Cahaya Cinta Tania

Cahaya Cinta Tania
Curhat Donk Buuuuuuu......


__ADS_3

Tidur seharian membuat Tania merasa sedikit lebih baik. Demamnya sudah turun. Ibu dengan telaten merawat Tania dengan sering mengganti handuk untuk mengompres. Badannya terasa tidak nyaman akibat keringat, ia pun berganti baju dengan piyama panjang. Kepalanya masih terasa pusing, kakinya juga lemas jika dipakai berjalan. Untungnya ada Salwa yang selalu mau jika di mintai tolong. Enaknya punya adik itu bisa kita jajah dalam keadaan seperti ini apalagi adiknya itu tidak akan bisa menolak mengingat keadaan Tania yang sedang sakit.


"Deeee......" panggil Tania lirih. Kecilnya suara Tania tidak terdengar oleh Salwa.


"Deeeeeee...." panggilnya lagi dengan sedikit keras yang akhirnya Tania kembali lemas.


"Apa Teh?" yang muncul adalah Ibu.


"Si ade mana, Bu?" tanya Tania


"Ada tuh di kamarnya. Teteh mau apa biar sama Ibu aja" ucap Ibu.


"Pengen minum air anget, Bu" ucap Tania yang langsung di ambilkan Ibu ke dapur. Biasanya kalau Tania minta seperti itu akan Ibu tolak mentah-mentah katanya punya tangan sama kaki gunanya buat apa? ambil aja sendiri begitu kata ibu. Jangan biasakan suka menyuruh orang kalau kita masih mampu sendiri tambah Bapak. Tania bersyukur bisa lahir ditengah-tengah keluarga yang begitu hangat dan selalu menanamkan nilai adab dan moral di samping nilai agama.


"Ibu kapan beli kue sama buah?" tanya Tania saat Ibu masuk lagi membawa secangkir air putih hangat.


"Oh itu tadi ada A Yudha yang nganterin katanya di suruh sama Kabag kamu" ucap Ibu sambil memunguti pakaian kotor.


"Tadi A Yudha kesini? Kok gak bangunin aku, Bu?" tanya Tania sambil bersandar di kepala ranjang.


"Tadi kamu tidurnya pules banget makanya Ibu sama A Yudha gak berani bangunin kamu. Efek obatnya bikin ngantuk ya?"


"Iya, Bu sama keringetan. Tuh baju aku aja sampe basah" ucap Tania sambil menunjukkan pakaiannya yang sudah ada di genggaman Ibu.

__ADS_1


"Berarti obatnya udah bereaksi di tubuh kamu. Tuh demamnya aja udah turun" ucap Ibu sambil menempelkan tangannya di dahi Tania. "Sok atuh paksain makan walaupun sedikit juga. Biar kamunya ada tenaga, perut gak kosong-kosong amat. Tuh ada kue kalo mual makan bubur mah atau mau Ibu bikinin jus?"


"Aku pengen kue aja bu. Sekalian atuh pang motongin buahnya aku mau apel" ucap Tania.


"Kue nya mau yang mana? Yang kemasan atau kue bolu?" tanya Ibu lebih spesifik.


"Yang bolu aja itu, Bu yang ada kejunya" ucap Tania.


"Nih..." Ibu menyodorkan sepotong kue kepada Tania.


"Hmmmhhhh....." Ibu menghela nafas. "Kamu teh mikirin apa? Mikirin kerjaan atau apa? Dari pulang nikahan Mbak Sari muka kamu kusut amat. Pas malem Ibu liat kamu tidur juga kayak yang gelisah" ucap Ibu. Setiap malam Ibu selalu memastikan anaknya sudah tidur dengan nyenyak atau belum dengan selalu menengok ke setiap kamar anaknya. Bapak juga begitu, baginya meskipun Tania dan Salwa sudah besar tapi dimata Bapak dan Ibu, mereka masih anak kecil. Tak jarang Bapak sering membetulkan selimut, atau bahkan menyimpan hp Salwa ke atas nakas. Salwa memang selalu punya kebiasaan tertidur saat hp masih menyala.


"Gapapa, Bu" ucap Tania terdengar lirih. Bukan Ibu namanya jika tidak mengetahui ada sesuatu yang membebani hati anaknya.


"Gak ada, Bu. Semua keluarga Mbak Sari welcome pada baik. Disana aku di sambut hangat malah dianggap kayak keluarga sendiri" ucap Tania menunduk.


