CEO Bastard Yang Bucin

CEO Bastard Yang Bucin
Adya Gas Pol!


__ADS_3

"Hm, iya ... aku tidak memiliki sopan santun. Akan tetapi, aku yang membuat mommy selamat dari terkaman daddy," seloroh Aarav sangat percaya diri.


"Haha, oke. Kali ini kau pemenangnya, cepat pergi sana!"


Laras mendorong keduanya akan segera keluar dari rumah itu.


..


Kini Netta dan Aarav berada di luar rumah, Aarav canggung saat menatap calon istrinya itu.


Netta masih bisa menahan segalanya karena dia menyadari posisinya.


Dia tidak ingin membuat hidupnya menderita dengan menolak pernikahan kontrak yang akan segera dilaksanakan.


Meskipun dia tidak memungkiri takut dengan sikap Aarav yang tiba-tiba saja lembut dan baik.


Dia lebih terbiasa dengan Aarav yang sangat kasar dan arogan, jika tiba-tiba dia menjadi seorang malaikat terasanya sangat aneh dan canggung saat menghadapinya.


"Netta, kenapa dari tadi hanya diam? aku nggak gigit kok!" celetuk Aarav mencoba mencairkan suasana.


"Oh, bukan itu, aku hanya belum terbiasa berdekatan dengan bos sendiri di luar tempat kerja," jelas Netta jalan agak menjauh dari sang bos.


"Kalau di luar tempat kerja, kau anggap saja aku temanmu," ucap Aarav.


"Tidak bisa, kau adalah bosku!" Netta masih saja kolot, Aarav mencoba tersenyum untuk menghibur Netta yang sedang bersedih.


"Ya ... ya ... terserah kau saja!" Aarav tidak peduli Netta menganggap dirinya siapa, pada intinya, Aarav ingin membawa Netta jalan-jalan seperti yang sang mommy katakan tadi.


Aarav dan Netta telah berada di depan mobil milik Aarav, tapi ada seorang pria yang tidak diinginkan hadir.


"Kak Aarav! Netta, apa kabar?" tanya seorang pria dengan wajah yang sama dengan Aarav tiba-tiba menyapa dan sok akrab.


"Adya?"


"Tuan bos Adya?"


Aarav dan Netta terkejut saat mendapati Adya berada di depan mobil.


Dia seperti orang yang sengaja ingin merusak hari Aarav dan Netta.


Belum hilang keterkejutan dua orang itu, muncul lagi kembar yang lain.


"Hay kakak, Hay calon kakak ipar?" ucap Adelio, Lexis, dan Arsenio.


"Kenapa tidak Bella sekalian diajak?" gerutu Aarav.


"Kami mengajak Daddy! dia tidak ingin membuat mommy sendiri bersama mantan kekasih di satu ruangan, Daddy sangat cemburu!" terang Lexis.

__ADS_1


"Oh, lalu Daddy mana?" tanya Aarav penasaran.


"Nanti juga datang, sedang otw ke sini," jawab Arsenio.


"Oh, oke. Kalian jaga rumah ini,  aku mau pergi dengan calon istriku!"


Si empat kembar menahan tawanya, baru pertama kali si bastard bener otaknya, gak sengklek lagi.


Paham bahwa dia akan segera menikah, bukan main-main dengan para kekasihnya yang tidak terhitung jumlahnya.


Satu hari pun tidak akan mampu menghitung banyaknya kekasih Aarav.


Meski begitu, dia berhasil meringkas jumlah kekasihnya menjadi 50 gadis saja.


..


Adya dengan senyum misterius maju ke depan, dan langsung menawarkan diri menjadi menjadi sopir pribadi.


Aarav tidak mau, tapi Adya memaksa.


"Kak, bisakah kau menerima kebaikanku satu kali saja?" ucap Adya sambil masuk ke dalam mobil.


Dia duduk di kursi kemudi dan langsung tancap gas menuju tempat yang sangat romantis menurut Adya.


Ketiga orang itu meninggalkan si kembar di rumah Netta.


Di dalam mobil ...


"Netta, suka pantai?" tanya Adya.


"Suka," jawab Netta singkat.


"Kita ke pantai ya?" Adya terus saja mengajak Netta berbicara, membuat Aarav malas.


"Masih ada manusia di jok belakang!" cetus Aarav.


"Tidak lihat tuh!" Adya sengaja membuat kakaknya kesal.


"Oh, matamu harus diperiksa, pasti ada yang nyangkut itu."


