Cahaya Cinta Tania

Cahaya Cinta Tania
Dirumahkan Sejenak


__ADS_3

Saat Akbar menutup telepon kesadaran Tania masih dibilang setengah sadar hanya matanya saja yang tidak bisa diajak kompromi. Mau bicara pun terasa berat untuk sekedar mangap saja. Seperti biasa Bapak mengecek apakah anaknya sudah tidur atau belum, dan dilihatnya Tania sudah terlelap dengan ponsel menempel di pipi nya dan lampu kamar yang belum dimatikan.


"Kebiasaan si teteh mah hp teh bukannya di simpan di meja malah di pipi. Radiasi." ucap Bapak pelan sambil menyimpan ponsel di atas meja dan mematikan lampu kamar Tania.


Pagi menjelang, subuh itu Tania tidak menunaikan sholat sebab kedatangan tamu bulanan saat ia hendak mandi. Jadi ia putuskan untuk rebahan sebentar menunggu pukul 6 pagi untuk membereskan kamarnya dan bersiap kerja.


Tania tidak membantu Ibu kali ini, setiap hari pertama datang bulan pasti badannya akan terasa lemas dan sakit sebadan-badan. Biasanya kalau beli minuman khusus wanita haid badannya akan sedikit membaik, tapi mana ada toko swalayan yang buka sepagi ini didekat rumahnya.


"Teh, minum air hangat aja buat mengurangi sakitnya" ucap Ibu mengasongkan secangkir air putih hangat.


"Iya, Bu makasih"


"Mau sarapan gak?"


"Kayaknya dibekal aja bu, gak jelas gini perasaan" ucap Tania meringis.


"Ijin gak masuk aja atuh, biasanya juga gak kayak gini kamu tuh" titah Bapak.


"Iya gak tau, Pak. Apa karena akunya juga kecapean atau lagi banyak pikiran" keluh Tania.


"Mikirin apa kamu? Nikah?" tanya Ibu sewot.


"Ish Ibu mah yang dipikirin itu mulu. Ya apalagi kalo bukan kerjaan. Kerjaan sih berkurang tapi laporannya banyak apalagi menjelang akhir pekan"


"Oh gitu. Kirain Ibu kamu jadi kepikiran omongan Bu Wati tentang kamu yang belum nikah" kekeh Ibu.


"Yeee itu mah Ibu aja kali yang kepikiran aku mah enggak" cibir Tania.


"Jangan dulu nikah teh" kali ini Salwa membuka suaranya. Tumben sekali ini anak pikir Tania.


"Lah emang kenapa?" tanya Bapak.


"Nanti aku gak bisa minta uang jajan sepuasnya, gak bisa minta beli ini itu" ucap Salwa bersungut.


"Beuhhh dasar anak matre. Kan ada Bapak, minta aja sama Bapak" ucap Tania.


"Eh tapi, tapi, kalo teteh nikah aku bisa dapet uang jajan nya double donk dari teteh dan dari kakak ipar hahahah" ucap Salwa berhalusinasi.

__ADS_1


"Iya kalo tetehnya kerja, nah kalo gak? Emang berani minta sama kakak ipar?" ledek Ibu.


"Berisik ah masih pagi. Apaan sih kamu kakak ipar, kakak ipar, orang belum ada juga calonnya" protes Tania.


"Mana, Bu bekelnya aku mau berangkat sekarang" Ibu pun memberikan kotak bekal kepada Tania, tidak lupa Tania berpamitan dengan mencium tangan kedua orang tuanya namun menoyor kepala Salwa.


"Ih si teteh apaan sih mau nyuap jadi aja tumpah" gerutu Salwa, ibu yang melihatnya hanya menggeleng saja melihat kelakuan kedua putrinya.


Saat Ibu sedang membereskan sisa makanan, Salwa serta Bapak bersiap berangkat, terlihat Tania kembali lagi kedalam rumah.


"Loh kok balik lagi, teh?" tanya Bapak heran.


"Gak jadi kerjanya. Pak Mul baik banget nyuruh aku rebahan aja seharian dirumah hari ini" kekeh Tania. Salwa dan Bapak tampak tidak mengerti dengan ucapan Tania barusan. Mau minta penjelasan tapi Salwa sudah mode marah ingin segera berangkat. Khawatir tidak bertemu kecengannya kayaknya.


