
Sehari sebelum weekend, Tania ditelepon agar masuk kerja. Jatah di rumahkannya jadi tidak full satu minggu sebab jum'at ini ia harus masuk.
Ada sample yang lulus percobaan dan akan dilakukan produksi kecil sebanyak 2 lusin sweater anak. Operator mesin masih belum ada yang masuk karena orderan yang datang masih dalam jumlah yang sedikit dan masih bisa dilakukan oleh kepala regu, wakil kepala regu, admin produksi dan teknisi mesin.
Saat berangkat Tania naik ojek online sebab angkutan karyawan tidak beroperasi selama karyawan dirumahkan. Sudah dua hari Yudha tidak bisa dihubungi. Terakhir ia menghubungi Tania hanya untuk memberitahukan agar Tania tidak usah menengoknya lagi. Setelah itu nomornya tidak bisa di hubungi dan ketika ditanyakan pada Neng, hanya jawaban tidak tahu yang Neng ucapkan.
Ia juga tidak tahu apakah Yudha sudah masuk kerja apa belum, luka lebamnya masih terlihat atau tidak. Setelah rasa bersalah yang Tania rasakan kini malah muncul rasa khawatir akan Yudha.
Sesampainya di pabrik seperti biasa Tania menuju ruang kerjanya. Dilihatnya meja dan loker yang berdebu.
Ditinggalin hampir satu minggu aja ni ruangan seperti rumah tak berpenghuni, banyak debunya. Gerutu Tania dalam hatinya.
"Wessss kemana aja Tanikuk, aku kira kamu menghilang bak ditelan bumi. WA Grup aja sepi geng kita apa kabarnya nih?" Nicko tiba-tiba masuk kedalam ruangan Tania, ia mendengar dari Mbak Ani bahwa hari ini Tania masuk kerja langsung saja ia bergegas menemui Tania di ruangannya.
Plakkkk......Tania memukul lengan Nicko.
"Euhhh kebiasaan suka ngagetin aja. Aku menjadi kaum rebahan selama ini. Lagi hibernasi dulu siapa tau berubah jadi sultan hahahah" oceh Tania
"Ngehalu aje lu hobinya" cibir Nicko.
"Biarin. Menjaga kewarasan asal ngehalu nya dalam batas kewajaran" kilah Tania.
"Seterah deh asal kamu bahagia"
"Eh, A Yudha apa sudah masuk kerja?"
"Dari kemarin tuh anak udah masuk. Kenapa emangnya tumben nanyain bukannya gak lepas komunikasi antara lu sama tuh anak?"
"Hmmmm udah dua hari dia gak bisa dihubungin"
__ADS_1
"Lah emang lu gak tau? Dia kan ganti nomor"
"Hah? Serius? Tapi dia sehat kan, A? Sekarang dimana?"
"Biasa aja kali ah. Kalo nanya tuh satu-satu. Nanya kok kayak wartawan pemburu berita"
"Tuh ada dibelakang lagi ngupi sama si Babal"
"Dia sehat udah baikan. Emang dia sakit apa sih kemaren?" Rupanya Nicko tidak tahu insiden yang menimpa Tania dan Yudha. Ada bagusnya kalau Nicko tidak tahu, urusannya bisa panjang.
Saat Tania hendak menemui Yudha di gerbang belakang, Mbak Ani menghampirinya dan menyuruh Tania mengambil benang kebagian gulung benang sehingga rencana menemui Yudha tertunda.
Begitu selesai membawa benang, Mbak Ani menyuruh Tania untuk langsung memasang benang dan menyusunnya sesuai pola. Kali ini Mbak Ani tidak bisa bergerak cepat apalagi memasang benang diatas mesin yang cukup tinggi karena perutnya yang kian membesar. Untuk menggapai atas mesin saja harus pakai bangku. Bahaya kalau ibu hamil sampai harus naik bangku pasang benang diatas mesin.
Lumayan lama juga aksi pasang memasang. Selain harus sesuai pola, tata letak benang juga ketika dimasukkan ke feeder harus teliti. Kalau salah bisa-bisa mesin akan nabrak dan mematahkan banyak jarum. Pak Mul terlihat santai saat memprogram mesin di samping Tania. Biasanya dia akan tampil kasual dengan selalu memakai sepatu kets, namun kali ini beliau hanya memakai sandal jepit produk lokal.
