
Sang istri sebenarnya tidak ingin suaminya mendapatkan percobaan yang sangat luar biasa ini, tetapi sikapnya sudah keterlaluan.
Menghilangkan nyawa seorang janin bukanlah perkara yang sederhana.
Netta dan Bella terlihat membahas ini saat perjalanan menuju rumah sakit.
"Netta, aku sangat terkejut saat mendapati kakakku begitu nekat hanya karena ingin menutupi perbuatnnya yang sangat tercela itu. Bagaimana bisa dengan mudah menjadi orang jahat. Astaga! Aku tidak habis pikir dengan kakak."
Sang adik ipar benar-benar terkejut mendapati kenyataan bahwa sang kakak memang tidak menghargai orang lain.
Bahkan tidak memandang bahwa apa yang dia perbuatan akan mendapatkan sanksi.
Sang daddy akan mengamuk jika tahu semua ini.
Belum juga selesai bicara, sang daddy menelpon Bella.
"Bella? kakakmu dimana?" tanya sang daddy di panggilan telepon.
"Kakak sedang on the way kantor polisi dengan kakek Hans."
"Hm, apa dia sudah melebihi batas? Dia itu meniru siapa? Apa karena kami terlalu memanjakannya?"
Sang gadis bahkan mampu merasakan kemarahan itu.
Tidak seperti biasanya sang daddy mengatakan semua ini dengan suara penuh penekanan.
Pria itu terdengar sangat marah namun menyembunyikannya.
"Daddy bisa langsung ke kantor polisi jika ingin bertemu dengan Kak Aarav."
"Ya." Panggilan telepon usai, Bella menatap sang kakak ipar.
"Kak Aarav akan babak belur lagi, lihat saja nanti. Daddy sudah marah dan semuanya tidak bisa dibendung lagi. Kau tidak boleh melihat semua itu, kau pulang saja bersamaku. Kita tidak perlu ke kantor polisi."
"Aku ikut apa katamu saja nona bos."
"Oke siap!"
....
Sementara itu ...
Daddy Alex sudah siap-siap menyusul sang putra ke kantor polisi.
__ADS_1
Laras memeluk tubuh sang suami dan memberikan nasehat.
"Baby, kau boleh marah, tapi tahan, jangan membuat emosimu menghilangkan rasa kasih sayangmu."
"Iya, aku paham dengan apa yang aku lakukan."
Alex melepaskan pelukan sang istri dan mengecup bi bir Laras.
Sang istri terkejut.
"Kau rindu?"
"Iya, sangat rindu. Nanti kau harus bertanggung jawab karena sudah memelukku di malam hari."
"Haish, sudah tua juga."
Sang suami tersenyum, dia mencoba menyembunyikan perasaan yang sebenarnya karena sejatinya dia sangat marah kepada sang putra yang tidak memiliki etika yang baik itu.
Alex dan Laras keluar dari kamar, Adelio terlihat menghampiri sang mommy.
"Adya mencari mommy," bisik Adelio.
"Oh oke, katakan saja jika mommy sedang mengantar Daddy sampai depan gerbang," jawab sang mommy.
"Aku bisa sendiri baby, kau temui Adya. Aku kira dia merasa sedih jika kau tidak kunjung datang padanya."
"Kau tidak apa-apa?"
"Aku baik-baik saja, aku akan pergi setelah kau masuk ke kamar Adya."
Laras mengecup pipi Alex dan memeluknya," Terima kasih Lex."
"Ya, kau urus anakmu dulu, aku akan membereskan anak bandel itu."
"Oke."
Sang istri dan Adelio berjalan menuju kamar Adya, sedangkan Alex berjalan menuju pintu utama.
Setelah berada di pintu utama, dia segera membuka pintu itu lalu berjalan menuju garasi mobilnya.
Dia naik mobil sport kebanggannya.
"Aku sudah lama tidak meng hajar bocah itu, bisa-bisanya mencoreng namaku. Aarav, ini yang pertama dan terakhir."
__ADS_1
Sang mantan mafia segera tancap gas menuju kantor polisi tempat sang putra berada.
.
.
.
Kantor polisi ...
Aarav sudah sampai di kantor polisi dan terlihat sangat murung.
Pria itu sangat tidak suka akan hal ini, dia pasti akan mendapatkan bogem mentah dari sang daddy.
"Apa yang kau pikirkan cucuku?" tanya kakek Hans sambil menjebloskan cucunya ke dalam jeruji besi.
"Aku memikirkan daddy."
"Dia akan segera datang dan kau tidak perlu mengkhawatirkan hal itu."
"Dia kan meng ha jarku."
"Sudah sepantasnya, kakek sangat mencintaimu tetapi kau tidak mendengarkan apa yang kakek katakan selama ini, jadi kau rasakan semua ini, renungkan apa yang sudah terjadi dan jadikan sebuah pelajaran. Kau tidak bisa serta merta menyalahkan orang lain atas nasibmu ini. Koreksi diri saja, kau selalu membangkang dan tidak pernah mendengarkan aku dan ayahmu."
Sang kakek paham akan hal ini, dia tidak akan melakukan apapun jika sang cucu menurut dan tidak berbuat yang aneh-aneh, namun kenyataanya, sang cucu berbuat hal yang memalukan, membuat kakek Hans kesal juga.
"Kau diamlah di sini, nikmati hukuman yang sudah Tuhan berikan padamu, kakek tidak bisa menolongmu."
"Baiklah kakek," jawab sang cucu lemas.
Dia lunglai, seharunya bisa malam pertama eh malah malam pertama di tahanan.
"Karma kedua berlalu."
Sang pria duduk bersandar dan menundukkan kepalanya.
Dia merasa kesal pada dirinya sendiri.
"Sialan!"
Dia menghantam lantai penjara itu hingga tangannya berdarah.
Mau kesal juga tidak ada gunanya, dia hanya bisa menunggu putusan hakim nanti dipengadilan tentang hukuman apa yang pantas untuknya.
__ADS_1
*****