
Seperti biasa Yudha sudah nangkring depan gang rumah Tania untuk menjemput kerja. Yudha di buat heran dengan sikap Tania yang lebih sumringah dari biasanya.
"Tumben cerah banget hari ini" ujar Yudha.
"Hari senin, harus semangat kerja. Biasanya kalo senin kerjaan suka riweuh makanya harus di mulai dengan mood yang bagus" kilah Tania, Yudha mengangguk setuju sambil memanyunkan bibirnya.
"Yaudah yuk" ajak Yudha sambil menstarter motornya lalu Tania pun naik ke atas motor Yudha. Motor berjalan dengan kecepatan sedang.
"A, tau gak yang kemarin ngajak aku nyanyi ke stage?"
"Oh itu, iya tau. Itu orang yang ngajak kenalan sama kamu waktu di nikahan Sari kan?"
"He em. Tadi malam Wulan nelepon aku. Mau kenalin sama temen SMA nya dia"
"Hati-hati. Kemarin kamu di kenalin sama Wulan ujungnya malah sakit hati" tegas Yudha.
"Yeee aku belum beres ngomong" ucap Tania memukul bahu Yudha.
"Ya terus apa?"
"Ternyata yang di kenalin sama aku tuh Akbar. Dia temen sekolahnya Wulan". Yudha tampak mengernyitkan dahinya.
"Kok bisa? Bukannya kalian udah kenalan waktu itu?" tanya Yudha.
"Nah itu dia, Wulan gak tau kalo aku sama Akbar udah saling kenal"
"Hmmm terus gimana?"
"Ya biasa aja. Soalnya udah kenal ini. jadi ceritanya dia chat aku duluan ngajak kenalan pas liat foto profil aku dia kaget, lah aku juga sama. Pas tau udah saling kenal ya udah ngobrol biasa aja haha"
"Perasaan dunia sempit amat" ucap Yudha.
"Iya a beneran"
"Terus lanjutannya gimana? Aku cuman mau bilang hati-hati aja jangan sampai terperosok lagi pada lubang yang sama. Jangan gampang terbuai oleh perhatian laki-laki, belajar dari pengalaman"
"Iya iya aku tau kok, A. Makanya pas awal sebelum aku tau itu Akbar yang aku kenal seperti biasa aku pasang tampang jutek"
"Terus lanjutannya gimana?"
"Gak gimana gimana kata dia bagus ceritanya kalo kayak gini jadi manjangin silaturahmi. Enak dia orangnya, A. Satu frekuensi sama kayak kita. Dia juga bilang seneng punya temen kayak aku" jelas Tania. Yudha memandanginya saat turun dari motor. Perjalanan terasa sebentar kalau dibarengi dengan obrolan tahu-tahu sudah sampai saja di parkiran.
__ADS_1
"Bagus lah. Jangan kayak kemarin pokoknya" senyum Yudha sambil mengusap lembut puncak kepala Tania.
Di dalam Mbak Sari dan Mbak sofie sudah menunggu Tania di ruangannya.
"Hay Mbak-mbak ku" sapa Tania.
"Deuh cerah amat mentang-mentang udah gajian terus shopping" ledek Mbak Sofie yang dijawab dengan cengengesan oleh Tania.
"Tan, nanti lusa aku mau syukuran empat bulanan kehamilan aku. Kamu dateng ya sama Yudha dan yang lainnya" ucap Mbak Sari.
"Oke Mbak. Tapi dimana, di rumah Mbak atau di rumah A Aris?" tanya Tania.
"Di rumah aku. Mumpung nanti lusa tanggal merah jadi bisa hadir semua ya" ucap Mbak Sari.
"Insya allah Mbak aku dateng" senyum Tania.
"Duh bentar lagi jadi tante donk aku. Eh, jangan tante ah manggilnya, kakak aja ya" ujar Tania.
"Kamu ini sadar umur woyyy udah mau seperempat abad juga mau di panggil kakak" ucap Mbak Sofie.
"Hahaha santai atuh Mbak, lagian yang cocok di panggil tante mah Mbak Sofie" kekeh Tania.
"Dasar ya ni anak" gemas Mbak Sofie.
"Wahh, bisa sering main atuh Mbak"
"Iya nanti mampir ya pas udah pulang dari pengajian Sari" ajak Sofie.