"Terus kamu kenapa atuh? Pasti gara-gara cowok ya?". Dugaan Ibu benar kali ini. Tania tidak bisa mengelaknya. Bathin Ibu dengan anaknya itu bagai pararel yang akan selalu terhubung.


"Bu..." ucap Tania terhenti.


"Aku suka sama cowok" ucap Tania malu-malu. Ibu diam memandangi wajah Tania dengan seksama.


"Tapi sayang, Bu. Cinta aku bertepuk sebelah tangan. Aku juga gak ngerti sama sikapnya. Dia tuh perhatian banget bu sama aku. Emang sih dia itu playboy. Tapi kata Wulan semenjak dia kenal aku, dia jadi berubah. Gak pernah gonta ganti cewek lagi, ibadahnya jadi rajin, terus dia juga mau antar jemput aku kerja padahal kata Wulan dia gak pernah mau anterin cewek buat kerja atau ngampus selain adiknya. Aku ngerasa punya peluang denger itu. Tapi tiap aku minta kepastian tentang kejelasan hubungan dia suka cari alasan. Keliatan banget gak mau punya komitmen. Semalam sebelum acara pernikahan Mbak Sari dia chat aku dan gak ngasih kepastian mau datang apa enggak padahal dia diundang langsung sama Mbak Sari"

__ADS_1


"Begitu hari H pernikahan Mbak Sari dia datang. Tapi bawa cewek cantik, mesra lagi. Aku kecewa, Bu. Aku kira dia udah berubah seperti kata Wulan. Tapi kenyataannya masih sama aja. Dari sana aku putusin buat berhenti punya rasa sama dia" Buliran bening jatuh membasahi pipi mulus Tania. Curhat dengan ibu membuatnya lebih ekspresif.


"Mungkin kamu terlalu berharap atau kata kasarnya kepedean lu" ucap Ibu sambil mengusap lembut punggung anaknya itu.


"Iya mungkin bisa jadi seperti itu, Bu. Berulang kali aku minta kejelasan hubungan tapi jawabannya malah kata tunggu aku" ucap Tania mengangkat kedua jarinya menandakan tanda petik.


"Dia juga terlalu percaya diri menurut Ibu. Dengan kamu selalu minta kepastian, dia serasa kamu ngejar-ngejar cinta dia" ucap Ibu.


"Padahal maksud aku bukan begitu. Aku minta kejelasan sama dia tuh buat aku biar bisa menentukan perasaan aku sendiri. Mau dibawa kemana, kalo dari awal jelas dia nganggap aku adik atau teman kayak A Yudha mungkin aku gak akan berharap lebih. Tapi ini kan enggak. Aku jadi gak bisa ngontrol perasaan aku jadinya" jelas Tania.


"Cinta memang datang tanpa diundang terkadang pergi tanpa permisi. Kepada siapa seseorang jatuh cinta kan kita tidak tahu kecuali yang di Atas. Begitu juga kamu, ini bukan salah kamu hanya waktunya aja yang keliru sehingga bikin ambigu sama hubungan kamu sama dia. Jika memang ada yang benar sayang dan cinta sama anak Ibu, dia gak akan ragu buat beri komitmen. Kalau begini kamu bisa artikan sendiri seperti apa dia. Mungkin kalo ada Bapak dan tau cerita kamu pasti bakal bilang, kalo ada cowok yang benar-benar sayang sama kamu dia bakalan datang kesini buat berhadapan sama Bapak secara usia kamu udah cocok buat nikah hehehhehe" ucap Ibu yang di akhiri dengan cekikikan.


"Ih Ibu mah....Aku belum siap kalo buat nikah" ucap Tania cemberut.


"Hahahha iya tau Ibu juga. Lagian kalo sekarang-sekarang mah Bapak gak akan kasih SIM"


"SIM? Aku kan udah punya" dahi Tania mengkerut karena bingung.


"Iya SIM. Surat Ijin Menikah"


"Ih si Ibu mah bisa aja"


"Yaudah atuh makan bubur dulu ya barang satu atau dua suap mah terus minum obat biar cepet sehat. Sayang gajinya nanti dipotong banyak"

__ADS_1


Ibuuuuuu..........Anaknya sakit masih aja kepikiran gaji yang dipotong, Tania nya aja masih mikirin tentang cowok playboy cap katak....Hadeuuuuhhhhhhhh


__ADS_2