Cahaya Cinta Tania

Cahaya Cinta Tania
Gara-gara Chatting


__ADS_3

"Tan, kamu hari sabtu ada acara gak?" tanya Yudha disela pekerjaan. Pada saat itu Tania sedang menyusun laporan patahan jarum.


"Mmm mau nganter Wulan kayaknya, ada apa emang, A?" tanya Tania menghentikan kegiatannya sejenak.


"Itu si Neng mau minta anter beli hadiah buat temennya. Dia gak mau aku anter katanya aku mah gak sabaran" Neng adalah adik bungsu dari Yudha dan sangat dekat dengan Tania seperti halnya Salwa.


"Aku juga gak tahu pasti sih Wulan ngajaknya hari minggu atau sabtu. Nanti aku kabari lagi deh" ucap Tania.


"Okok" balas Yudha melingkarkan ibu jari dan telunjuknya pertanda oke.


Hari itu Tania lumayan sibuk, menjelang weekend harus ada beberapa pekerjaan yang dilaporkan. Begitu pula dengan para teknisi mesin, belakangan ini orderan memang sedikit berkurang sehingga ada beberapa mesin yang dimatikan. Dan Pak Mul mengambil inisiatif agar mesin dibongkar untuk dibersihkan perbagian-bagiannya dan para teknisi lah yang diharuskan untuk membersihkannya.


Perkiraan awal minggu depan akan ada beberapa karyawan yang di rumahkan karena minimnya orderan. Jadi hanya beberapa karyawan saja yang masuk. Mbak Ani sibuk mengatur ulang jadwal siapa saja yang masuk agar sistem di rumahkannya bergiliran.


Membersihkan satu mesin saja membutuhkan 3 orang dan paling lama sampai 2 hari membersihkan peretelan jarum-jarumnya. Sebagian karyawan ikut membantu membersihkan daripada tidak ada kerjaan. Setelah selesai membuat laporan, Tania bisa sedikit santai. Ia buka ponselnya hendak membaca novel online. Tapi rupanya ada pesan masuk dari Akbar di ponselnya, segera ia buka dan membacanya.


"Pulang kerja jam berapa?"


"Biasa jam 4. Kenapa emang?"


"Oh gapapa nanya aja haha"


"Kurang kerjaan amat sih"


"Emang"


"Loh kok bisa?"


"Ya kerjaannya udah pada beres tinggal nunggu jam pulang aja dari pada bengong mending nyari orang buat di ajak chat"


"Beuhh parah"


"Kebetulan kamu satu-satunya temen yang respon chat dari aku jadi tanggung jawab ya"


"Tanggung jawab apaan? Orang kamu juga yang duluan ngechat"

__ADS_1


"Iya tanggung jawab temenin aku chat sampai jam pulang"


"Itu mah pemaksaan"


"Lah emang kamu gak kerja?"


"Kerja atuh"


"Maksudnya ini kan jam kerja kok bisa chat?"


"Baru beres bikin laporan juga"


"Tuh, kan emang kebetulan kamu juga sama makanya kita chattingan aja ya"


"Mmmm gimana ya?"


"So' so'an pake mikir segala dari tadi juga kan udah balas terus chat aku hahahaha"


"Ishh gak tau basa basi kamu mah"


"Iya kode pos"


Tania asik saja berkirim pesan dengan Akbar tanpa mengetahui kalau Pak Mul memperhatikannya di depan mejanya. Memang ruangan Tania tidak berpintu agar mudah akses keluar masuk untuk setor hasil produksi.


"EHM" suara khas Pak Mul menyadarkan Tania. Ia kikuk melihat Pak Mul sudah berdiri di depan mejanya dan tidak tahu sudah berapa lama beliau disitu.


"Eh, Pak" Tania menganggukkan kepalanya dan menyembunyikan ponselnya.


"Ngapain kamu ketawa sendiri. Hati-hati kesambet kamu" tegur Pak Mul.


"Eh gapapa, Pak. Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya Tania gugup.


"Mana laporan patahan jarum?"


"Ini, Pak. Baru saja saya mau berikan kepada Bapak" ucap Tania beralasan.

__ADS_1


"Hmmm" gumam Pak Mul seraya membaca hasil laporan sambil mengkerutkan dahinya dan mengangguk-ngangguk.


