
Netta sudah mempercayai segalanya kepada Bella, dia kini merasa lega karena tidak ada beban lagi.
"Terimakasih Nona, kau telah membantuku," ucap Netta sambil menatap wajah Bella dengan tetesan air matanya.
"Wah, kau jangan menangis seperti itu, aku kan jadi tidak enak," jawab Bella merasa apa yang dilakukan sudah seharusnya jadi tidak perlu mendapatkan sambutan yang berlebihan dari Netta.
Akan tetapi, Netta sudah merasa terbantu dengan apa yang dilakukan oleh adik dari Aarav itu.
Saat mobil Bella berhenti, tiba-tiba saja ada beberapa anak buah Bos Noland.
Pria yang selalu mengejar Netta untuk dijadikan istrinya yang kelima.
Netta, tidak ingin terjerumus dalam pernikahan yang menyeramkan itu.
"Nona, kita dalam bahaya!" bisik Netta.
"Kau tenang saja, aku yang menghadapi mereka!" jawab Bella yang jago bela diri.
Tiga anak buah Noland yang sudah mengawasi Netta dari awal keluar dari tempat kerjanya, justru tertarik dengan Bella yang berwajah oriental.
"Wah, Nett, seharusnya kau mengenalkan dia kepada bos Noland agar kau bisa lepas dari genggamannya!" ucap anak buah Noland.
"Aku tidak pernah melakukan hal buruk seperti itu, dia adalah anak bosku, tidak mungkin aku menyerah karena kepada bos yang busuk itu!" jawab Netta berani.
"Haha, kau sangat pada bicara tapi sebentar lagi akan kami laporkan kepada bos Noland jika kau memiliki teman cantik! ayo ikut dengan kami gadis cantik!"
Bug!
Belum sempat anak buah Noland menarik lengan Bella, satu tendangan mendarat sempurna di dada anak buah itu.
"Sialan! tendanganmu boleh juga!" ucap sang anak buah.
Tiga lawan satu, Bella dengan heroik melumpuhkan 3 orang itu tanpa pukulan balasan.
Bella bahkan sudah menelpon kakek Hans untuk mengirim polisi agar segera meringkus tiga orang itu.
"Kau nikmatilah penjara yang sangat dingin! kau tidak tahu sedang berurusan dengan siapa! jangan pernah mengganggu Netta jika tidak ingin hidup kalian hancur! camkan itu!" cakap Bella sambil mengikat tiga orang itu menggunakan tali.
Netta hanya bisa bengong saat melihat aksi Bella melibas tiga orang bertubuh kekar dalam satu tindakan.
"Nona Bella, kau hebat sekali! bagaimana bisa melakukan semua ini? sedangkan lawan Nona tinggi dan besar, kuat lagi mereka!" ungkap Netta kagum.
"Ayahku seorang mantan bos mafia, ibuku juga jago beladiri. Kakekku, kakek Hans adalah seorang militan di kepolisian! jadi, aku harus menjadi gadis tanggung agar mampu melibas semua lawan yang tidak suka dengan keluargaku, begitu Netta," jawab Bella jangan pernah membasahi keningnya.
Bella kemudian masuk ke dalam mobil dan langsung tancap gas menuju rumah Netta yang tidak jauh lagi dari tempat ia berkelahi dengan para anak buah Noland.
__ADS_1
"Nona, aku juga ingin belajar bela diri!" pinta Netta.
"Nanti aku akan mengajarimu karena kau juga akan menjadi bagian dari keluargamu, btw rumahmu mana?" tanya Bella.
"Sebentar lagi sampai Nona, tapi aku ingin membeli obat terlebih dahulu untuk ayah, maaf aku merepotkan," ucap Netta pelan.
"Haha ... kau akan menjadi kakak iparku, sudah selayaknya kau repotkan! tidak perlu sungkan, aku akan mengantarmu ke toko obat. Dimana toko itu?" tanya Bella.
Netta menunjukkan letak toko obat yang berada di sisi kanan jalan, setelah itu Bella meminta sang gadis untuk membeli sendiri karena dia tiba-tiba mendapatkan telepon dari sang kakak.
Sang gadis tidak mempermasalahkan hal ini, dia turun dari mobil dan berjalan menyeberang ke arah kanan.
