CEO Bastard Yang Bucin

CEO Bastard Yang Bucin
Perasaan yang hadir


__ADS_3

Netta seperti menunggu detik-detik kehidupannya yang akan hancur dan rubuh, dia berdoa kepada Tuhan akan dikuatkan imannya.


"Tuhan, berikan aku kekuatan yang sangat besar, sshunga mampu membuat segalanya menjadi mungkin, oleh sebab semuanya karenamu. Tuhan, bimbinglah aku dalam cahaya mu."


Sang gadis terus saja memejamkan mata hingga sang pria yang menyebalkan itu ada disampingnya dan berbisik.


"Siapkan bibirmu untuk first kiss dariku."


Deg!


Netta membuka mata dan menoleh ke arah kanannya, di sana dia menatap masa depan yang sangat buram.


"Bos!" ucap Netta.


"Panggil saja Aarav, jangan lupa ya? nanti kau sebut nama adikku saat janji suci."


Sang bos memang sangat mengesalkan.


Bisa-bisanya berkata seperti itu di saat yang sangat genting seperti ini.


Sang gadis tidak menyangka akan bersama seorang pria yang tidak pernah mau menghargai orang dengan baik.


Aarav Fernando, membawa nama baik keluarga Fernando, tapi tidak pernah ia jaga dengan semestinya.


Justru, dengan tingkahnya yang semena-mena sampai menghilangkan janin tak berdosa.


Memang pria ini tidak memiliki hati.


...


Detik-detik menuju janji suci akan segera tiba, Netta terus saja berdoa agar dia mampu melaksanakan tugasnya sebagai mempelai wanita dengan baik.


"Netta, apa kau siap?" Netta mendengar ada seorang pria tua memanggil namanya berulang-ulang.


Netta kira itu hanya mimpi, saat sentuhan tangan itu ada dipundaknya, dia baru sadar jika pendeta memanggilnya.

__ADS_1


"Nona Netta? apa kau sudah siap?" tanya sang pendeta.


Netta menatap sekeliling ruangan penuh bunga, suasana sangat romantis memang.


Di sudut ruangan,dia melihat ada Adya dan gadis di sampingnya.


"Bos Adya, dia sudah bisa melupakan perasaannya padaku, syukurlah! aku mantap untuk melangkah."


"Nona?" panggil sang pendeta sekali lagi.


"Ya, saya siap!" jawab Netta.


Aarav juga senang saat mendapati Netta siap menikahinya.


"Bagaimana dengan anda tuan Aarav?"


"Saya siap!"


"Oke, kita mulai mengucap janji suci."


...


Semua orang yang ada di dalam gedung itu, merasakan kehangatan itu, meski hanya semu.


Setelah pemberkatan, sang pendeta meminta Aarav memberikan kecupan mesra kepada sang istri.


Aarav memegang pundak Netta, sang pria berbisik.


"Jika kau tidak menikmatinya, cukup diam. Biar aku yang melakukannya. Kau ingin ayah Ge bahagia kan? ikuti mau ku."


Netta hanya bisa mengangguk.


"Relax saja Netta," pinta sang suami.


Netta menghembuskan nafasnya.

__ADS_1


Sang istri menutup matanya saat wajah Aarav mulai mendekat, hingga ...


Cup!


Bibir itu mulai beradu, Netta kaku sekali, tapi sebuah sentuhan aneh, membuat Netta justru membuka mulutnya.


Tepukan riuh dari para tamu undangan, membuat keduanya malu.


Aarav yang jago berci um an, dibuat terkejut dengan bi bir Netta yang masih ranum dan suci.


Tiba-tiba jantungnya tak terkendali.


Dia justru canggung.


"Bagus, kalian terlihat sangat serasi. Semoga bahagia."


Sang pendeta lalu turun dari altar pernikahan.


Kini hanya ada dua orang yang tak disangka malu sekali dengan perasaan masing-masing.


"Lempar bunganya!" teriak Lexis.


Aarav yang gugup, tak sengaja menyenggol lengan Netta dan keduanya saling bertatap.


"Cie! suami istri!" teriak tamu undangan yang tak henti menggoda Netta dan Aarav.


"Buang bunga itu," pinta Aarav.


"Kemana?" cetus sang istri.


"Kau berbalik, dan buang bunganya."


"Oh oke."


Kondisi ini benar-benar menyiksa batin Adya, dia tak kuasa melihat adegan suami itu istri itu, dia memilih keluar gedung.

__ADS_1


Renata yang tak paham dengan ini semua, hanya bisa diam di sana, saat dia ingin menyusul Adya, Bella memintanya untuk tetap diam di acara itu sampai selesai.


*****


__ADS_2