"Lain kali kalau mau main hp jangan pas jam kerja. SP 1 kamu belum 3 bulan bisa-bisa naik jadi SP 2. Kalau laporan juga langsung kasihin jangan dinanti-nanti, saya menunggu lama jadinya ta' kira kamu belum selesai taunya lagi chatting" ceramah Pak Mul sambil berlalu meninggalkan ruangan Tania.


"Hufthhhhhh" Tania menghela nafas dan membuangnya kasar.


"Untung gak pake auman harimau ceramahnya. Coba kalo pake bisa jadi malu aku tuh" gumam Tania sambil membereskan meja dan ruangannya sebab sebentar lagi jam pulang kerja.


Sesampainya di rumah, Tania bersih-bersih seperti biasa. Saat pulang tadi ia naik jemputan karyawan sebab Yudha masih membongkar mesin untuk dibersihkan kemungkinan pulangnya akan malam. Didapur, ia mengambil cemilan kemasan yang tersimpan dalam lemari dan dibawanya ke kamar.


Kamar Tania tergolong rapi, namun sedikit berantakkan karena barang dan baju seragam kerja tercecer diatas kasur. Seperti biasa untuk menemaninya beres-beres ia hendak memutar musik di ponselnya tapi ia teringat akan sesuatu. Pesan Akbar ia abaikan sejak ditegur Pak Mul. Saat itu karena kaget, Tania langsung memasukkan ponselnya kedalam tas beserta perlengkapan kerja. Begitu dibuka benar saja ada beberapa panggilan tak terjawab dan pesan berantai dari Akbar.


"Maaf tadi kena tegur bos gara-gara kamu" tulis Tania dan langsung di baca oleh Akbar.


"Kirain kemana ngilang tiba-tiba"


"Sorry. Kamu sih ngajak chat jadi aja aku kena teguran"


"Lah, kok gara-gara aku sih. Tapi sorry juga deh hahah. Harusnya gak ngajak chat di jam kerja"


"Haha santai aja lagi aku juga salah"


Niat hati mau menyetel musik untuk menemani beberes kamar, eh Tania malah asik ngobrol via chatting bersama Akbar. Percakapan mengalir begitu saja, sepertinya kedekatan antara mereka mulai terjalin. Tania dan Akbar hampir mempunyai karakter yang sama sehingga tidak sulit untuk saling akrab. Apalagi tidak ada jaim diantara mereka, tidak seperti saat ia mengenal Irwan dulu.


Berteman dengan Akbar, Tania bisa menjadi diri sendiri. Sama halnya berteman dengan yang lainnya, ia dan Akbar selalu saling mengingatkan apalagi dalam hal beribadah. Meskipun tinggal bersama Nenek dan Kakeknya, Tania salut dengan dedikasi yang tinggi tentang pendidikan moral dan agama yang Nenek dan Kakek Akbar berikan pada Akbar. Sehingga Akbar merasa dibesarkan dengan orang tua yang lengkap walau kenyataannya tidak demikian.


Lama mereka chatting sampai terpotong waktu maghrib dan setelahnya mereka lanjutkan dengan mengobrol via telepon. Seperti tidak ada habisnya bahan pembicaraan yang mereka obrolkan. Tania merasa seperti berbicara dengan seorang penyiar radio, meskipun laki-laki tapi Akbar sangat cerewet layaknya perempuan. Tania sudah kehabisan bahan obrolan tapi Akbar membukanya dengan obrolan yang lain.


Tania sudah menguap tanda ingin mengistirahatkan raga, tapi sepertinya yang di seberang sana masih on dengan battery full. Ponsel masih menempel dipipi Tania sebab Tania tiduran dengan posisi miring. Akbar masih saja nyerocos, merasa tidak ada jawaban akhirnya ia pun pamitan karena mungkin alam bawah sadar Tania masih mendengar ia berbicara.


"Hallo, Tan udah tidur ya? Maaf ya ngobrolnya kepanjangan abis seru juga ngobrol sama kamu"


"Thanks untuk waktunya ya. Besok temenin ngobrol lagi ya. Tapi aku gak akan ngajak chat lagi di jam kerja kok"


"Have a nice dream. Assalamu'alaikum Tania" pungkasnya yang entah di dengar atau tidak oleh Tania.

__ADS_1


__ADS_2