
Setelah mengungkapkan unek-unek di hatinya,Tania merasa lebih baik. Tidak ada rasa yang mengganjal lagi. Kini ia harus perlahan menghapus nama Irwan yang selama beberapa bulan ini mempunyai tempat dihatinya. Kalau bisa memilih dulu ia tidak perlu merespon ajakan Irwan untuk berkenalan jika ia tahu akhirnya akan seperti ini. Lagi Tania terjerat cinta yang bertepuk sebelah tangan, atau lebih tepatnya korban harapan palsu.
Rasanya seperti de javu, namun kali ini ia bisa mengontrol perasaannya sendiri. Kata pengalaman adalah guru yang berharga nyata adanya. Tania sudah mempersiapkan kemungkinan pahit yang terjadi selama ia mencintai Irwan. Ia sendiri sudah mewanti-wanti hatinya agar tidak sampai jatuh hati kepada Irwan, tapi jerat cinta Irwan memaksanya untuk lebih dalam lagi.
Memikirkan perasaannya membuat pola tidur dan pola makan Tania menjadi terganggu. Asam lambungnya kembali naik, ingin rasanya ijin barang satu hari saja tapi di pabrik sedang kejar orderan yang akan ekspor minggu ini. Terpaksa Tania pergi bekerja dengan keadaan badannya yang tidak fit. Semalaman ia tidak bisa tidur, terasa sakit di ulu hatinya, badannya menggigil dan berkeringat dingin. Ibu yang khawatir sempat melarang Tania untuk tidak bekerja saja tapi Tania meyakinkan Ibunya bahwa ia kuat dan baik-baik saja ditempat kerja juga Yudha dan teman-temannya pasti membantu pekerjaan Tania. Dengan berat hati Ibu membiarkan Tania untuk pergi bekerja.
Setiap satu jam sekali Ibu tidak henti memantau keadaan Tania dengan selalu mengirimkan pesan, tapi karena kesibukannya Tania tidak bisa membuka ponselnya. Selesai membuat laporan dan mengecek mesin Tania kembali ke ruangannya. Ia menelungkupkan tangannya untuk tidur diatas meja. Mungkin dengan memejamkan mata sejenak pusingnya akan hilang pikir Tania. Mumpung kerjaan juga masih belum begitu banyak.
Yudha memasuki ruangan Tania sebab dari tadi ia mencari keberadaan Tania. Biasanya setelah ia membuat laporan suka berkelililng membantu operator, tapi tidak kelihatan batang hidungnya. Yudha sudah menduga pasti Tania ada diruangannya, dan benar saja ada. Yudha melihat Tania seperti yang murung dipegang bahunya kemudian Tania mengangkat kepalanya dan dilihatnya ternyata Yudha. Tania tersenyum sambil membenahi jilbabnya yang tidak karuan.
"Kamu kenapa?" Tanya Yudha khawatir.
"Aku gak enak badan, A" jawab Tania.
"Udah tau gak enak badan ngapain kamu masuk kerja?" sewot Yudha.
"Sayang, A. Nanti gaji di potong heheh" dalam keadaan seperti itu Tania masih sempat untuk bercanda.
"Kondisi kayak gini masih mikirin gaji. Pikirin tuh kesehatan kamu, kesehatan itu nomor satu. Wajah kamu pucat banget lagi" ucap Yudha sambil menempelkan tangannya ke dahi Tania. "Kamu demam. Badan kamu panas. Pulang aja aku takut kamu kenapa-napa. Aku yang bakal anterin kamu. Diem disini aku minta surat ijin pulang dulu" perintah Yudha.
Tania hanya diam saja mematuhi kata-kata Yudha. Badannya makin menggigil dan panas. Tak lama Pak Mul datang menghampiri Tania dengan muka yang tak kalah khawatir juga.
"Kamu kenapa Tania?" tanya Pak Mul.
"Saya gak enak badan, Pak. Kalau boleh saya mau minta ijin pulang sekarang" ucap Tania.
"Wajah kamu pucat gini. Hayu ikut saya ke klinik pabrik" seru Pak Mul.
__ADS_1
"Gak usah, Pak. Biar nanti saya ke dokter praktek yang deket rumah aja. Lagian kan itu khusus staf kantor, Pak" tolak Tania.
"Gapapa aku gak mau karyawanku kenapa-napa. Kalau kamu pulang sekarang saya khawatir kamu pingsan di jalan. Ayo jangan bantah lagi" ucap Pak Mul dan Tania akhirnya mengikuti Pak Mul dengan berjalan perlahan sebab badannya terasa lemas untuk berjalan. Sesampainya di klinik Tania langsung di periksa dokter jaga sedangkan Pak Mul menunggu di ruang tunggu.