"Oke Mbak. Eh, Mbak pas malam minggu kemarin aku kan lagi makan sama A Yudha dan yang lainnya ya, tau gak aku ketemu siapa?"
"Lah siapa?" tanya Mbak Sofie dan Mbak Sari berbarengan.
"Kecengan Mbak Sofie waktu di nikahan Mbak Sari"
"Wah masa, Tan?" tanya Mbak Sofie terkejut.
"Iya. Dan tau gak dia ngajakin aku buat nyanyi ke stage bikin aku malu lagi" ucap Tania.
"Bikin malu kayak gimana?"
"Aku lagi anteng aja nikmatin makanan, kan ada live music tuh. Taunya si vocalis nyamperin aku lah buat ngajak nyanyi di stage. Mana lagi banyak pengunjung lagi disana. Otomatis lah aku jadi pusat perhatian semua orang" jelas Tania.
__ADS_1
"Jangan bilang kalau vocalis yang kamu maksud itu cowok kecengan aku"
"Haha seratus buat Mbak Sofie" kekeh Tania.
"Aje gilee..... Kayak artis atuh kamu waktu itu teh, Tan" gelak Mbak Sari.
"He em Mbak. Hahahah" keduanya pun tertawa kecuali Mbak Sofie yang mukanya kecut mendengar cerita Tania.
"Sabar, Fie. Belum jodohnya. Kayaknya tuh orang suka sama Tania" ucap Mbak Sari mengusap punggung Mbak Sofie dengan tersenyum menenangkan.
"Apaan sih lebay deh" ucap Mbak Sofie menurunkan lengan Mbak sari. "Ngecengin kan bukan berarti harus di miliki. Aku mah cukup menyukai dalam diam aja" jawab Mbak Sofie.
"Kalem aja Mbak aku sama dia mah temenan aja kok" ucap Tania
"Ih kalian apaan sih. Aku kan hanya sebatas suka aja kayak aku suka sama Lee Min Ho" kekeh Mbak Sofie.
"Hahah iya deh iya kita percaya" gelak Tania dan Mbak Sari.
"Yaudah yuk ah kita kerja dulu tuh bel udah berbunyi" ucap Mbak Sari mengakhiri percakapan.
Menjaga mood baik di pagi hari itu adalah jurus jitu. Terbukti dengan segala kegiatan pekerjaan hari ini Tania mampu melewatinya dengan baik. Bisa menularkan semangat baik bagi para karyawan yang lain termasuk Mbak Ani yang sejak kehamilannya moodnya jadi naik turun.
Setelah pusing memenuhi segala kesempurnaan pekerjaan hari ini dari Pak Mul, Mbak Ani menghampiri Tania di ruangannya dengan raut muka yang kesal.
"Kenapa Mbak?" tanya Tania
"Kesel aku sama Pak Mul hari ini" ucap Mbak Ani bersungut sambil duduk di depan meja Tania.
"Suruh ini lah harus itu lah. Capek kan aku tuh mana lagi hamil. Aku sekarang jadi mudah capek, Tan" jarang sekali Mbak Ani berkeluh kesah kepada Tania seperti hari ini.
"Sabar, Mbak. Aku juga tadi lihat Mbak Ani udah bete mukanya makanya aku tadi berkeliling bantuin operator. Nih Mbak minum dulu" ucap Tania sambil mengasongkan botol air mineral baru yang masih tersegel.
"Loh ini kan punya kamu. Nanti kamu minum gimana?"
"Gampang aku mah bisa lari ke kantin nanti. Kalo bumil kan repot. Makanya ini buat Mbak Ani aja sama ini nih aku bawa coklat biar moodnya baik lagi"
"Wah makasih banget loh, Tan" mata Mbak Ani berbinar kala melihat coklat yang disodorkan oleh Tania.
"Tumben kamu bisa kalem, biasanya kalo denger Pak Mul teriak-teriak kamu suka panikan"
"Gak tau Mbak, moodku lagi bagus aja hari ini" kekeh Tania.
__ADS_1
Drrrtt.....Drrttttt..... Ponsel Tania bergetar dalam laci meja. Ia bergegas mengambilnya dan melihat apakah pesan masuk atau sekedar missed call saja sebab getarannya hanya sebentar. Tania suka membiasakan dirinya kalau sedang bekerja ponselnya selalu disenyapkan. Rupanya sebuah pesan masuk. Dari siapa ya kira-kira???