CEO Bastard Yang Bucin

CEO Bastard Yang Bucin
Bertemu Bella


__ADS_3

Dua orang yang berbeda status itu duduk satu sofa, Netta canggung sekali.


"Tuan bos, eh Aarav. Apa yang akan kau katakan padaku?" tanya Netta.


"Hm, aku ingin kau berdandan, beli baju baru juga," jawab Aarav.


"Tapi aku tidak bisa berdandan Aarav?" cakap si gadis lirih.


"Tenang saja, nanti adikku yang akan mengajarimu. Dia baik, ramah. Namanya Bella, ya meskipun kita hanya berpura-pura, kau harus tahu lah siapa saja anggota keluargaku," ujar bos Aarav yang lebih ramah kali ini.


"Aarav, terimakasih ya? ternyata kau baik," ucap Netta mulai berani mengangkat kepalanya.


Aarav tersenyum ke arah Netta, dia tidak marah-marah lagi.


Netta heran.


"Aarav, tumben kau tidak marah-marah, tidak sensitif?" tanya Netta.


"Oh, aku capek. Haus," jawab Aarav sambil meraih gelas berisi jus jeruk itu.


Netta tersenyum, ternyata orang marah bisa capek juga.


"Kenapa senyum lagi?"


"Saya hanya berpikir kalau Aarav butuh istirahat, saya mau kembali ke dapur, masih banyak pekerjaan."


"Siapa yang menyuruhmu kabur, sebelum bos kelar bicara?"


"Tapi Aarav ... saya ...."


"Saya apa? mau membangkang sebelum jadi istri? tetap diam disini, tunggu aku tidur."


"Menunggumu tidur?"


"Iya, ceritakan sesuatu yang lucu, aku ingin tidur. Aku lelah hari ini, aku habis dihajar Daddy, di marahin mommy, pokoknya ngenes."


"Itu salah Aarav sendiri, harus berani bertanggung jawab."


"Kau menyalahkanku?"


"Iya, kan memang salah. Ayahku bilang, kalau salah harus bertanggung jawab, jadi Aarav dihajar sama daddy Aarav sudah sepantasnya."


"Cih, kau ini tahu apa tentang aku dan daddyku? ha? aku pusing, pijat kepalaku!"


Sang gadis terkejut dengan permintaan Aarav yang semena-mena.


Bagaimana bisa belum nikah sudah disuruh memijat kepala.


Netta menolak.

__ADS_1


Tapi bos Aarav, memaksa.


"Aku tambah 100 juta, jika kau mau memijat kepalaku!"


"Aku tidak mau uang, tidak perlu sedikit-sedikit uang saja. Aarav harus tahu apa yang berharga   dan tidak, uang itu berharga untuk orang miskin bukannya untuk merendahkan. Jadi, berhenti menilai segalanya demi uang. Maaf, aku permisi."


Netta, sebenarnya takut. Tapi memang apa yang dilakukan Aarav tidak sesuai dengan kata hatinya, jadi lebih baik dia pergi saja.


Aarav terbengong-bengong saat mengetahui bahwa dirinya direndahkan oleh bawahannya.


Bukannya sadar, Aarav justru semakin menggila.


"Jika tidak bisa menaklukkan dan meninggalkan mu begitu saja, jangan sebut namamu Aarav!"


Sang putra mafia sangat kesal, sekaligus lelah badannya, dia memutuskan untuk merebahkan tubuhnya di sofa.


....


Netta dag dig dug.


Rasanya campur aduk, dia tidak bisa melakukan apapun lagi, dia pasti akan di pecat setelah ini.


"Woy!" panggil seorang pria yang wajahnya mirip dengan Aarav, siapa lagi kalau bukan Adya.


"Tuan bos, kenapa kau berteriak?"


"Karena kau diam saja, sepertinya kau sedang cemas, ada apa?"


"Biar aku yang urus, lebih baik kau ikut aku. Tadi ini itunya belum selesai, tugasmu! apa kau lupa?"


"Oh iya, maaf Tuan bos. Ini karena Tuan bos Aarav meminta pernikahan, jadi aku ...."


Belum sempat Anetta meneruskan ucapannya, Adya langsung menghentikan kata-katanya.


"Tunggu ...."


"Ada apa Tuan bos?"


"Kau ulangi kata-katamu yang sebelumnya."


Sang bos sepertinya ingin mendengar Netta mengucapkan kata-kata itu lagi. Namun, Netta masih terlihat bingung.


