
Aarav sudah mendapatkan jawaban dari kedua orang tuanya, untuk sementara, Laras dan Alex ingin bertemu dengan Netta.
"Dia itu gadis seperti apa?" tanya Laras dalam sambungan telepon.
"Netta, gadis yang kampungan. Namun, aku suka dia karena sangat sederhana dan tidak neko-neko."
"Hm, apa gadis udik yang kemarin itu ya, mommy pernah bertemu gadis itu tapi bersama Adya. Mommy kira, dia adalah kekasihnya Adya."
"Bukan mommy, dia pilihanku, tolong mommy bilang sama Tifani, aku sudah punya calon istri."
"Kau bertemu saja dengannya, bilang secara langsung."
"Oke, atur pertemuanku dengannya."
"Hari ini mommy, daddy dan Tifani serta kedua orang tuanya, akan datang di Cafe xxx, kau datang. Jam 20.00 malam, jangan lupa!"
"Iya, tapi aku naik apa ya?"
"Naik bis, kan aku sudah bilang! kau naik bis!"
"Mommy! jemput aku."
"Mommy tidak mau!"
Tut ... Tut ... Tut ....
Panggilan telepon itu pun berakhir kemudian Aarav kembali frustasi.
Dia baru saja mendapatkan pencerahan tetapi, kembali buntu.
Daripada pusing memikirkan bagaimana caranya dia pulang, Aarav memilih untuk mengerjakan beberapa pekerjaan yang sempat ia tinggalkan.
...
Sementara itu, si Adya pergi menemui Netta di dapur.
Dia menyeret tubuh gadis itu keluar dari dapur.
"Aw! ada apa Tuan? kenapa kau menyeretku seperti sapi?"
"Astaga, kau bukan sapi Netta! kau itu manusia yang sangat cantik! bagaimana bisa kau menikah dengan kakakku yang kurang ajar itu! harusnya kan kau menolaknya?"
"Tuan bos, aku tidak tahu apa-apa mengenai ini. Ayahku sedang sakit keras dan aku harus membayar biayanya, ayahku sudah setuju jika aku menikah dengan Tuan Bos. Aku tidak bisa melakukan apa-apa karena ..., sudahlah!" ucap Netta malas melanjutkan ucapannya karena dia tidak ada urusan dengan Adya.
Apalagi langsung menjuru ke permasalahan sang ayah.
__ADS_1
Dia tidak akan pernah mengatakan bahwa dia akan menikah kontrak dengan sang bos Aarav.
Rasanya seperti mengada-ada tetapi nyatanya dia juga harus menerimanya dengan baik.
Netta belum mengatakan apapun kepada ayahnya tetapi sudah berbicara banyak hal kepada Adya.
"Tuan, aku sangat pusing jadi kau pergi saja! maaf!"
Netta terlihat sangat frustasi karena dirinya mengalami permasalahan yang pelik, dia tidak mau menyulitkan ayahnya karena Aarav pasti tidak tinggal diam saat mengetahui dirinya akan menggagalkan pernikahan kontrak ini.
Netta memilih untuk mengalah dan menjalani apa yang sudah ada, dia berpikir bahwa takdirnya memang harus menikahi Bos arogan yang menyebalkan itu.
Netta meminta Adya untuk tidak mengganggunya lagi, Adya masih keukeuh untuk bersama dengan Netta.
"Aku menyukaimu, Netta."
"Aku tidak percaya, Tuan bos lebih baik jangan dekat dengan saya lagi. Sebentar lagi kita akan menjadi kakak dan adik ipar."
"Oh, jadi kau memilih kakakku?"
"Saya tidak bisa memilih Tuan, saya tidak memiliki pilihan karena saya orang miskin."
Netta pergi, dia menghentikan pembicaraan dengan Adya.
Setelah itu, masuk kembali ke dapur.
"Kakak, apa yang dia lakukan sehingga gadis seperti itu menjadi tertekan? tadi saat aku bersamanya dia ceria saja! tidak akan aku biarkan, kakak memilikinya dengan cara yang buruk!"
Adya mulai menerka-nerka apa yang terjadi, tapi pada akhirnya dia harus segera pulang ke rumah karena ada yang akan datang, dia harus bertemu dengan Tuan Fudo dan Adelio.
Adelio pulang dari Jepang bersama Tuan Fudo. Di saat bagus seperti ini, dia tidak akan pernah tanyakan kesempatan bertemu dengan Tuan Fudo yang sangat ia idolakan selama ini.
