Cahaya Cinta Tania

Cahaya Cinta Tania
Secercah kabar


__ADS_3

"Tan...Tanikuk!" Panggil Nicko begitu melihat Tania berjalan memasuki area pabrik. Tania menoleh ke asal suara dengan dahi yang berkerut. Tumben sekali pagi ini Nicko sudah memasang muka mode serius dan tampaknya menunggu kedatangan Tania sejak tadi.


"Apaan, A?"


"Huh dateng juga kamu"


"Tumben amat nungguin aku datang. Biasanya juga datangnya sepuluh menit lagi bel masuk". Ledek Tania.


"Penting tau. Kalo gak penting mah males amat ke pabrik subuh buta". Bagi Nicko jam tujuh adalah waktu yang terlalu pagi.


"Lebay deh. Kan bisa ketemu atau ngobrol pas nanti istirahat. Atau jangan-jangan mau minta sarapan ya?" Tania mencoba menebak-nebak.


"Ya kalo punya makanan mah apa salahnya atuh berbagi. Kebetulan tadi gak sarapan juga. Kan biasanya kamu suka ada yang kirim makanan".


"Iya deh boleh hayu kebetulan tadi ada yang beliin gorengan sekantong kresek nih". Tania mengacungkan lengannya yang menjinjing kantong kresek ukuran kecil.


Mata Nicko berbinar melihat dan mencium aroma gorengan di tangan Tania. Cacing di perutnya mulai konser minta jatah.


"Yaudah yuk ngobrolnya di ruangan aku aja sekalian makan" ajak Tania. Nicko menyetujui ajakan Tania dan mengikutinya dari belakang.


Tania meletakkan tasnya di dalam loker lalu duduk di kursi kebesarannya, Nicko yang sudah duluan duduk di depan meja kerja Tania sudah tidak sabar untuk diperbolehkan mengambil gorengan yang sedari tadi mengecoh ia untuk segera melahapnya.


"Tadi mau ngobrol apa, A?" Tanya Tania penasaran dengan maksud awal Nicko.


"Euh lama kamu mah. Minta dulu Dp lah"


"Ih kok berbayar?"


"Maksud aku, aku mau minta gorengannya atuh Tanikuk. Ini cacing udah pada minta jatah biar ceritanya juga ada energinya"


"Yaelah....Nih" Tania mengasongkan kantong keresek kedepan Nicko.

__ADS_1


Isi kereseknya banyak, ada bermacam gorengan. Bala-bala/bakwan, cireng, gehu, gorengan tempe, dan pisang goreng.


"Wuihhhh banyak amat isinya. Kamu beli berapa duit ini?"


"Gak beli tapi di beliin. Biasa anak sholeh mah rejekinya gampang hihihi" ucap Tania terkikik.


"Gue juga sholeh tapi jarang ada yang ngasih" keluh Nicko.


"Mungkin ada amal yang kurang. Seperti sodaqoh atau sholatnya kurang sempurna pada bacaan maupun gerakannya"


"Aihhh ari bu ustadzah mah beda lah"


"Beda apanya? Aku sama seperti yang lainnya kok" Ucap Tania merendah. "Tadi katanya ada yang mau di obrolin. Apaan?" Tanya Tania lagi mengingatkan Nicko yang asyik mengunyah cireng.


Masih dengan mengunyah, Nicko pun berbicara "Ini tentang si Neng".


"Abisin dulu tuh makanan di mulut baru bicara. Neng? Emang Neng kenapa? A Nicko ketemu dia?" Tania memberondong Nicko dengan pertanyaan.


"Terus A Nicko berhasil ngejar Neng?" Tanya Tania makin penasaran. Terlihat dari raut muka yang serius mendengarkan tiap kata yang terucap dari mulut Nicko dan mencondongkan tubuhnya seakan ingin tahu kelanjutan cerita Nicko.


"Tukang ojek yang ditumpangi Neng ngebut aku susul aja. Ehh.... Taunya....." Kata-katanya terhenti dan itu makin membuat rasa penasaran Tania makin membuncah.


