
"Tes tes" rupa-rupanya yang mengirim pesan itu adalah Akbar. Tania lekas membuka hp nya dan melihat di bawah meja khawatir ditegur oleh Mbak Ani.
"Kayak tes microfon aja mentang-mentang vocalis" balas Tania.
"Hahahah tau aja. Aku lagi coba tes microfon pesan ukhti cantik takutnya gak aktif" candanya. Mbak Ani yang melihat tentu saja menegur Tania, dari tadi ia bicara tidak ditanggapi tahunya Tania sedang berkirim pesan dibawah meja.
"Kamu itu aku ngomong dari tadi pantesan gak di nyautin rupanya lagi main hp" protes Mbak Ani. Sontak saja Tania kaget dan refleks mengangkat kepalanya dan menatap Mbak Ani.
"Eh hehehe maaf Mbak. Mbak cerita apa barusan?" tanya Tania.
"Gak ada siaran ulang. Hati-hati ketauan Pak Mul bisa kena SP 2 kamu, main hp ditengah jam kerja" Mbak Ani mengingatkan.
"Mudah-mudahan enggak, Mbak. Lagian bentar lagi istirahat kok" ucap Tania cengengesan.
"Aku keliling dulu ah, daripada diem disini malah dikacangin sama yang lagi kasmaran" ketus Mbak Ani.
"Yee aku mah masih single Mbak belum double. Biasa ini mah chat temen sekolah" ucap Tania beralasan.
Drrrttt......Hp Tania kembali bergetar.
"Lagi sibuk ya. Sorry ganggu"
"Gak kok. Ini mau siap-siap mau istirahat"
"Oh gitu ya udah, selamat istirahat ya"
"Okok"
Sesudah percakapan berakhir, Tania menyimpan hp nya diatas meja dan ia pun membereskan peralatannya. Bel tanda istirahat pun berbunyi, saat hendak keluar dan mengunci loker nya Yudha datang menghampiri Tania.
"Makan bakso yuk" ajak Yudha. Tania menoleh dari arah loker dan mengangguki ajakan Yudha.
"Ayo. Tapi traktir ya. Kan A Yudha kemarin dapet bonus dari Pak Mul" kekeh Tania.
"Tau aja kamu kayak istri yang memata-matai suaminya kalo dapet uang" gelak Yudha.
"Hahaha dasar, yaudah bayar masing-masing juga gak papa kok. Lagian aku udah lama gak makan bakso dari semenjak sakit" ucap Tania.
"Oke deh hayu. Ajakin Iqbal sama A Nicko juga ya biar rame" usul Yudha.
"Oke aku telepon dulu mereka". Belum sempat Tania menelan tombol panggil kepada Nicko, tiba-tiba saja ada panggilan masuk dari orang yang sudah Tania tidak harapkan lagi. Ia ragu mau mengangkatnya atau tidak, lalu malah menatap Yudha untuk meminta pendapat melalui tatapannya.
"Kenapa? Kok gak diangkat?" tanya Yudha heran dan Tania pun memperlihatkan layar hp nya kepada Yudha.
__ADS_1
"Shitt, ngapain lagi dia ngehubungin kamu? Angkat coba, loadspeaker teleponnya" perintah Yudha yang di angguki oleh Tania.
"Assalamu'alaikum" sapa Tania
"Wa'alaikumsalam. Tan, kamu lagi istirahat kan?" tanya Irwan.
"Iya ini baru mau keluar. Ada apa?" tanya Tania.
"Aku ada di luar deket gerbang, kamu bisa kesini?"
Tania yang bingung mau menjawab apa langsung menoleh ke arah Yudha yang kebetulan disampingnya sudah ada Nicko.
"Gimana?" tanya Tania mengisyaratkan dengan bibirnya kepada dua sahabatnya.
"Oke in aja" bisik Nicko.
"Tan, kamu masih di situ kan?" tanya Irwan, lama ia menunggu jawaban dari Tania.
"Oh iya, tunggu sebentar" ucap Tania sambil mematikan hp nya tanpa mengucapkan salam. Tania bergegas menuju gerbang depan diikuti 2 sahabatnya layaknya bodyguard. Tampak Iqbal menyusul bersama Fira, dan terheran melihat teman-temannya bukan jalan ke parkiran malah jalan ke depan gerbang. Rupanya tadi saat Tania sedang menjawab telepon Yudha sudah menghubungi para sahabatnya itu.
"Ada apa, A?" ucap Tania to the point setelah menghampiri Irwan. Tatapan Irwan beralih dari Tania, Yudha, lalu Nicko dengan senyuman sinisnya.
"Hmm bawa bodyguard kamu?" tanya sinis Irwan.
"Kalo gitu aku ikut makan bareng kalian aja ya" santai Irwan. Tania terhenyak kaget dengan ucapan Irwan dan balik menatap Yudha serta Nicko. Tania tahu kalau Nicko tidak suka kepada Irwan dari awal, mukanya terlihat kecut saat Irwan memutuskan untuk ikut makan siang bersama.