FlashBack


"A Yudha kemana sih udah lewat 15 menit gaka ada jemput?" tanya Tania lirih dalam hati. Ia merogoh ponsel di dalam tasnya, ada beberapa panggilan tak terjawab dari Mbak Ani dan Yudha. Niat hati mau telepon Yudha balik, eh malah Yudha yang kembali menelepon.


"Assalamu'alaikum, A" sapa Tania.


"Wa'alaikumsalam. Kamu kemana aja sih di telepon gak diangkat terus?" tanya Yudha sedikit kesal.


"Kamu gak buka pesan ya?"


"Enggak" jawab Tania polos.


"Astaghfirulloh, Tania...Kebiasaan deh kamu mah kalo ada penting aja suka susah di hubungi"


"Lah emang penting kenapa? Kemarin aku udah beresin semua laporan"


"Iya maka dari itu, hari ini kamu di rumahkan dulu kata Pak Mul. Yang masuk hari ini hanya kepala regu dan teknisi aja"


"Kok mendadak?"


"Orderannya tinggal dua lusin produksi aja. Bisa dikerjain sama Mbak Ani sendiri dibantu sama aku, Nicko dan Iqbal"


"Oh gitu. Baiklah kebetulan kalo maksain kerja kayaknya hari ini aku bakalan gak sanggup"

__ADS_1


"Kamu kenapa? Sakit?"


"Gapapa, A. Biasa wanita hari pertama datang bulan".


"Oh yaudah istirahat aja gih. Berharap aku juga sama dirumahkan pengen tidur aja"


"Ngarep banget hahah"


"Iya lah gapapa di gaji cuman setengahnya aja juga yang penting bisa tidur. Kangen bangun siang haha"


"Ih dasar pemalasan tau. Yaudah atuh aku mau balik ke rumah aja kalo gitu. Pegel kaki aku nunggu A Yudha tapi gak dateng"


Flashback Off


Tiba-tiba di rumahkan bisa membuat Tania sebahagia ini. Ia bisa rebahan sambil menonton drakor kesukaannya, lumayan jarang-jarang dapet libur long weekend seperti ini.


Setelah dirasa nyeri berkurang dengan meminum jamu dari si Mbak Jamu gendong langganan Ibu, Tania bisa sedikit membantu Ibu melipat pakaian yang sudah dijemur kering.


Lalu dilanjut dengan menyapu halaman rumah. Waktu dirasa berjalan lambat sekali menurut Tania. Lain halnya dengan bekerja, waktu akan terasa cepat. Ia tadi hanya menonton 3 episode drakor karena ponselnya kehabisan baterai.


Semalam setelah bertelepon ria dengan Akbar ia lupa mencharge ponselnya. Sambil menunggu ponselnya terisi penuh, ia putuskan untuk menemani Ibu menonton televisi. Acara favorit Ibu adalah drama ftv di stasiun tv ikan terbang.


Walaupun bosan, mau tidak mau Tania menontonnya sebab tidak boleh pindah channel. Ia menonton sampai tertidur di karpet depan televisi. Tidak tahu berapa lama tertidur sampai Salwa datang saja ia tidak tahu. Bahkan Ibu pun tidak tahu kapan Salwa datang sebab Ibu juga ikut tertidur bersama Tania.


"De, kapan datang?" tanya Tania dengan suara serak khas bangun tidur.


"Udah satu jam yang lalu. Itu nonton tv judulnya jadi berubah, tv yang nonton orang tidur. Kebiasaan kalo tidur tv masih nyala" oceh Salwa.


"Ya namanya juga ketiduran atuh" gerutu Ibu masih dengan mata tertutup mengganti posisi menjadi tidur telungkup.


Salwa melengos saja masuk kedalam kamarnya setelah menyelesaikan aktivitas makan siang. Tania mengikuti adiknya dan masuk kedalam kamarnya sendiri meninggalkan Ibu yang masih terkapar di karpet.


"Duh, gabut banget ternyata diem dirumah tuh. Ini baru sehari eh salah setengah hari apa kabarnya kalo di rumahin seminggu?" gerutu Tania sambil mengambil ponsel dan menscroll sosial medianya.


"Ahh, aku ada ide" ucapnya bersinar.


"Gantian ya, sekarang aku gangguin kamu" ucap Tania bersemangat sambil mengetikkan sesuatu di ponselnya.

__ADS_1


Kira-kira Tania chat siapa ya...........


__ADS_2