CEO Bastard Yang Bucin

CEO Bastard Yang Bucin
Netta lelah


__ADS_3

Setelah berhasil membuka lemari itu, Bella menemukan banyak sekali obat, dan di sana ada minyak angin.


Dia segera meraih minyak itu, lalu kembali pada Netta yang pingsan.


Bibi Shine mengoleskan minyak kayu putih pada titik tertentu agar sang gadis segera membuka matanya.


Namun, Netta tak kunjung membuka matanya.


"Dia sepertinya sedang tak enak badan, aku akan memanggil dokter pribadiku saja," pinta bibi Shine.


Dia terlihat melakukan panggilan telepon.


"Dok, datang ke kantorku, temanku ada yang pingsan. Tolong aku, mau aku bawa ke rumah sakit, lumayan jauh dari tempat ini, aku khawatir sekali."


Bibi Shine sangat cemas, sama halnya Bella dan bibi Jenie.


"Net, Anetta?!" panggil Bella.


"Tenang Bella, nanti biar dokter yang memeriksa Netta," ucap bibi Jenie.


"Iya bibi, tapi aku yang bertanggung jawab menjaganya, aku tak tega," cetus Bella dengan wajah yang sendu.


Dia tak menyangka jika Netta akan pingsan seperti ini.


Sang gadis, menelpon Adya, dia ingin kakaknya datang dan menemaninya.


"Kak, datang ke tempat ini, di jalan xxx, kantor W.O Shine Wedding, cepat! tapi jangan sampai orang-orang tahu, oke?" pinta Bella.


Dia sangat panik, yang ada di dalam pikirannya hanyalah Adya.


Bukan Aarav, atau saudaranya yang lain, karena Bella hanya percaya dengan Adya, seorang kakak yang dewasa.


"Ada apa Bella?" tanya Adya.


"Netta, pingsan! aku tak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi aku merasa jika Netta, lelah," jawab Bella.


"Oke, kau tetap di sana, aku akan datang."


"Baik."


Panggilan telepon usai, Bella menunggu kedatangan sang kakak.


...


Beberapa menit kemudian, pintu ruangan bibi Shine terdengar ada yang mengetuk dari luar, Bella lalu membuka pintu, dia melihat dokter sudah datang.


"Dok, cepat, tolong calon kakak ipar saya! dia ada di sofa!" ucap Bella sambil menarik tangan sang dokter dan masuk ke dalam ruangan bibi Shine.


Sang dokter langsung menghampiri tempat Anetta merebahkan tubuhnya.

__ADS_1


Sang dokter yang membawa tas dokternya, mengeluarkan stetoskop dan mulai memeriksa.


Beberapa menit setelahnya, sang dokter menyimpulkan bahwa Gadis itu kelelahan dan terlalu banyak pikiran, yang pasti sangat tertekan.


"Aku akan memberikannya obat yang bisa membuatnya lebih relaks saat bangun nanti," ucap sang dokter.


"Oke dok, lakukan apapun dengan segera, biayanya berapapun, pasti aku akan membayarnya," cetus Bella yang panik.


"Tenang saja, semuanya akan baik-baik saja, sebentar lagi dia juga siuman," ungkap sang dokter.


"Terima kasih sudah bergerak cepat, aku sama sekali tak menyangka jika Netta akan sakit," jawab Bella.


"Sama-sama, semoga dia cepat sembuh, maaf Shine aku harus segera pergi, ada pasien darurat di rumah sakit yang membutuhkan bantuanku," pinta sang dokter.


"Oke, tak apa dok, terima kasih," ujar Shine.


Sebelum pergi, sang dokter memberikan obat yang sudah dia katakan pada Shine, dan pergi.


Setengah jam berlalu ...


Adya datang dan langsung membuka pintu tanpa mengetuk terlebih dahulu.


"Dimana Netta?" ucap Adya.


"Dia sedang beristirahat di ruangan sebelah bersama Bella, jangan ganggu ya nak," ucap bibi Jenie.


"Tapi bibi, tadi adikku menelponku dan mengatakan jika pingsan, jadi aku otw kemari."


"Nanti saja jika ingin bertemu, biar Netta tenang dulu," pinta bibi Shine.


"Huft! baiklah bibi."