"Ini obat untuk demamnya diminum tiap 6 jam sekali ya sesudah makan, ini obat asam lambungnya diminum satu jam setelah makan, terus ini antibiotiknya habiskan diminum 3x1. Ini vitamin penambah darah, tadi tensinya rendah juga ya 80/70. Banyak istirahat dan minum air putih" jelas dokter yang bernama Rina di name tag nya.
"Baik dokter, terimakasih" ucap Tania. Selesai diperiksa Tania kembali keluar menghampiri Pak Mul, mereka kembali lagi kedalam pabrik. Yudha dan Mbak Ani sudah menunggu di ruangan Tania.
"Yud, gimana udah selesai surat ijinnya?" Tanya Pak Mul.
"Sudah Pak, tinggal ditanda tangani sama Tania" ucap Yudha.
"Ya sudah saya mau balik keruangan saya dulu lanjutin bikin program. Yudha nanti ini kamu belikan Tania makanan sama buah-buahan terus multivitamin buat Tania. Jangan kenceng-kenceng nanti kamu bawa motornya. Liat dia aku ngerasa inget sama anak aku waktu sakit kemarin. Cepet sehat lagi ya" ucap Pak Mul menepuk bahu Tania sambil berlalu. Kepala Bagiannya itu terkenal seperti singa yang suka mengaum, tapi hari ini baik Mbak Ani, Yudha, maupun Tania melihat sisi lain dari diri Pak Mul. Kehangatan sebagai seorang ayahnya terasa kentara.
"Oke pak" jawab Yudha.
"Sekali lagi terimakasih ya Pak" ucap Tania.
"Sluuuuuurrrpp......" Tania menyeruputnya pelan.
"Mau pulang sekarang? Ini tanda tangan dulu" tanya Yudha sambil mengasongkan selembar kertas dari personalia. Tania meraihnya dan membubuhkan tandatangannya.
"Mbak, maaf ya hari ini aku ijin kerja dulu. Ini sekalian aja sekarang surat dokternya ya. Aku dikasih ijin tiga hari buat istirahat" ucap Tania sambil memberikan amplop berisi surat dokter dari klinik tadi.
"Iya gapapa, Tan. Kamu istirahat aja dulu biar cepet sehat lagi. Jangan banyak pikiran juga" ucap Mbak Ani.
"Iya Mbak. Makasih ya" ucap Tania.
__ADS_1
Tania dan Yudha pun meninggalkan pabrik. Sesuai amanat dari Pak Mul, Yudha menjalankan motornya pelan.
"Kamu kalo pusing nyender aja. Pegang pinggang aku bisi kamu jatoh" ucap Yudha. Tania menurut, ia menyenderkan kepalanya pada punggung Yudha dan tangannya memegang pinggang Yudha. Tania tidak banyak bicara, kepalanya terasa berat dipikirannya ia ingin segera sampai di rumah dan tidur dalam gulungan selimut.
"Kita mampir dulu beli makanan ya sama vitamin" ucap Yudha. Tania menggeleng.
"Belinya nanti aja pas A Yudha pulang kerja. Aku pengen cepet sampe gak kuat pusing" ucap Tania.
"Ya udah atuh nanti aku beliin pas pulang kerja terus dianterin ke rumah kamu ya" ucap Yudha.
Lima belas menit akhirnya Tania sampai di rumahnya. Saat membuka pintu Ibu sangat kaget campur khawatir melihat anaknya di gendeng dengan wajah pucat.
"Eleuhhh anak Ibu. Masuk A" ucap Ibu.
"Kata Ibu juga apa tadi jangan masuk kerja dulu. Da kamu mah bandel maksa wae mau kerja jadi we akhirnya ngerepotin orang".Ucap Ibu meski khawatir tetap saja cerewet.
"Gapapa, Bu. Saya gak ngerasa di repotin kok. Tadi sama Pak Kabag sudah di bawa ke dokter juga. Obatnya ada di kantong ini" ucap Yudha memberikan kantong berisi obat. Tania langsung menuju kamarnya begitu masuk rumah dan tidur di kamarnya.
"Tuh kan sampe di bawa ke dokter segala. Bilangin terimakasih ya, A dari Ibu" ucap Ibu.
"Iya bu. Kalau begitu saya pamit ke pabrik lagi ya, Bu" ucap Yudha undur diri.
"Iya atuh A. Padahal mah minum dulu atuh" tawar Ibu.
"Gak usah, Bu. Ini sudah di tunggu juga di pabrik. Nanti pulang kerja saya kesini lagi nganterin vitamin buat Tania" ucap Yudha.
"Oh gitu. Ya udah atuh terima kasih banyak ya, A" ucap Ibu
__ADS_1
"Iya, Bu sama-sama. Assalamu'alaikum.."
"Wa'alaikumsalam"