
"Tan, anter aku yuk ke rumah A Aldi. Mamahnya Lagi sakit aku mau nengokin. Gak akan lama kok bentaran aja" ucap Wulan. Ia sudah berada di rumah Tania sebelum Tania pulang kerja.
"Gak mau ah nanti bohong lagi kayak waktu itu" ucap Tania.
"Kali ini aku jamin gak bohong. Soalnya yang ngasih tau kakaknya A Aldi tadi" ucap Wulan meyakinkan.
"Yaudah atuh abis maghrib aja ya aku pengen rebahan dulu bentar, capek nih" ucap Tania sambil menuju kamarnya yang diikuti oleh Wulan.
"Oke atuh. Eh, gimana kabar kamu sama A Irwan?" tanya Wulan. Tania menghembuskan nafas kasar. Sepanjang hari ia lelah bekerja dan tidak mau mendengarkan atau mengingat tentang Irwan. Cinta bertepuk sebelah tangan itu rasanya sakit, pedih tapi tidak berdarah.
"Gak tau ah" ucap Tania malas. Diambilnya handuk yang tergantung dan bergegas ke kamar mandi. Sengaja ia menghindari pertanyaan Wulan. Untungnya Wulan tidak peka dan hanya mengangkat kedua bahunya lalu memainkan ponselnya.
Sebisa mungkin Tania harus menutupi perasaannya didepan para sahabatnya. Ia Tahu bahwa mereka sangat jengkel dengan Tania yang berubah menjadi miss galau belakangan ini. Apalagi Yudha, ia tampak sangat mengkhawatirkan keadaan Tania. 2 tahun ia mengenal Tania, belum pernah sekalipun ia melihat Tania jatuh cinta dan galau seperti sekarang. Yang ia tahu Tania pernah mengalami kejadian yang sama waktu dulu, itupun dari cerita Tania sendiri.
Hati Tania itu lembut dan mudah mengasihi pada siapa saja, apalagi jika ia melihat orang menangis, ia akan ikutan menangis. Bukan berarti ia mudah jatuh cinta. Setiap orang mungkin punya pandangan dan selera untuk jatuh cinta. Sama halnya dengan Tania. Bagi perempuan perhatian dan pengertian adalah hal utama.
Adzan maghrib berkumandang, Tania lekas menunaikan kewajibannya. Kebetulan Wulan sedang berhalangan jadi tidak ikut sholat.
"Lan, kamu yang ngomong sama Bapak dan Ibu atuh yah biar diijinin. Tapi kalo gak diijinin mah mon maap ye heehhe" kekeh Tania.
"Iya siap. Pasti diijinin lah da gak akan lama ini" ucap Wulan mengacungkan ibu jarinya dan berlalu menemui Bapak dan Ibu Tania di ruang keluarga.
"Pak, Bu, aku mau pinjem Tania bentar ya"ucap Wulan.
"Minjem emangnya barang" ucap Ibu Tania.
"Heheh atuh aku mau minta anter Tania ke rumah pacar aku mau nengokin calon mertua lagi sakit" ucap Wulan.
"Ke rumah pacar kamu?" dahi Ibu mengkerut.
"Iya Bu bentar aja kok gak lama cuman nengokin aja" ucap Wulan dengan nada memohon.
"Kalo mau nengokin boleh. Tapi kalo nungguin kamu pacaran mah gak boleh" ucap Bapak tegas.
"Beneran Pak cuman nengokin kok" ucap Wulan lagi.
"Yasudah jam 8 udah harus pulang yah. Gak baik anak perawan keluyuran malem" ucap Bapak.
__ADS_1
"Baik, Pak" ucap Wulan dan segera menuju kamar Tania. Yang punya kamar sedang asyik berselancar di ponselnya sambil tiduran dikasur. Wulan pun melompat ke atas kasur dan mengagetkan Tania.
"Astaghfirullah....Wulandari kamu tuh ngagetin aku aja" ucap Tania sambil melempar bantal kearah Wulan.
"Hahahahah sowwyyy. Hayu atuh siap-siap Bapak sama Ibu udah ngasih ijin tapi jam 8 harus udah pulang" ucap Wulan mengguncang-guncangkan tubuh Tania. Tania memutar bola matanya dan mengambil jilbab warna mocca.
"Hayu atuh. Gini aja yah gapapa gak dandan juga. Males tadinya pengen tidur agak siang ini teh badan 5L aku tuh" ucap Tania.
"Gapapa lah gak dandan juga masih cantik kamu mah. Kuy takut kemalaman" ajak Wulan. Mereka pun berpamitan pada Bapak dan Ibu Tania, kemudian berlalu menuju kediaman Aldi.
Motor diparkirkan di depan rumah Aldi, saat turun dari motor Tania mengenali kendaraan yang terparkir di pinggir motor Wulan. Benar saja itu motor Irwan. Tania ragu untuk masuk kedalam, belum bertemu orangnya tapi jantung Tania sudah berdebar kencang.
"Heh malah ngelamun hayu masuk" aja Wulan membuyarkan pikiran Tania.
Tok.....Tokk ... Tokk...
"Assalamualaikum.." ucap Wulan sambil mengetuk pintu.
"Waalaikumsalam" samar terdengar jawaban dari dalam.
Pintu terbuka.....Degggggg !!! Dan yang membuka pintu adalah Irwan. Ia nampak terkejut melihat siapa yang ada dihadapannya kini, begitupun dengan Tania.