Mesin dijalankan perlahan, Pak Mul dan Mbak Ani tampak mengamati jalannya mesin. Setelah produksi keluar satu pieces, Pak Mul bergegas mengukur produksi agar sesuai dengan ukuran yang telah ditentukan. Setelah disesuaikan ukurannya, Pak Mul menginstruksikan agar produksi dijalankan sesuai dengan target. Mbak Ani tampak mengangguk patuh, Tania membereskan sampah sisa memasang benang tadi.
Saat hendak menyapa, Yudha yang begitu melihat Tania langsung menghindar. Tania melambaikan tangannya sambil tersenyum ke arah Yudha tapi tidak dihiraukan. Yudha berlalu begitu saja.
Hatinya mendadak tidak enak mendapat perlakuan yang tidak biasanya dari Yudha. Ia masih berpikiran positif dan berniat menyapa Yudha saat jam istirahat nanti.
Menjelang istirahat, Tania bersiap-siap menuju musholla. Hal yang akan pertama ia lakukan saat jam istirahat adalah sholat dzuhur dulu baru makan siang agar santai.
Dikantin, Tania memesan ayam kecap pedas favoritnya. Seminggu tidak makan masakan Bu Maryati membuatnya rindu. Ia duduk dibangku kosong dekat jendela sambil matanya menelaah setiap orang yang ada di kantin, siapa tahu ada Yudha dan kawan-kawannya.
"A Yudha" ucap Tania melambaikan tangannya kearah Yudha. Tiga serangkai itu menoleh kearah Tania dan membalas lambaian tangan Tania. Lain halnya dengan Yudha, ia langsung bergegas pergi tanpa menghabiskan makanannya. Nicko dan Iqbal dibuat heran dan terkejut dengan perubahan sikap Yudha yang tiba-tiba.
Tania hendak menyusul Yudha pergi tapi hatinya tertahan untuk segera mengisi perutnya yang lapar. Tetap saja walaupun lapar, rasanya hambar ketika ia makan. Diingatnya apakah ia belum berdo'a sehingga makanan yang begitu lezat tidak terasa dilidahnya.
__ADS_1
Semakin tersadar, mungkin karena sikap Yudha yang berubah 360 derajat, sehingga membuat hati Tania teriris dan membuat makannya terasa hambar.
Kenapa tiba-tiba sikap A Yudha berubah drastis ya....
Dua hari ini dia tidak bisa di hubungi.
Aku sapa aja dia tidak respect.
Lalu kata A Nicko dia ganti nomor dan aku gak di kasih tau? Dua kali bertemu tapi dia malah pergi menghindar. Apa aku melakukan kesalahan yang tidak aku sadari ya sehingga A Yudha begitu marah?
Tania bergelut dengan hatinya, makanan didepannya hanya ditatap dengan nanar, sorot matanya mendung. Perasaannya akan jauh lebih sensitif jika ia diperlakukan berbeda oleh orang yang disayanginya.
"Makanan diliatin, makanan tuh di makan Oneng" seru Nicko menoyor kepala Tania.
"Hilang ***** makannya" lirih Tania.
"Lu kenapa sih sama si Yudha? Ada masalah apa? Kok gue gak tau?" ucap Nicko penasaran.
"Aku juga gak tau salah aku apa. Tiba-tiba aja A Yudha berubah. Ganti nomor juga aku gak dikasih tau"
"Seriusan lu gak di kasih tau? Biasanya lu bakal jadi orang pertama yang dia kasih tau. Gue juga heran kenapa tuh anak tiba-tiba gitu sama elu"
"Nanti deh gue coba ngomong sama si Yudha kali aja gue bisa bantu masalah lu sama dia" ucap Nicko menepuk-nepuk bahu Tania lembut.
"Oke deh, A. Makasih ya sebelumnya"
"Gampang lah, kayak kesiapa aja lu. Nanti lu pulang sama gue aja ya. Gue yakin si Yudha kagak bakalan anterin lu kalo kayak gini"
"Iya deh, A. Makasih ya"
__ADS_1
"Makasih-makasih mulu. Traktir ah"
"Oke deh nanti kalo gajian aku traktir" ucap Tania dengan senyum mengembang. Beruntung Tania dikelilingi oleh teman yang begitu peduli dan menyayanginya.