"Ya ya, nyangkut di hati Netta sepertinya kak."


Adya menahan tawanya saat sang kakak badmood karena ulahnya.


.


.

__ADS_1


.


Netta menatap lurus ke depan sambil memikirkan ayah Gerald yang sedang sakit. Dia sama sekali tidak terlihat baik-baik saja, Adya pernahkah kesedihan di mata Netta.


"Anetta? apa yang ada di pikiranmu?" tanya Adya sambil menyetir mobil lalu melihat kaca tengah mobil, dia melihat sang kakak justru terlelap tidur di jok belakang.,


Ini kesempatannya untuk PDKT dengan sang gadis.


"Hm, iya ... aku tidak memiliki sopan santun. Akan tetapi, aku yang membuat mommy selamat dari terkaman daddy," seloroh Adya sangat percaya diri.


"Nona seharusnya kau mendapatkan kebahagiaan yang sama dengan kami, tidak melulu tentang  anak sang mafia yang kabur dari rumah." Adya tidak bisa mengatakan apapun kepada gadis itu, karena sebenarnya dia juga bingung ingin mengatakan apa.


"Terimakasih Tuan Adya, mau pergi bersama saya!" ucap Netta mengatakan bahwa dirinya cukup menghormati Ady dengan sikap yang di tunjukkan oleh pria itu.


Walau dihatinya masih terasa sesak akibat ingatannya mengenai masa lalunya yang kelam itu.


"Tidak perlu berterima kepadaku, apa yang terjadi di dalam hidupku merupakan sebuah contoh untuk mendewasaan hati Tuan Adya," jelas Netta.


"Aku memahami sakit hatimu namun, tidak boleh terlalu bersedih hati. Kau memiliki masa depan yang sangat cerah." Sang pria memberikan hiburan kepada Netta.


Netta tersenyum, dia berterima kasih kepada Adya yang mau menemaninya di saat kesedihan melanda jiwanya.


.


.


.


"Dulu, aku pernah merasakan kesedihan yang sangat mendalam saat seorang teman tiba-tiba pergi dariku dan mengatakan dia tidak ingin bertemu lagi denganku, ini sangat aneh bukan?" ungkap Adya tiba-tiba saja memulai pembicaraan.


Sepertinya, dia ingin curhat masalah pribadinya.


"Lalu apa yang terjadi di antara kalian berdua?" tanya Netta penasaran.


"Kami selama beberapa tahun tidak melakukan kontak, kedua orang tua temanku juga mengatakan bahwa berteman denganku adalah toxic, aku sakit hati waktu itu." Adya menghela nafasnya, rasanya sesak itu sudah mulai muncul ke permukaan.


Dia perhatian emosional saat menceritakan masalah pribadinya yang sangat rumit itu.


Dua orang yang belum mengenal tiba-tiba saja bisa berbincang mengenai masa lalu masing-masing.


"Tuan bos, apa dia orang yang bos Adya cintai?" tanya Netta mulai tertarik menanggapi apa yang disampaikan oleh Adya.


"Aku sebenarnya tidak memiliki rasa suka terhadap siapapun, tapi rasa nyaman itu membuatku melupakan segalanya hingga penyakit cinta itu pun muncul. Aku sekali bertemu denganmu meskipun hanya sekali, sayangnya kedua orang tua gadis itu tidak memperbolehkan kami bertemu. Huft! rasanya sangat merindukannya meskipun ..., sudahlah! aku tidak ingin terlalu berharap berlebihan mengenai dirinya yang kini menjadi masa laluku." Adya terlihat sangat menyedihkan ketika mengingat tentang seorang gadis yang pernah singgah di dalam hatinya kemudian pergi begitu saja tanpa pamit, sosok Netta mengingatkannya kepada gadis itu.


Ini adalah alasan utama, mengapa dia juga menginginkan Netta untuk menjadi gadis yang sangat spesial di dalam hatinya.


"Netta, bisakah kita berteman?" tanya Adya tiba-tiba.

__ADS_1


"Kita memang sudah berteman sejak dulu kan, bos Adya membantuku melakukan banyak hal, tapi keakraban antara kita, beberapa waktu terakhir ini saja. Aku sangat senang mengenal bos Adya yang sangat baik dan pengertian. Tidak seperti kakak Tuan yang selalu membuatku kesal saja, tapi dia tidak pernah merasa jika dirinya memiliki banyak masalah!" ungkap Netta agak kesal kala membahas Aarav, si bos bastard yang kurang kerjaan.


*****


__ADS_2