CEO Bastard Yang Bucin

CEO Bastard Yang Bucin
Permintaan Maaf


__ADS_3

Beberapa menit kemudian sang istri telah berada di area kantor kepolisian, dia mencari sang suami yang sangat ia cintai.


Setelah mendapati sang suami menunggu di ruangan sang ayah, dia segera memintanya untuk ikut bersama menuju rumah sang gadis.


Dua orang itu nampak saling menguatkan karena ditengah badai ini, ada seorang gadis yang tersiksa.


Aarav benar-benar membuat kehidupan gadis itu hancur tak bersisa.


...


Kini dua orang tua Aarav telah berada di depan kantor kepolisian, dan segera menuju mobil sang istri.


Sang istri terus menguatkan sang suami yang snagat sedih karena mendapati sang putra melakukan kesalahan fatal.


"Biar aku saja yang menyetir."


"Baik."


Sang mantan mafia menuruti apa yang dikatakan oleh sang suami dan segera tancap gas menuju rumah sang gadis yang sudah diketahui keberadaannya.


Sang suami sangat antusias saat mendapatkan semangat dari sang istri, dia benar-benar ingin memberikan hal yang terbaik pada gadis itu.


Perjalanan menuju rumah sang gadis cukup jauh tapi tidak ada hambatan meskipun tengah malam menjelang.


Setelah semua itu, mobil sang mantan mafia telah berada di depan rumah sang gadis yang sudah mendapatkan ketenangan karena Aarav tidak lagi bebas seperti sebelumnya.


Alex memarkirkan moblinya di depan rumah itu, perlahan kedua orang itu turun dari mobil dan segera mengetuk pintu rumah itu.


Semua ini terdengar gila, tetapi dia sangat ingin bertemu dengan gadis itu jadi meski sangat aneh bertamu tengah malam.


Tidak disangka, ketukan pintu itu di buka oleh seorang gadis cantik.


"Siapa kalian?"


"Kami orang tua Aarav."


Sang gadis seketika ingin menutup pintu dan Alex mencegahnya.


"Aku meminta maaf atas segalanya, kau akan mendapatkan kehidupan yang layak, aku juga akan menikahkanmu dengan seorang pria yang baik."


Alex mencoba memohon, sang gadis tidak mau.


Kini giliran sang istri.


"Kami tahu jika kesalahan Aarav tidak termaafkan, tetapi tidak ada salahnya jika semuanya kita bicarakan baik-baik."


"Tuan dan Nyonya, saat Aarav datang untuk meminta maaf, semuanya sudah hancur. Silahkan kalian pergi."


Alex bersimpuh," Maafkan anakku."


Laras juga melakukannya.

__ADS_1


Sang gadis sangatlah trenyuh dan meminta dua orang yang sudah tua darinya untuk bangkit.


Akan tetapi Laras dan Alex terlihat tidak mau melakukannya, mereka berdua merasa sangat berdosa karena memiliki anak yang sangat kurang ajar terhadap seorang gadis.


"Aku tidak akan berhenti melakukannya karena perbuatan anakku sama sekali tidak bisa dimaafkan, oleh karena itu kami sebagai kedua orang tua Aarav, memohon dengan sangat kau akan memberikan maaf itu dengan tulus."


"Tuan dan Nyonya, jangan seperti ini karena aku akan merasa sangat berdosa. Kalian sangat baik, anak kalian memang bersalah tapi tidak berarti kalian berdua harus menjadi orang yang merendahkan harga diri. Bangkitlah Tuan dan Nyonya," pinta sang gadis.


Dia membungkuk dan memeluk dua tubuh itu.


"Kami akan bertanggung jawab atas semuanya. Segala hal yang ada padamu adalah tanggung jawab kami," ucap Alex.


Sang istri pun mengiyakan apa yang dikatakan oleh sang suami dan merasa segalanya terlalu sedikit, Alex menambahkan sebuah rumah untuk di tempati oleh sang gadis.


"Tuan, aku sangat berterima kasih atas semua yang kau berikan kepadaku, aku tidak perlu rumah ataupun fasilitas. Aku sudah berterima kasih jika kalian menghukum Aarav dengan sebenarnya hukuman," cetus sang gadis.


"Mari kita bicara di dalam nak, aku akan mendengarkan apapun keluh kesahmu," jawab Laras.


"Iya, masuklah, maaf, aku tidak mempersilahkan kalian berdua masuk ke dalam karena Tuan dan Nyonya, sudah bersimpuh lebih dulu, jadi aku tidak sempat. Maaf ya?" ucap sang gadis dengan senyum mengembang di bibirnya, dia merasa dihargai sebagai seorang gadis yang mendapatkan hal yang sangat buruk dari sang putra.


