan memikirkan masalah pemasangan benang yang keliru.
__ADS_1
"Tan, kamu di panggil ke ruangan Bu Dina sekarang" titah Mbak Ani. Jantung Tania makin berdisko ria namun mimik wajah nya harus tetap terlihat tenang.
"Iya Mbak" jawab Tania sembari berjalan menuju ruangan Bu Dina.
Tokkk....Tokkk....Tokk...
"Masuk" terdengar jelas suara khas dari Bu Dina.
"Silahkan duduk" perintah Bu Dina begitu melihat Tania yang datang.
"Langsung saja ya, kamu tahu kan kenapa kamu bisa dipanggil kesini?" tanya Bu Dina yang dijawab anggukan oleh Tania.
"Beberapa hari yang lalu kamu salah memasang susunan benang, dan itu fatal sekali akibatnya. Untung segera bisa dihentikan kalau tidak maka pabrik akan rugi besar. Meskipun baru satu lusin produksi dan lebih beberapa pieces. Maka dari itu sesuai peraturan yang sudah tertulis maka kamu wajib dikenakan sanksi berupa surat peringatan. Harusnya surat peringatan ini dikeluarkan saat kejadian namun dikarenakan kamu sakit maka hari ini baru keluar" jelas Bu Dina dengan tegas. Tania hanya diam menggenggam tangannya sendiri yang sudah basah oleh keringat
Ruangan Bu Dina termasuk nyaman dilengkapi dengan AC, tapi saat itu bagi Tania ruangannya terasa panas. Baru saja sembuh harus langsung kena teguran mau bagaimana lagi ini konsekuensi yang harus dijalankan. Tidak pernah terpikirkan olehnya jika kebimbangan hatinya berpengaruh besar terhadap pekerjaannya. Dalam situasi tegang, Pak Mul datang dan malah menambah kegusaran hati Tania. Bu Dina tampak berdiskusi bersama Pak Mul sebelum akhirnya Tania harus menandatangani surat peringatan.
"Ini silahkan ditandatangani dulu" ucap Bu Dina.
"Apa kamu sudah sehat?" tanya Pak Mul kepada Tania yang baru saja selesai menandatangani surat peringatan.
"Hmmmm....Produksi hasil kesalahan kamu, harus kamu lorot menjadi benang kembali dan itu harus selesai dalam dua hari ini. Untuk pekerjaan kamu biar dihandle sama Ani" ucap Pak Mul dengan nada tegasnya namun tidak memakai teriakan.
"Baik, Pak. Kalau begitu saya permisi dulu" ucap Tania mengundurkan diri dari ruangan Bu Dina.
\=\=\=\=\=\=\=\=
-Di ruangan Tania-
"Loh kamu mau kemana? Ijin pulang lagi?" tanya Yudha.
"Gak. Untuk dua hari ini aku kena hukuman buat ngelorot produksi jadi benang lagi sama Pak Mul" ucap Tania malas. Tempat lorot itu letaknya di bagian paling pojok belakang pabrik. Tempatnya gelap, konon katanya tempatnya itu sering terjadi hal-hal diluar nalar kalau malam. Yang bekerja dibagian itu paling ibu-ibu yang usianya sudah hampir separuh baya.
__ADS_1
"Hati- hati atuh ya disana, pakai lotion anti nyamuk dulu disana suka banyak nyamuk" ucap Yudha.
"Yahh aku gak bawa, A. Gak persiapan apa-apa. Aku kira tadi bakalan cuman kena surat teguran aja taunya diasingkan" ucap Tania memanyunkan bibirnya.
"Udah gapapa jalanin aja. Tanggung jawab buat kesalahan yang udah kamu buat" ucap Yudha menenangkan yang membuat Tania tersenyum.
"Cepet gih sana takutnya Pak Mul mengaum lagi lihat kamu belum kesana. Nanti aku bawain lotion anti nyamuknya" ucap Yudha yang mendorong bahu Tania.
"Ishh... Tega ih meni ngusir" ucap Tania memasang muka cemberut.
"Bukan tega, aku lebih gak tega lagi liat kamu dimarahin lagi sama Pak Mul"
"Iya iya tau kok... Makasih ya A Yudha mah paling pengertian. Yaudah atuh aku menjalankan titah bos dulu ya" ucap Tania sambil mencolek dagu Yudha dan berlalu sambil melambaikan Tangan.
Anak itu selalu saja ada tingkahnya. Dalam hal apapun dia menggemaskan sekali. Sulit rasanya buat menggantikan posisi dia dengan siapa pun. Yudha membatin.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
-Di tempat lorot benang-
"Permisi, Bu. Apakah masih ada tempat buat saya?" tanya Tania berhati-hati sebab melihat muka Ibu-ibu ditempat lorot asem semua tidak ada manis-manisnya. Tampak seorang ibu dengan rambut diikat memakai kemeja dan celana bahan serta tubuhnya yang gemuk pendek menunjukkan tempat untuk Tania dengan dagunya.
"Tuh di pojok sana" ucapnya sinis.
Tania tersenyum dengan terpaksa " Terimakasih, Bu". Tania pun mulai dengan pekerjaannya. Terdengar bisik-bisik tetangga membicarakannya. Ia berusaha tenang agar pekerjaannya cepat selesai.
"Kenapa tiba-tiba anak komputer produksi dipindahin ketempat lorot benang?" tanya ibu berbaju merah.
"Alahhhh palingan kerjanya gak becus" timpal ibu berkerudung kuning.
"Anak baru kayaknya mah gak paham mesin makanya suruh pindah kesini" timpal ibu berbaju merah lagi.
__ADS_1
"Wahh apa Pak Dindin mau ganti kita ya? Biar bagian lorot benang pegawainya jadi anak muda semua?" tanya si Ibu berbaju merah.
"Iya kayaknya ini politik dia deh, secara kan dia mah cunihin seneng sama yang bening-bening" timpal lagi si ibu berkerudung kuning. (Cunihin\=genit)