"Yaudah lah hayu. Waktu istirahatnya nanti keburu abis. Lapar gue" jawab Nicko ketus sambil berlalu ke parkiran diikuti oleh Yudha. Iqbal yang sudah siap malah melempar pandang ke arah Yudha seakan bertanya tentang keberadaan Irwan dan hanya di jawab gelengan oleh Yudha.
"Ayo, Tan. Kamu naik motor aku aja" ajak Irwan.
"Gak. Tania sama gue aja" ucap Yudha
"Wess kalem aja bro, gak akan gue apa apain kok Tania nya"
"Ayo buruan naik" ajak Yudha pada Tania.
"Kamu sama aku aja, Tan" keukeuh Irwan. Nicko yang melihatnya jadi geram, masalah ngeboncengin Tania aja diributin.
"Tanikuk, lu sama gue aja sini. Lama nungguin yang debat mah keburu mati kelaperan gue" ucap Nicko, Tania menurut saja perintah Nicko daripada ia jadi bahan rebutan antara Yudha dan Irwan. Dengan terpaksa Irwan mengikuti motor mereka dari belakang.
"Mas, aku pesen bakso biasa ya" ucap Tania begitu sampai di kedai bakso langganannya dengan tiga serangkai. Ia pun memilih duduk di dekat tembok agar bisa bersandar, Yudha yang hendak duduk di dekat Tania pun didahului oleh Irwan. Yudha menghela nafas kasar dan duduk tepat di depan Tania.
Mereka pun makan dengan situasi yang canggung. Biasanya mereka akan makan sambil bercanda atau ngobrol ringan.
__ADS_1
"Kamu suka makan disini, Tan?" tanya Irwan.
"Iya, tapi gak begitu sering" jawab Tania.
"Jangan terlalu pedes makanannya, inget lambung kamu" Yudha mengingatkan, Irwan yang melihatnya hanya bisa tersenyum miring. So mau lihatin perhatian lebih sama si Tania gerutu Irwan dalam hatinya.
"Kalo kalian makan, suka sepi kayak gini?" tanya Irwan. "Gak asik banget" ujar Irwan.
"Berisik, lo. Kalo gak asik ngapain ikut" sewot Nicko.
"Gue kira bakal rame kayak waktu kalian ngumpul. Kata Tania kalian asik makanya gue penasaran seasik apa sih geng lu pada" cerocos Irwan.
"Makan jangan bersuara" tegas Tania yang membuat semua orang terdiam yang asalnya Iqbal akan menimpali ucapan Irwan dengan mulutnya yang sudah terbuka hendak bicara tapi Fira menyikunya agar tidak ikut berbicara.
"Mas, pesan bakso urat jumbonya di bungkus ya" ucap Tania pada si mas penjual bakso.
"Siap neng" ucapnya.
"Buat siapa? Kamu belum kenyang?" tanya Yudha.
"Buat Mbak Sari, A" jawab Tania, saat hendak membayar dan merogoh saku celananya, Tania kaget dan meraba setiap saku nya.
"Kamu kenapa?" tanya Yudha lagi.
"Ya ampun, A. Uangku ketinggalan diatas meja sama dompetnya. Perasaan tadi udah dibawa tapi malah cuman hp aja yang di bawa"
"Kebiasaan kamu mah ceroboh"
"hehehe, A plissss" kekeh Tania memohon pada Yudha. "Nanti di pabrik aku ganti deh" ucap Tania.
"Berapa Mas yang Tania semuanya?" tiba-tiba saja Irwan maju membuka dompetnya dan membayar bakso Tania, dirinya dan pesanan Mbak Sari.
"Jadi 43 ribu" jawab si mas bakso.
"Ini" ucap Irwan sembari mengasongkan uang 50 ribu. "Kembaliannya ambil aja".
"Yang lain sorry ya bayar sendiri. Hayu, Tan sekarang kamu aku anter balik lagi ke pabrik" ajak Irwan.
"Emmmhh... Aku bareng A Yudha aja. Nanti uang baksonya aku ganti" ucap Tania.
"Hahahah kamu takut diapa-apain ya sama aku? Iya sih orang kayak aku mah gak bisa dipercaya. Gak usah diganti, nraktir kamu kok pamrih minta diganti segala" sindirnya. Yudha sudah dari tadi menahan kesalnya.
"Bukan gitu, aku mah gak ngebiasain diri buat ditraktir orang. Selagi bisa bayar sendiri, ya bayar. Kalo orang yang maksa buat traktir mah ya kenapa menolak rejeki. Lagian barusan itu aku lupa bawa dompet, dan udah sepakat dari awal mau bayar sendiri meskipun tadi A Yudha nawarin traktir aku tapi aku tolak. Jadi A Irwan jangan salah paham" jelas Tania. "Hayu, A. Kita balik lagi, belum sholat dzuhur" ucap Tania sambil menarik tangan Yudha.
__ADS_1
Irwan dibuatnya terdiam, ia mengingat waktu dulu saat mengajak Tania untuk nonton, Tania tidak mau gratis dan malah Tania membeli camilan dan ia yang membeli tiket.