CEO Bastard Yang Bucin

CEO Bastard Yang Bucin
Aarav kompor!


__ADS_3

Laras masih memeluk tubuh sang gadis, dia teringat saat dulu terisak karena rasa sesak yang melanda jiwanya.


Rasa sesak akibat kehidupan yang sangat menyedihkan karena hidup Laras selama ini memang tak bisa lepas dari para mafia yang tiap saat bisa menjungkirbalikkan kehidupan normalnya.


"Ibu mertua, aku sangat sedih, ayahku belum mendapatkan kebahagiaan tapi justru menderita karena diriku, hiks," ucap Netta salah satu saran atau siapa yang terjadi di dalam hidupnya.


Dia belum bisa membahagiakan sang ayah, hanya bisa menyulitkan hidup ayahnya saja.


"Jangan pernah merasa diri menjadi orang tidak berguna karena sesungguhnya kau telah membuat ayahmu bangga, aku mengetahui segalanya dari Adya dan Bella. Kedua anakku mengatakan bahwa kau adalah gadis tangguh yang sangat berkomitmen dalam bekerja, kau juga mendedikasikan diri menjadi seorang chef terkenal untuk ayah mu kan? aku tahu, Ge memang sangat menyukai gadis yang pandai memasak," ujar Laras.


Dia berusaha menenangkan putri mantan kekasihnya, dia adalah wanita yang paling mengerti Gerald.


Ge akan bahagia jika putrinya mendapatkan kebahagiaan yang sesuai dengan harapannya.


"Cukup sayang, lebih baik kita segera menemui ayahmu," pinta Laras sambil memapah tubuh Netta yang sangat lelah dan penuh beban.


Dia merasa sangat sedih atas nasib sang ayah yang karena merawat dirinya.


Tap ... tap ... tap ....


Langkah dua orang itu kini sudah berada di depan pintu kamar milik Gerald.


"L-laras?" panggil Gerald.


"Iya Ge, ini aku. Ehm, Rav! kau bawa Netta jalan-jalan, aku ingin bicara dengan Ge," pinta sang mommy.


"Tidak boleh hanya berdua, Daddy mengatakan padaku banyak hal. Mommy harus ada yang menjaga saat berbicara dengan paman Ge, jaraknya harus 2 m, Paman Ge tidak boleh menunjukkan wajah yang membalas karena mommy bisa iba. Itu yang Daddy Alex katakan padaku, jadi ini ide Daddy, bukan aku!" cakap Aarav.


Dia hanya menyampaikan pesan dari sang ayah, untuk selanjutnya, tergantung sang mommy, ingin ribut dengan daddy, atau adem ayam saja seperti biasanya.


"Hm, astaga Alex!" cakap Laras tidak habis pikir dengan apa yang dikatakan oleh sang suami.

__ADS_1


Dia memahami juga sama suami sangat posesif terhadapnya, mereka sudah berumur pun masih posesif, dia seperti sesuatu yang tidak boleh disentuh oleh siapapun.


"Alex dari dulu memang begitu, cemburunya tidak ketulungan, Aarav, jangan meniru daddymu, Netta akan kepayahan karena dia ramah dengan semua orang," pinta Gerald sambil tersenyum.


Netta tidak ingin menanggapi apapun karena dia hanya ingin memeluk tubuh sang daddy.


Sang putri naik ke atas ranjang, kemudian memeluk tubuh sang ayah dengan sangat erat.


"Hiks! ayah! cepatlah sembuh karena aku akan menikah dengan Aarav, jangan sakit terus! ayah pasti bisa sembuh!" Isak tangis itu terlihat nyata, Laras mencoba mendekati ayah dan anak itu, tapi Aarav yang kini berperan sebagai mata-mata Alex, langsung mencekal tangan sang mommy.


"Mommy! jangan ikut campur masalah orang lain, kau hanya perlu berdiri dengan jarak 2 meter dari Paman Ge. Daddy tidak meminta hal lain, aku juga tidak mau juga mendapatkan hukuman karena tidak bisa menjaga mommy dengan baik, pahamilah kesulitanku!" bisik Aarav memohon.


Dia tidak mau ada salah paham diantara kedua orang tuanya.


Aarav lebih mengedepankan kebahagiaan dan ketentraman keluarganya mengingat sang daddy memang pria yang cemburuan.


