
Gadis itu berjalan menuju tempat sampah yang ada didepan rumahnya, Adya memperhatikan bahwa ada kemiripan antara Renata dengan gadis itu, hanya saja gadis ini lebih cantik dengan polesan make up, Adya perlahan menghentikan mobilnya lalu membuka jendela mobil.
"Muka tembok!" teriak Adya.
Sang gadis menoleh, dia terkejut dengan seorang pria yang tiba-tiba saja memanggilnya dengan muka tembok.
Gadis itu mencuci kedua tangannya di bawah percikan air kran yang ada di taman kecil depan rumahnya.
Perlahan ia mengusap kedua tangannya yang basah pada kain celemek yang ia kenakan, kakinya berjalan menuju gerbang kecil yang menyekat antara rumahnya dengan mobil milik pria yang tidak ia kenal.
Akan tetapi setelah berada di dekat sang pria, dia terkejut bukan main.
"Adya! astaga ini kau!"
Sang gadis langsung melotot tidak percaya.
"Iya, ini aku. Kau seperti melihat hantu saja, coba kau bercermin, wajahmu terlihat sangat jelek saat berdandan," ucap Adya.
"Ah yang benar saja? Ayah bilang aku harus berdandan jika ingin mendapatkan seorang kekasih, aku jomblo sudah lama, mana bisa seperti itu terus? Hahahaha."
Sang muka tembok, masih sama saja, hanya sedikit lebih feminim. Adya tidak akan bisa melupakan wajah yang suka usil padanya itu.
"Kau lebih feminim, dunia sudah kiamat ya?"
"Hahaha ... Kau kurang ajar sekali, tidak dong. Kiamat kalau aku menikah denganmu, pria cemen!"
"Mana ada cemen, aku anak mantan mafia lho. Kau tahu itu kan?"
"Mantan doang, bukan mafia lagi kan? Hm ... Kau selalu membanggakan ayahmu tetapi kau sendiri lemah lembut, haha ... okelah, mari kita memasak. Ayahku hanya marah-marah saja karena sayurku gosong!"
"Hahaha ... astaga, bagaimana bisa sayur menjadi gosong? Kau apakan sayur itu?"
"Aku bakar karena tak kunjung matang saat aku memasaknya."
"Memangnya apa yang kau masak? Sayur modelan apa?"
"Sayur itu lho yang sulit matang, aku lupa. Dahlah, ganti menu saja."
"Hm, kau pasti ngarang. Namanya sayur ya lunak, dasar muka tembok!"
"Anggap saja aku seperti itu, cepat masuk dan bantu aku memasak, kalau tidak, pasti ayahku akan marah dan kesal."
"Oke, aku parkir dimana mobilku?"
"Di sini saja, amanlah! Jarang ada maling, paling garong!"
"Wwkwkwk ... Kau masih saja kocak seperti biasanya."
"Turun dari mobilmu dan ikut aku ke dapur."
"Siap!"
__ADS_1
Adya perlahan turun dari mobilnya, dia mengamankan mobilnya dulu, agar saat ada maling, sensor mobilnya akan bekerja.
Setelah itu, Renata membuka pintu gerbang kecil yang setingga dadanya itu dan mempersilahkan sang pria masuk.
Dia memasukkan sang pria lewat pintu belakang.
Sesampainya di dapur ...
Adya tepok jidat saat mendapati banyak sekali peralatan dapur yang ada di lantai, sayur gosong, tabung gas tidak pada tempatnya serta beberapa piring pecah.
"Muka tembok? Kau baru saja perang nuklir ya? Kenapa berantakan sekali?"
"Aku kesal karena masak selalu gagal, jadi aku banting piringnya."
Adya geleng-geleng kepala, dia tidak meyangka akan mendapatkan seorang gadis dengan keistimewaan yang hakiki seperti ini.
"Kau duduk bersama ayahmu, nanti aku akan memasak untukmu, ambilkan celemek!"
"Oke bos!"
Renata melepaskan celemek miliknya dan melempar ke arah Adya.
Adya protes.
"Ini bekasmu, aku tidak mau!"
"Pakai saja, kau akan menghadiri acara pernikahan kakakmu kan? Cepat memasak, aku akan mandi dan nonton tivi bersama ayah, nanti kalau sudah siap, teriak ya? Aku akan datang."
"Hahah, aku hanya bercanda, aku akan membantu membersihkan ini saja, kau yang masak. Sekalian bisa ngobrol, lama tak cuap-cuap denganmu, aku ingin tahu apakah kau sudah memiliki anak."
Muka tembok melirik ke arah Adya yang terlihat sedang membuka kulkas dan mencari bahan makanan, dia seorang yang cekatan, tidak butuh waktu lama untuknya memasak hidangan.
"Masak yang simple saja, ini namanya sayur bening, aku lihat ada nugget, jadi aku goreng saja."
"Kau cukup cerdas."
"Iya, aku memang cerdas."
"Cih, sombongnya."
"Aku tidak sombong, hanya saja terlihat sangat luar biasa. Kau sajikan makanan ini, oh iya dimana ayahmu? Katanya marah-marah karena kau tidak kunjung selesai memasak?"
"Ayahku tidur sepertinya."
"Haha, kocaknya."
Adya perlahan berjalan menuju letak gelas, piring dan nampan.
Dia menyajikan satu mangkuk sayur bening dengan nugget goreng.
Sang gadis mengekor sang pria.
__ADS_1
"Ayahmu dimana?"
"Belok kiri, ruang keluarga."
Dari dapur menuju ruang keluarga, tersekat tembok yang cukup tinggi jadi harus berbelok ke kiri agar sampai di ruang dimana Renata, ayah dan ibu, serta kakaknya berkumpul untuk Q-time.
"Ayahmu tidak tidur tapi pingsan," ucap Adya.
"Haha, dia tidur seperti orang pingsa," jawab sang gadis.
Renata mendekat ke arah sang ayah dan mencoba membangunkan, namun sang ayah tak kunjung membuka matanya.
Renata ada ide.
"Maling! ayah, ada maling. Mobil ayah hilang!"
Seketika itu sang ayah membuka mata dan berlari menuju garasi mobil seperti orang yang ketakutan.
"Mana maling? Mana?" ucap ayah Netta bernama, Bram.
Tuan Bram masih belum menyadari jika putri tengilnya membuat ulah.
Adya meletakkan nampan berisi semangkuk sayur bening, serta nugget di atas meja dan ikut mengejar Tuan Bram.
"Kau keterlaluan."
"Biar saja."
Renata menghampiri sang ayah.
"Mobil aman, perut juga aman. Aku sudah berhasil memasak tapi bohong! Adya memasak untuk ayah."
Renata menunjuk ke arah Adya berada.
Sang ayah melotot ke arah sang putri.
Dia menjewer telinga sang putri dan membawanya masuk ke dalam rumah.
"Dasar nakal, ayah mendidikmu jadi gadis feminim, kenapa jadi tidak waras lagi?"
"Aduh ayah, pada intinya kan ada sayur untuk dimakan, Adya masaknya cepat lho ayah."
"Aku tahu, keluarga tuan Fernando memang pengusaha restoran, jadi bagaimana bisa tidak pandai memasak."
Sang ayah melepaskan jewerannya di telinga kanan sang gadis.
Tuan Bram sudah mulai tenang, dia terlihat duduk di sofa ruang keluarga.
Adya meminta Tuan Bram mencicipi masakannya.
Tuan Bram sudah tak berkomentar karena masakan Adya selalu enak dan tidak ada cela sejak dulu.
__ADS_1
*****