Cahaya Cinta Tania

Cahaya Cinta Tania
Tania kesayangan


__ADS_3

Yudha PoV


Aku tidak habis pikir apa isi kepala laki-laki breng sek itu. Tebal sekali mukanya. Aku juga heran kenapa Tania masih saja bersikap baik terhadapnya setelah apa yang laki-laki itu perbuat. Tania itu lugu atau naif sih sebenarnya. Terkadang aku juga tidak mengerti apa yang ada di hati dan pikiran anak itu.


Tapi tetap kepercayaannya terhadapku lebih besar dari apapun. Lihat saja ketika si breng sek itu tadi hampir menjatuhkan harga diriku, Tania dengan lantang membelaku dan membuat si kampret itu mati kutu. Hah, Rasakan !


"A, omongan A Irwan tadi gak usah dianggap ya" begitulah ucapannya saat sampai di pabrik. Mungkin dia merasa tidak enak hati terhadap aku, Nicko dan Iqbal. Kalau bukan ditempat umum sudah ku hadiahi bogem mentah dimukanya. Jiwa laki-laki tapi mulut macam lambe turah.


"Santai aja, Tan. Gak usah kamu pikirin juga yah" ucapku menenangkan wajahnya yang gusar.


"Dari awal juga aku gak setuju dia ikut makan bareng kita, tapi A Nicko malah menyetujui" keluhnya.


"Ya sudah tidak apa-apa toh perut juga udah kenyang. Kalo dia bilang sesuatu sama kamu laporin ke aku ya" ucapku memegang bahunya dan dia pun mengangguk. Adikku yang satu ini memang penurut gumamku dalam hati.


Aku tidak tahu juga tujuan laki-laki itu apa mendekati Tania lagi seolah tidak melakukan apa-apa. Bahkan Tania sendiri pun tidak tahu menahu dan sudah masa bodo tentang laki-laki itu. Malas rasanya mau menyebutkan namanya.


Awalnya aku ikut bahagia saat Tania bercerita bahwa kini ia sedang dekat dengan seseorang. Aku percaya saja saat kampret itu memberi perhatian yang lebih kepada Tania. Setiap hari tak terlewatkan untuk mengantar dan menjemput Tania bekerja.

__ADS_1


Seperti wanita pada umumnya jika sedang dekat dengan seseorang yang ia suka pasti akan mengharapkan hal yang lebih. Aku tak berani berkomentar karena Tania sendiri tampak nyaman dan tidak ambil pusing. Tapi lama kelamaan aku merasa khawatir akan hal ini namun tidak aku ungkapkan tentunya. Takut kalau Tania tersinggung, sedekat apapun kita tetap saja dia butuh ruang privasi yang tidak ingin dijamah oleh orang kecuali kalau dia yang mengijinkan .


"A, lama lama kok aku gak nyaman yah dalam kondisi kayak gini" ucapnya saat aku menghampirinya di ruangannya.


"Kondisi gimana maksud kamu?" aku pura-pura tidak mengerti padahal aku sudah tau arah pembicaraan Tania.


"Iya kondisi hubungan aku sama A Irwan" ucapnya dengan suara pelan.


Aku menarik nafas pelan, sebisa mungkin aku tidak boleh menyinggung perasaannya. "Memangnya ada apa? Apa ada masalah?" tanyaku.


"Ya gitu deh, A. Orang lain kira kita itu pacaran padahal kan sebenarnya tidak. Malah aku berkali-kali minta kejelasan hubungan antara aku dan dia tapi dia kayak yang gak mau ngambil keputusan"


"Ya udah kamu jangan lanjutin lagi perasaan kamu" ucapku santai yang membuatnya terhenyak kaget.


"Maksud A Yudha gimana?" tanyanya lagi.


"Tania.." ucapku pelan sambil menatap matanya.