Namun, di balik itu semua, Aarav sebenarnya sedih dengan apa yang dirasakan oleh ayah Netta, sang calon istri sangat butuh dukungan terutama dukungan mommynya.


Netta lebih tenang saat sang ayah terlelap tidur. Dia segera turun dari ranjang, tak lupa Netta menyelimuti separuh tubuh Gerald.


"Ibu mertua, Aarav, lebih baik kita keluar saja karena ayah sudah terlelap tidur," bisik Netta.


Mommy dan sang putra keluar dari kamar Gerald bersama Netta.


Netta masih merasa sedih atas keadaan sang ayah, pagi ini dia sepertinya ingin izin untuk istirahat di rumah saja. Kepalanya selalu pusing karena teringat kejadian yang terlalu.


"Aarav, hari ini aku sepertinya tidak masuk kerja, sebentar aku akan menulis surat untuk izinnya," jelas Netta sambil berjalan menuju meja belajarnya yang ada di ruang tamu, sang gadis mengambil cari kertas dan sebuah bolpoin.


"Kau tidak perlu menuliskan izin jika tidak ingin pergi bekerja, aku memahami keadaanmu. Hari ini kau boleh libur, karena aku ingin mengajakmu pergi jalan-jalan. Sebentar lagi, kau akan menjadi bagian dari keluarga Fernando, jadi kau tidak perlu bersusah payah untuk bekerja," jelas Aarav yang kali ini berbicara dengan benar tanpa harus marah-marah.


Laras tersenyum melihat sang putra bisa mengatakan hal yang benar.

__ADS_1


Tidak seperti biasanya yang selalu putus dan arogan dengan siapapun.


Aarav cukup menjadi anak baik hari ini, Sarah sangat bangga terhadap putra pertamanya.


"Aarav dan Netta, kalian berdua pergilah jalan-jalan, aku yang akan menjaga Gerald, tidak perlu khawatir, aku bisa menjaga orang sakit!" pinta Laras yang membuat sang putra mengeryitkan dahinya.


"Mommy jangan main-main dengan daddy, daddy tidak suka jika mommy dekat dengan Paman Ge." Sang putra memperingatkan kepada ibunya agar tidak bermain api karena akan membakar dirinya sendiri, untuk selanjutnya sang putra tidak akan membela Laras jika daddy marah-marah.


"Aku dan Ge tidak melakukan apapun karena diriku hanya berada di luar ruangan sedangkan Ge ada di dalam kamarnya, aku sudah tua dan dia pun sama. Tidak ada hal yang spesial di antara kami, jika daddymu khawatir aku melakukan hal buruk bersama Ge, aku akan melakukan panggilan telepon dengan suamiku agar dia bisa melihat sendiri jika kamu tidak melakukan hal yang ada di pikirannya," ujar Laras.


"Hm, oke. Selamat menjaga mantan kekasihmu, mommy!" cakap Aarav.


"Haha ... dasar bocil! yang memperkeruh suasana sebenarnya adalah dirimu bukan Gerald ataupun aku, lebih baik kau diam, jangan katakan apapun kepada daddy seolah-olah kami memiliki hubungan yang istimewa." Sang mommy merasa tidak melakukan kesalahan jadi dia tenang saja.


Netta merasa tidak enak hati, harusnya dia yang menjaga sang ayah tetapi justru orang lain.


"Ibu mertua, terima kasih atas kebaikan hati ibu, selamanya aku belum pernah merasakan kasih sayang seorang ibu, jika boleh aku meminta, bolehkah aku memelukmu ibu mertua?" pinta Netta.


Dengan mudahnya, Laras kembali memeluk tubuh Netta. Netta sangat bahagia.


"Jangan pernah merasa sendiri, kau anakku juga. Sudah ... sudah, hentikan kesedihan ini. Kalian pergilah berjalan-jalan!" Laras meminta dua orang yang sama sekali tidak akrab untuk pergi berjalan-jalan.


"Siap mommy!" Aarav telah siap untuk mengajak sang gadis pergi bersamanya.


..


Netta menurut apa yang dikatakan oleh Laras.


"Ibu mertua, kami pergi dulu," pamit Netta pada Laras.


"Nah, ini calon menantu yang sopan! pergi pamit dulu, anak mommy kok diam saja ya? mana sopan santunnya?"

__ADS_1


*****


__ADS_2