Adya lebih memilih keluarganya daripada harus ribut tentang percintaan yang belum tentu ia dapatkan itu.
Kali ini, Netta yang paling menderita dari kedua orang tersebut.
Pekerjaannya yang seharusnya segera beres semuanya menjadi berantakan.
Netta berulang kali mendapatkan teguran dari sang pembimbing, bahkan dia harus mendapatkan peringatan akan diturunkan jabatan karena bekerja tidak fokus.
Ini juga atas andil Rey Iko yang sudah melaporkan kepada pembimbing Netta, jika Netta sedang cari muka terhadap Bos Aarav.
Netta dalam posisi yang sedang tidak baik, dia kesulitan untuk bernapas karena kali ini dia berurusan dengan bos.
"Maaf Tuan Niel, saya tidak bisa bekerja dengan baik."
__ADS_1
"Saya kecewa dengan kinerja mu, tapi untuk hari ini saya akan memaafkan. Sebelum saya memilih dirimu menjadi manajer operasional, saya sudah mempertimbangkannya dengan Tuan Adya, itu yang telah merekomendasikanmu, tolong jaga kepercayaan Tuan Adya."
Netta terkejut saat mendengar pernyataan dari sang pembimbing.
Dia tidak mengetahui sama sekali jika Adya yang merekomendasikan dirinya bekerja sebagai manajer operasional, dia merasa bersalah terhadap Adya.
"Maaf Tuan, sekali lagi saya minta maaf karena tidak bisa menjaga amanah dengan baik."
"Saya akan memberikan kesempatan kedua, esok hari, kau datanglah lebih awal! saya akan memberikan tugas yang pastinya menjadi nilai plus untukmu, agar tetap bekerja di sini, kau mengerti?"
"Iya, saya mengerti dan memahami apa yang Tuan katakan, sekali lagi maafkan saya!"
"Oke, cepatlah bekerja karena 2 jam lagi kau harus pulang. Kasihan ayahmu, saya tidak tega melihat ayahmu sendiri di rumah."
"Bagaimana Tuan Niel mengetahui jika saya tinggal sendiri bersama ayah?"
"Tuan bos Aarav yang memberitahu saya, saya sebenarnya takut kepada bos. Akan tetapi karena sudah tugas saya menjadi pembimbing mu, mau tidak mau saya harus memberikan teguran agar dirimu lebih berhati-hati dalam bekerja."
"Tidak masalah Tuan Niel, saya yang harusnya mengatakan maaf kepada Tuan. Kalau begitu saya akan melanjutkan pekerjaan saya."
"Oke, kau lanjutkan segera agar bisa pulang tepat waktu. Oh ya, Tuan bos Aarav mengatakan kepada saya bahwa kau harus berhati-hati saat pulang ke rumah."
"Ha? Tuan bos mengatakan itu padamu? untuk disampaikan kepadaku?"
"Iya, saya juga tidak tahu. Rasanya aneh tetapi memang seperti itu adanya."
Netta tidak ingin terlalu banyak bertanya karena pekerjaannya kurang sedikit lagi, dia segera pamit dan masuk ke dalam dapur.
Disana ada Silvi yang sedang ketar-ketir menunggu kepastian hukuman dari Tuan Niel.
"Bagaimana? kau dipecat? tidak kan? hanya mendapatkan teguran?"
Silvi sangat khawatir dengan keadaan sang sahabat.
"Untuk kali ini aman, tapi besok entahlah aku pusing! mengapa juga bos memintaku menikah, membuat hidupku susah saja!"
"Tenanglah, semua ini pasti ada jalannya. Kau bersabarlah daripada mendapatkan masalah yang lebih besar lagi? Tuan bos Adya sepertinya menyukaimu? benar tidak?"
"Aku tidak menyukai siapapun, tujuanku di sini adalah bekerja! jangan ganggu aku Silvi, maaf ya? aku harus bekerja setelah ini."
"Oh oke, selamat bekerja ya? semangat!"
Silvi mencoba memberikan semangat kepada sahabat namun Netta sepertinya Netta sedang bimbang dalam menentukan pilihannya.
'Tuhan, mengapa aku terjebak di antara orang-orang kaya! aku hanya ingin bekerja dengan baik dan bisa membiayai terapi penyakit dalam ayah, tetapi mengapa cobaannya begitu berat?' batin Netta yang meratapi nasibnya. Dia merasa menjadi gadis malang.
__ADS_1
*******