Adya terlihat sangat kecewa dengan apa yang ada di depannya, dia tak pernah menyangka jika bertemu dengan sang pujaan hati begitu sulitnya.


"Mengintip pun tak boleh ya?" ucap Adya merenggek.


"Hm, putra Alex memang beda, kau ini seperti seorang pria yang memiliki keberanian yang penuh, dia itu calon istri kakakmu, kau sangat hebat Adya," sindir bibi Jenie.


"Hm, apa kau tidak tahu bibi, jika putrimu takut padaku karena aku tak mau satu mobil dengannya, dia menatapku sangat serius, lalu menangis!" Adya teringat akan peristiwa yang melibatkan dirinya dan putri sang bos mafia, mereka satu mobil dan Adya dengan tampang sadis menolak duduk satu jok bersama Anastasia, putri dari Willy-Jenie.


"Haha, dulu kan? kalian waktu itu masih berusia 6 tahun kalau tidak salah."


Bibi Jenie teringat akan hal itu, dia cukup terhibur dengan apa yang dikatakan oleh Adya.


Hanya saja, dia belum bisa tertawa lepas karena ada Netta, Gadis itu masih terbaring lemah karena pingsan.


"Hm, Netta, sudah cukup lama aku menunggunya, kenapa lama sekali?"


Adya memang tidak sabar untuk bertemu dengan seorang gadis yang telah membuat dunianya jungkir balik.

__ADS_1


Anetta, gadis polos yang akan segera menikah dengan kakaknya.


"Astaga, apa kau jones? cari gadis lain, dia calon kakak ipar," ungkap bibi Jenie mencoba untuk mengingatkan agar Adya tidak terlalu berharap hal yang lebih.


Klek!


Saat dua orang itu terlibat dalam obrolan, tiba-tiba saja pintu terbuka.


Di sana ada sosok Bella.


"Bel? Netta dimana?" tanya Adya yang langsung menghampiri sang adik.


"Kak, antar Netta ke apartemen, dia lelah." Bella lemas, dia tak tega melihat kondisi Netta.


Dia berjalan menuju bibi Jenie dan bibi Shine.


"Maaf bibi Jenie dan bibi Shine, diskusi untuk menentukan acara pernikahan kita tunda dulu, Netta ingin beristirahat karena pikirannya sedang tidak kondusif," ucap Bella.


"Tidak masalah, kalian pulanglah, biar bibi yang mengatur acara pernikahan itu, ya aku akan memberikan estimasi 1 sampai 2 minggu ke depan, semuanya akan beres. Aku akan menghubungimu Bella," jawab bibi Jenie yang lebih legowo, dia berniat membantu Bella untuk mempersiapkan acara pernikahan.


"Oke, kami pamit dulu ya?"


"Oke, hati-hati di jalan."


"Ya bibi."


Bella mengajak Adya, lalu keluar dari ruangan itu.


Dia dan sang kakak, berjalan menuju ruangan yang ada di sebelah ruang kerja bibi Jenie, tempat Netta beristirahat tadi.


Klek!


Pintu terbuka, Bella masuk, tapi Adya tak mau.


"Nona, kita jadi pulang kan?" tanya Netta.


"Iya, oh ya, ada kakakku, nanti dia akan bantu menjagamu," ungkap Bella.


"Siapa? Aarav?" tanya Netta.


"Cih, pria itu sedang berada dalam hukuman, jadi belum bisa datang, kakakku, Kak Adya. Dia ada di luar, entah mengapa tak mau masuk," jawab Bella.


"Apa dia marah padaku?" cetus Netta.


"Tidak, entahlah! lebih baik kita segseh pulang ke apartemen!" pinta Bella.


"Iya nona, bagaimana pernikahannya? jadi kan?" Netta yang sebenarnya tak mau berurusan dengan pernikahan, harus tetap profesional karena misinya harus segera terlaksana.


"Tenang saja, nanti kau akan menikah dengan kakakku, Aarav."

__ADS_1


Saat Bella dan Netta sedang ngobrol masalah pernikahan, Adya yang masih menyimpan perasaan, begitu terluka, dia tak mau masuk ke dalam ruangan itu karena pasti akan terlihat Cemen.


*****


__ADS_2