Wulan menengok ke arah Tania dan Irwan bergantian, ia membaca situasi canggung diantara keduanya. Ia biarkan Tania dan Irwan untuk ngobrol berdua, dan ia pun masuk sambil membawa kue untuk mamahnya Aldi. Tadinya Tania akan ikut masuk ke dalam mengikuti Wulan. Tapi Irwan menahannya dengan memegang tangan Tania.
"Tan..." lirih Irwan. Tania berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Irwan. Ia meringis sebab genggaman Irwan kali ini cukup keras. Mungkin Irwan takut Tania kan menghindarinya lagi.
"Apa? Lepasin ih sakit" ucap Tania meringis.
"Kamu kenapa?" tanya Irwan. Posisi mereka saat ini berada di teras depan rumah Aldi.
"Kenapa?" ucap Tania sinis sambil mundur dan duduk di kursi yang berada di teras rumah Aldi. Irwan mengikutinya dan duduk di kursi yang satunya lagi. Matanya masih lekat menatap Tania.
"Iya kenapa kamu jadi menghindari aku?" tanya Irwan serius.
"Menurut A Irwan sendiri bagaimana?" ucap Tania.
"Baru datang udah ditodong pertanyaan to the point, orang mah nanya basi basi kabar".
__ADS_1
Irwan tersenyum, meski Tania yang sekarang lebih jutek kepadanya tapi ia senang sebab Tania masih mau berbicara dengannya walaupun terlihat sedikit terpaksa.
"Kamu apa kabar?" tanya Irwan.
"Telat" ucap Tania memutarkan bola matanya. Irwan masih tersenyum, karena Tania betul-betul menggemaskan.
"Yaudah atuh kamu aja yang nanya. Perasaan salah terus aku dari tadi" ucap Irwan mengalah.
"Gak ada yang mau aku tanyain" ucap Tania.
"Makin gemesin aja kalo lagi ngambek" ucap Irwan yang hendak menyubit pipi Tania. Tania menghindar dari tangan Irwan yang hendak menyubit dirinya.
"Gak usah gombal. Simpen aja gombalnya buat cewek cantik yang seksi" ucap Tania.
"Oh kamu cemburu ya?" goda Irwan.
"Maaf ya untuk apa cemburu. Rugi banget aku"
" Loh kok rugi?"
"Iyalah diantara kita kan memang gak ada apa-apa. Buat apa aku cemburu"
"Masih bahas itu" ucap Irwan sambil senyum miring.
"Kalo gak mau gak usah bahas. Gitu aja kok repot" ucap Tania. Hufffffthhhhhh Tania menarik nafas dan menghembuskannya perlahan, agar bisa lebih tenang. "Kalo gak mau ngasih kejelasan gak perlu menyentuh hati seseorang. Perempuan akan luluh kalo dikasih perhatian yang lebih. Masalah hati itu sensitif. Aku bukan cewek yang sering A Irwan pacarin, tempat persinggahan kepuasan A Irwan"
"Maksud kamu apa?" tanya Irwan.
"Kalo A Irwan mengira aku bakalan mau jadi pelampiasan atau menghilangkan penasaran A Irwan, A Irwan salah besar. Aku tipe orang yang lebih suka ada komitmen, jelas tujuannya apa. Bukan orang yang hanya mau bersenang senang saat butuh dan ditinggalkan setelah puas".
"Jujur aja aku tersentuh dengan segala hal tentang A Irwan. Ya bisa dibilang ada rasa lah. Tapi aku ingin perasaan aku ini jelas sebab aku liat A Irwan juga kayaknya sama. Tapi aku salah ternyata, aku terlalu pede dan kegeeran" jelas Tania blak blakan tentang perasaannya. Ia rasa ini adalah waktu yang tepat untuk mengungkapkan segala kegundahan hatinya.Irwan hanya diam saja mencerna setiap perkataan Tania.
"Jangan A Irwan pikir kalo perempuan itu bebas buat dimainin. Ini masalahnya ada hati loh, HATI bukan arena permainan anak" ucap Tania sengaja menekankan kata Hati.
"A Irwan udah berani menyentuh hati aku, tapi A Irwan gak mau bertanggung jawab. Aku jadi tersadar setiap kali aku minta kejelasan sama A Irwan hanya kata 'tunggu aku' yang selalu diucapkan, itu berarti hati A Irwan tidak tertuju sama aku. Dan saat aku liat di pernikahannya Mbak Sari, A Irwan datang sama cewek, aku beneran kecewa dan saat itu juga aku udah nentuin untuk berhenti mempunyai rasa buat A Irwan. Jadi kalo bisa kita gak usah ketemu aja biar gampang buat aku lupain A Irwan" ucap Tania sambil berdiri hendak masuk kedalam menyusul Wulan.
"Maaf" ucap Irwan lirih. Tania menoleh "Aku maafin. Jadiin pelajaran aja belajar lebih dewasa lagi. Jangan coba menyentuh hati wanita kalo tidak tau tujuan" ucap Tania, Irwan termangu mendengar ucapan Tania hatinya terasa tertampar. Benar, Tania memang berbeda... Baru kali ini ada wanita yang berani menamparnya lewat ucapan..
__ADS_1
Semoga engkau sadar yaaa Irwaaaaan..........