"Yang Tuan bos Aarav ingin menikahiku?"


"Nah, itu! kapan dia bilang akan menikahimu?"


"Ups ... maaf Tuan bos, aku permisi. Maaf, aku salah bicara."


"Tunggu Netta, kau katakan padaku, apa masalahmu, kakak sepertinya mengintimidasi dirimu."

__ADS_1


"Aku tidak tahu Tuan bos, tapi keputusanku sudah final, jadi aku tidak ingin membahasnya lagi, maaf Tuan bos. Aku bekerja dulu," pinta Netta sambil berjalan menjauhi Adya.


Adya penasaran dengan apa yang dilakukan oleh sang kakak.


Dia ingin mencegah kepergian Anetta, tapi orangnya sudah pergi jauh. Adya memilih untuk mengkonfirmasi hal ini kepada sang kakak.


BRUAK!


Pintu ruangan CEO di buka oleh Adya kemudian ia banting pintu itu.


Dia melihat sang kakak sedang tidur nyenyak di atas sofa.


"Kak! apa maksudmu ingin menikahi udik?" tanya Adya kesal.


Aarav hanya menggeliat, dia pura-pura tidak tahu dan pura-pura tidak mendengar.


"KAKAK! WOYYY!!" teriak Adya tepat di telinga sang kakak.


"Adek! apa yang kau lakukan!! kalau kakak tuli, kau yang bertanggung jawab!" jawab Aarav langsung menggosok-gosok telinganya, seolah-olah memperbaiki alat pendengarannya agar bisa mendengar secara normal.


"Aku sudah berteriak dari tadi dan aku juga membanting pintu! apa kakak pura-pura tidak mendengarnya? pura-pura tidak tahu? pura-pura tidak melihat?"


Aarav bangkit dari tempat duduknya.


Dia kini lebih serius.


"Jika aku ingin menikah dengannya, apa masalahmu? kau cemburu? kau suka dengan udik itu? katakan dek! apa kau suka dengan gadis kampung itu?"


"Jangan sekali-kali kakak menghina gadis sebaik dan sejujur Netta, dia lebih dari segalanya bagiku! kakak tidak berhak menentukan kebahagiaan Netta! lepaskan dia kak, aku tidak rela dia bersama pria breng...sek sepertimu! cari gadis lain, jangan Netta! tinggalkan dia!"


Aarav tersenyum, ini pertama kalinya Adya berani membentak dan berdebat dengannya.


"Cih, segitunya ya seorang Adya, membela gadis udik, kampungan, bodoh! oh ya, bukannya Paman Willy akan datang dan meminta kau bertemu dengan putrinya? kau juga akan dijodohkan dan ... oh, kau juga sama liciknya denganku rupanya ... ehm, kau juga akan memanfaat Netta untuk kepentingan mu kan?"


Aarav sungguh kotor pikirannya, persis seperti kelakuannya, tapi kata-kata Aarav yang sangat menyakiti hati Adya, langsung dibantah oleh Adya.


"Setidaknya aku lebih gentle dan jujur, aku sudah mengatakan kepada Paman Willy bahwa aku memiliki seorang gadis yang terbaik di kota ini, dia adalah Netta! jangan harap kakak bisa mempermainkan perasaannya, camkan itu kak!"


Adya benar-benar gentleman, membuat Aarav diam. Dia malas membahas hal ini karena urusannya dengan Anetta hanyalah pernikahan kontrak, dia akan membuktikan kepada Adya, bagaimana cara menjadi pria yang bertanggung jawab.


"Oke, Adya. Aku paham sekarang, aku sudah mengambil keputusan. Netta adalah pilihanku, suka atau tidak, kau harus menerima jika dia akan menjadi calon kakak iparmu! dengar itu Adya Fernando!"


BRUAK!


Adya kembali membanting pintu ruang CEO. Aarav juga kesal dia melempar pintu dengan asbak kayu miliknya.


"SHIIIIITTTT! apa sih bagusnya si udik? dia hanya manis, tidak ada yang lebih darinya! ya meskipun dia lemot tapi ya lumayan baik, ah ... apa lah! tidak , tidak, aku tidak boleh membiarkan Adya memiliki Anetta, aku yang harus menikahinya lebih dulu!"


Aarav langsung bergerak cepat, dia segera menelpon kedua orang tuanya mengenai seseorang yang sudah ia pilih menjadi jodoh masa depannya.

__ADS_1


"Mommy, Daddy, aku memilih Netta, menjadi calon istriku."


*****


__ADS_2