__ADS_1


"Itu artinya dia tidak mau terlibat dalam satu hubungan. Kata kamu dia itu playboy sang suka gonta-ganti cewek" dia menatapku dengan seksama menunggu kelanjutan kata-kataku. "Dia sudah nyaman dengan hubungan tanpa status, dan menurut aku itu bukan sikap laki-laki sejati. Tidak mau mengambil resiko, tidak gentle" tegasku.


"Dan tentunya jika dia terikat dalam status, itu akan membuat gerak kebebasannya terbatas" lanjutku lagi.


Dia menunduk seperti memikirkan sesuatu, mungkin merenungkan setiap kata-kataku. Sejak saat itu, dia tidak pernah lagi membicarakan tentang laki-laki itu. Sampai pada pernikahan Sari ada kejadian yang membuatnya begitu terluka. Kata-kataku sebelumnya sekarang terbukti nyata, laki-laki itu datang dengan menggandeng seorang wanita cantik dihadapan Tania. Aku lihat raut wajah Tania, ada gurat kekecewaan yang dalam, tugasku kali ini memalingkan keadaan agar Tania tidak larut dalam emosinya.


Bukan Tania namanya jika tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Anak itu selalu tampil ceria walaupun hatinya rapuh. Namun suatu hari saat Tania sakit, aku ingin marah dan mendatangi laki-laki itu, ingin memakinya karena dia sudah berani membuat adik kesayanganku itu jatuh sakit.


Aku tidak tega melihatnya, bukan hanya aku tapi Nicko dan Iqbal pun merasakan hal yang sama. Tidak pernah kami melihat Tania seterpuruk itu. Mungkin karena ini kali pertama lagi setelah sekian lama ia jatuh cinta.


"Gedek gue sama tuh cowok. Beraninya mainin cewek sebaik si Tanikuk" geram Nicko.


"Gue kira tuh cowok bakalan insyaf kayak gue makanya gue dukung penuh Tania sama tuh cowok. Eh Taunya malah jadi korban ke playboyannya dia aja. Belum tau dia nih bodyguardnya si Tania" cerocos Iqbal.


Aku hanya tersenyum saja menanggapi omelan makhluk dua itu. Ternyata kesedihan Tania belum selesai manakala ada masalah di mesin dan penyebabnya itu Tania. Iqbal yang jadi korban amukan singa hanya bisa pasrah, mungkin kalau yang membuat kesalahan operator yang lain ia tidak akan diam dengan omelan Pak Mul.


Surat peringatan ia kantongi di hari pertama ia masuk setelah sakit. Belum lagi, insiden di bagian lorot benang yang aku kira baik-baik saja tapi kenyataannya tidak baik-baik saja. Aku mencari dia ke kantin, ke tempat benang, dan bahkan ke musholla tapi aku tidak melihat batang hidungnya sama sekali. Berkali aku menghubunginya tapi tidak tersambung. Kemana anak itu? pikirku.

__ADS_1


Aku putuskan untuk pulang saja bersama Nicko dan Iqbal. Setelah agak malam ia baru menghubungiku. Aku merasa lega mendengar dia baik-baik saja dan pulang dengan selamat. Tapi aku juga merasa kesal mendengar bahwa laki-laki itu datang menemui Tania dengan membawa sebuah hadiah sebagai rasa permintaan maaf. Tania tidak menanggapinya, ia sudah memutuskan untuk tidak lagi memikirkan laki-laki itu. Syukurlah ucapku dalam hati.


Ia lanjutkan bercerita saat ia di hukum dibagian lorot, ternyata ia mendapatkan perundungan disana, makanya saat aku cari ternyata sebenarnya ada di toilet untuk meluapkan emosinya dengan menangis. Aku putuskan untuk membantu sisa hukumannya, aku mengajaknya untuk datang pagi sekali kepada Tania agar pekerjaannya segera selesai dan tidak bertemu lagi dengan para emak gengster. Hahah julukan yang diberikan Tania pada ibu-ibu dibagian lorot itu membuatku, Nicko, dan Iqbal tertawa terbahak-bahak. Sampai Iqbal mengira geng motor yang menganggunya, tahunya barisan para emak di bagian lorot.


__ADS_2