Ketiga orang itu bersama masuk ke dalam rumah yang tidak luas tapi sangat nyaman.


"Silahkan duduk dulu Nyonya, Tuan. Aku akan membuatkan minuman untukmu," pinta sang gadis.


"Iya, aku sebenarnya juga haus," celetuk sang mantan mafia.


"Astaga Alex!" tegur sang istri yang merasa sang suami tidak memiliki kesopanan.


"Aku mantan mafia, mana tahu sopan?' Sang suami menatap sang suami dengan senyum meledek.


"Tidak ada Nyonya, kebetulan aku baru membuat kue, aku akan ambil ya. Tunggu sebentar," ujar sang gadis.


Suasana menjadi lebih kekeluargaan dan bersemangat.


Misi permintaan maaf telah terlaksana dengan baik.


...


Di rumah sang mantan mafia ...


Netta gelisah dengan perasaannya, dia merasa bersalah karena telah menjebloskan sang suami ke dalam penjara.


Dia dan Bella berada di satu kamar yang sama.


Bella yang sudah tidur, tiba-tiba terbangun saat merasakan haus.


"Hoam, Netta, apa kau belum mengantuk?" tanya Bella dengan mengucek matanya yang gatal dan menutup mulutnya yang senantiasa menguap tanpa henti.


"Aku kepikiran Aarav, bagaimana keadaanya, " ujar Netta yang kini berdiri di depan jendela kamar dengan melipatkan kedua tangan di dada.


Pikirannya melalang buana kemana-kemana meskipun raganya berada di kamar itu.

__ADS_1


"Aku tahu kau mulai memiliki perasaan terhadap kakakku, tetapi aku merasa kau masih tidak mau mengakuinya," ujar sang adik ipar.


"Aku tidak mau mengakui jika itu perasaan terhadapnya karena masih takut, ini kan awal. Makanya aku menyimpannya," jawab sang gadis lirih.


Sang adik ipar mendekat dan memeluk tubuh itu dari belakang.


"Sayang, kau adalah kakak iparku yang sangat aku sayangi, bagaimana bisa aku tidak memahami perasaanmu. Kau telepon saja Kak Aarav, tanya perasaanya padamu," pinta sang adik ipar yang semakin memiliki keinginan yang aneh-aneh.


"Nona bos, aku kan malu."


"Tidak perlu malu, kau dan kakakku sangatlah serasi, aku tidak suka jika perasaan kalian berdua hanya mengambang. Kak Adya sudah melepas dengan ikhlas, dia tidak akan mengharap apapun lagi darimu, tidak perlu sungkan. Kami mendukungmu."


Netta merasakan kasih sayang dari sang adik ipar. Dia merasa mendapatkan dukungan dan segera mengikuti apa yang di katakan oleh sang adik ipar.


"Aku tidak tahu, harus menghubungi Aarav menggunakan apa."


"Kau tidak perlu khawatir karena kantor polisi itu milik Kakek Hans. Aku akan menelpon Kakek Hans dan meminta izin padanya agar kau bisa berbicara dengan Kak Aarav."


"Terima kasih atas segalanya nona bos."


"Kau adalah kakakku, so pasti aku akan membuat kakak dan kau menjadi satu. Sebentar ya? aku ambil minum dulu."


"Biar aku yang mengambilnya."


"Aku saja Netta."


"Nona bos telepon saja Kakek Hans, aku yang akan pergi mengambil minum."


"Oke, kau sangat baik Netta."


Bella melepaskan pelukannya terhadap Netta dan segera menelpon sang kakek, sedangkan Netta, terlihat membuka pintu kamar dan berjalan menuju dapur.


Malam hari yang sangat sepi, tiba-tiba saja dia dikejutkan dengan kehadiran Adya yang terbangun untuk mengambil air minum juga.


"Netta?" ucap Adya terkejut.


"Bos?" jawab Netta yang tak kalah terkejutnya.


"Sedang apa kau Netta?"


"Aku sedang mengambilkan air minum untuk nona bos."


Netta bergerak terlebih dahulu, sedangkan Adya mengekor langkah sang gadis.


"Netta, aku merasa bersedih untukmu, semoga kakak segera keluar dari penjara."


"Iya, terima kasih bos Adya. Maaf, aku ingin segera pergi karena sangat tidak nyaman jika berdua di tempat ini."


Netta segera kabur.


Adya memahami situasi ini dan membiarkan Netta.

__ADS_1


"Aku berharap kau bahagia."


*****


__ADS_2