"Halo kak? ada apa?" tanya Bella.
"Bella! mengapa kau meninggalkanku di sini sendirian!!!" sahut sang kakak yang ada di ujung panggilan telepon.
"Haha ... itu adalah ganjaran yang harus kau dapatkan, makanya, gadis cantik itu tidak boleh dianggurin, mana dia seksi lagi. Kau harus bersyukur memiliki calon istri yang baik, tidak neko-neko, dia juga sayang keluarga, mana ada gadis seperti itu zaman sekarang! eh, aku kasih tahu ya Kak Aarav, Tifani itu orang yang manja dan tidak peka terhadap keluarga. Dia selalu mendapatkan apa yang diinginkan, jika kau menikah dengannya! beh, sepertinya kau akan mendapatkan neraka setiap hari! Hahaha!" ujar Bella masih makin membuat sang kakak marah.
"Masa bodoh dengan Netta, Tifani! semua gadis itu sama saja seperti si ja..la..Ng tidak berguna itu!" teriak Aarav.
Sang adik memahami apa yang dirasakan oleh sang kakak, tapi setidaknya jangan menyalahkan masa lalu.
Bella selalu menekankan itu kepada sang kakak.
"Kak, yang lalu biarlah berlalu. Kau butuh hidup baru, jadilah suami Netta," pinta Bella.
"Aku memang akan menikah dengannya," jawab Aarav ringan saja.
"Tapi kau harus serius, jangan mempermainkan hatinya kau paham kan?" sahut Bella.
"Iya, aku paham! Huft sial sekali!" gerutu Aarav kesal.
"Jangan marah,kau tidak perlu melakukannya dengan terburu-buru, jadilah pria gentle!" pinta sang adik.
"Cepat kemari! jangan banyak bicara!"
"Iya kakak."
Sang adik terkejut saat Aarav tiba-tiba mematikan panggilan teleponnya.
Dia ingin sekali mengumpat, tapi tidak ia lakukan karena ada Netta datang dengan menenteng plastik kresek warna putih berisi beberapa obat.
"Nona? apa Nona baik-baik saja?" tanya Netta.
"Oh, baik. Ayo kita pulang kerumah," jawab si Bella.
__ADS_1
"Ya."
Netta masuk ke dalam mobil mewah itu dengan wajah keheranan.
"Nona, apa tidak enak badan?"
"Enak badanku, hanya sedang kesal saja. Tapi tidak masalah aku masih aman kadar kesalnya."
"Oh, bisa kita lanjutkan perjalanan Nona?"
"Bisa."
Bella segera melajukan mobilnya menuju rumah Netta.
Namun, dia merasa kesal.
Sang kakak sangatlah menyebalkan.
"Netta, kau harus berhati-hati saat menjadi kakakku kelak! dia sepertinya akan berbuat buruk kepadamu!"
"Hm, aku tidak memperdulikan hak itu yang penting adalah urusanku dan dia usai, ups!"
Sang gadis keceplosan.
Dia tidak sengaja mengatakan jika dia memiliki kesepakatan dengan Aarav.
"Maksudnya ada urusan?"
"Aku dan Tuan bos, menikah kontrak dan itu hanya 6 bulan. Tapi Nona Bella jangan mengatakan ini kepada kakak Nona, bisa habis nanti saya!"
"Sialan, dia mempermainkan dirimu! aku tidak rela sebagai seorang gadis, lihat gadis lain menjadi alat untuk melakukan hal yang tidak semestinya."
"Jangan melakukan apapun ya Nona!"
"Iya, kau tenang saja! kakak akan menjadi urusanku, jika dia ketahuan melakukan hal yang buruk kepadamu, aku akan mengatakan kepada orang tuaku jika dirinya mempermainkan pernikahan, coba kita lihat! apa dia masih bisa sok didepan Daddy dan Mommy, kau lebih baik bersama yang lain saja jika dia modelnya seperti itu!"
Bella ikut tersulut emosinya, si udik merasa terpojok.
"Nona, jangan melakukan apapun, tolong! nanti aku kena lagi!"
"Tenang, aku yang akan bertanggung jawab!"
Bella merasa harus melakukan sesuatu. Dia tidak bisa membiarkan Aarav berlaku seenaknya.
******
__ADS_1