"Taunya apa...Ih A Nicko mah bikin ceritanya ngegantung. Ayo apa? A Nicko tau Neng dan keluarganya pergi kemana?" Tania mengguncang-guncangkan lengan Nicko dengan kuat.


"Taunya bensin motor aku abis. Jadi Neng gak ke kejar. Aku kehilangan jejak lagi" jawab Nicko sebal membayangkan kejadian habis bensin saat adu cepat dengan tukang ojek.


"Yahhh...Jadi masih belum ketauan ya A Yudha kemana" ucap Tania lirih menundukkan kepalanya diatas meja.


"Hmmmhhhh kamu mah gak nanyain kelanjutan aku pas abis bensin gimana. Nih perjuangan aku ya ngedorong motor sampe banjir keringat, mana pom bensin jauh lagi. Datang ke rumah mau maghrib" keluh Nicko yang entah di dengar atau tidak oleh Tania.


"Hufth.. Makasih deh atas perjuangannya. Segitu juga udah oke lah ada sedikit pencerahan"

__ADS_1


"Emang udah cerah atuh Tanikuk. Tuh liat matahari aja udah bersinar terang" Tunjuk Nicko pada jendela.


"Bukan pencerahan ituuuuuu....Ih. Tapi pencerahan setidaknya sekarang kita tau kalo A Yudha itu gak ke luar kota" gemas Tania memukul lengan Nicko.


"Tapi bisa jadi juga, Kuk. Pasalnya kan Neng bawa tas travel gede tuh"


"Logika aja, A. Mana mungkin anak SMP segede Neng berani ke luar kota sendirian. Terus orang tua A Yudha juga gak bakalan ijinin Neng pergi sendirian lah"


"Oh iya ya. Gak mudeng aku" ucap Nicko menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Kalo gitu aku siap-siap dulu ya udah bel masuk kerja tuh" imbuhnya lalu pergi ke ruangan teknisi.


Disela-sela pekerjaan Tania tidak sengaja mendengarkan pembicaraan Pak Mul dan Mbak Ani di mesin bagian depan saat Tania mau menyimpan kartu produksi di meja Bu Dina.


"An, gimana keaadan si Yudha sekarang?"


"Masih sama kayak gitu, Pak" jawab Mbak Ani dan Pak Mul mengangguk lalu fokus lagi pada mesin sample.


Pak Mul dan Mbak Ani tau A Yudha kemana? Terus maksud dari keadaan A Yudha itu apa? A Yudha kenapa?


Beragam pertanyaan bergelut dalam pikiran Tania. Sedikit demi sedikit teka teki hilangnya Yudha mulai terbuka. Pantas saja Pak Mul sampai hari ini tidak melulu menanyakan Yudha untuk membetulkan mesin, toh ternyata beliau tahu Yudha dimana.


Seperti ada yang di sembunyikan pikir Tania. Tapi alasannya itu apa? Kenapa mesti di rahasiakan segala. Toh Yudha itu bukan selebritis yang selalu dikejar paparazi.


Perasaan penasaran, marah, kecewa dan khawatir bercampur menjadi satu. Orang terdekat Yudha saja setingkat Nicko tidak tau Yudha dimana.


"A Nicko, nanti istirahat kita barengan ya ada yang mau aku omongin" ajak Tania.


"Oh, oke Kuk" timpal Nicko tanpa menoleh yang masih fokus pada mesin yang ia betulkan.


Tania kembali ke ruangannya dan mencoba diam-diam menghubungi Neng siapa tahu kali ini hpnya sudah bisa dihubungi. Namun sayang seribu sayang lagi lagi nomor Neng masih tidak dapat dihubungi.


"A Yudha kemana sih? Kok semenjak denger obrolan Pak Mul tadi perasaan aku makin gak enak aja. Apa A Yudha baik-baik aja?" Tania bergelut dengan bathinnya.

__ADS_1


__ADS_2