CEO Bastard Yang Bucin

CEO Bastard Yang Bucin
Terimalah Aku!


__ADS_3

Sang gadis merasa sangat canggung karena baru saja bertemu dengan seorang pria yang sudah ia sakiti hatinya.


Entah mengapa saat dia berpapasan dengan sang adik ipar, terasa lebih canggung dari biasanya.


"Aku sangat gugup, meskipun nona bos mengatakan bahwa aku dan bos Adya tidak harua canggung lagi karena sejatinya semua yang ada hanyalah sebuah hal semestinya harus terjadi."


Sang gadis berjalan menuju kamarnya lagi dan terlihat lebih tenang dari sebelumnya setelah menghela nafas beberapa kali.


Klek!


Netta membuka pintu dan mendapati sang adik ipar sudah berbicara dengan Aarav.


"Aku tahu kak, tapi setidaknya kau ungkapkan perasaanmu. Aku tidak bisa melihatmu berkorban tanpa sebuah pengakuan," ucap Bella dan sambungan telepon.


"Bella, kau kan tahu, aku sudah mengatakan hal yang sebenarnya, tetapi dia sama sekali tidak mempercayaiku, rasanya sangat penat tetapi juga hampa. Daddy baru saja menghajarku tadi, badanku remuk. Semua tubuh terluka, aku merasakan sakit yang double. JIka Netta menolakku, apakah sangat tidak baik untuk kesehatanku?" jawab sang kakak yang terdengar sangat kesakitan.


"Sudah diobati belum kak?"


"Sudah, aku merasa menjadi orang yang sangat menyebalkan karena tidak bisa mencintai Netta dengan benar. Maafkan aku Bella, telah gagal menjadi kakak yang baik."


Mendengar ucapan Aarav membuat sang gadis mendekati Bella dan meminta ponsel sang adik ipar dan berbisik," Katakan padanya jika dia boleh mengeluarkan unek-uneknya."


Sang adik ipar mengangguk," Oke."


"Kakak, kau bisa mengatakan apapun padaku, mumpung Netta sudah tidur."


"Benarkah itu Bella?"


"Benar."


Netta kini sudah membawa ponsel Bella dan mendengarkan curhatan Aarav.


"Bella, aku sudah bertahun-tahun bersama dengan para gadis dan semuanya berakhir di ranjang. Aku tidak pernah menghargai hubungan sama sekali. Rasanya aku ini seperti pria yang tidak tahu diri ya Bella? memang begitu adanya kakakmu ini, Bella? aku ingin mengatakan perasaan kepada Netta, tapi aku malu. Aku sudah menjadi pemain wanita, tapi sangat gugup saat berada di dekatnya, apalagi ci u m an pertama Netta juga sangat berkesan bagiku. Aku sudah memutuskan untuk bersamanya setelah meminta maaf kepada gadis yang sudah aku hancurkan masa depannya. Menurutmu, apa dia mau menerimaku?"


Aarav yang tidak tahu bahwa yang dia ajak bicara adalah Netta, merasa heran karena tidak ada jawaban sama sekali.


"Bella? Katakan sesuatu."


Netta mengakhiri segalanya dan berkata," Aku mau menerimamu Aarav, asalkan kau memiliki komitmen untuk berubah, aku akan menilai usahamu nanti dan mempertimbangkannya."


"Ne-t-ta?"


Suara sang pria sangat gugup, Bella tertawa.

__ADS_1


"Hahaha ... Kena prank Kak Aarav!"


Suara Bella sangat keras, membuat Aarav mengumpat.


"Si a lan kau adik!!"


"Aarav, kau tidak boleh seperti itu dengan nona bos, dia yang membuat aku mau mempertimbangkan mu."


"Iya sayang, Netta? Bolehkan aku memanggilmu sayang?"


"Ya boleh."


"Hm, sayang, jenguk aku ya? Aku sendirian di sini, aku lelah dan terluka." Sang suami mendadak manja, membuat sang adik tak kuasa ingin meledek.


"Dih, sok manja! Kau itu wajib di hukum, mana ada tahanan manja."


"Sudah nona bos, kasihan suamiku."


"Cie-cie, yang sudah jatuh cinta."


Sang adik ipar terlihat menggoda kakak iparnya yang mulai bersemu merah.


Netta segera mengatakan pamit pada sang suami tetapi di halangi oleh nona bos.


"Aku tidak enak denganmu nona," bisik sang gadis.


Dia menutup sebagian ponselnya agar sang suami tidak mendengar apa yang dia katakan.


"Sayang? Kau masih ada di sana?"


"Iya. Aku masih ada di sini."


"Oke, kau tidur saja, kau besok harus kemari dan membawa kue yang enak, janji ya?'


"Manja sekali."


"Aku kan suamimu. Manja bolehkan?"


"Ya."


Netta senyum-senyum, dia merasa kebahagian dan keutuhan rumah tangganya akan berlangsung cukup lama dan enam bulan yang disepakati mungkin saja bisa hangus karena besarnya cinta Aarav padanya.


Netta memutuskan untuk segera tidur karena esok hari, dia akan membuat makanan untuk sang suami.

__ADS_1


Bella juga menyarankan sang adik ipar agar tidur juga.


Keduanya beristirahat dalam suasana yang sangat damai dan penuh kebahagiaan.


....


Keesokan harinya ...


Dapur sudah sangat ramai. Terlihat begitu ramai dengan dua gadis yang memasak dengan suka cita.


"Netta, aku berharap kau tidak gugup. Jadi bisa menghasilkan kue yang sangat enak dan tidak bantat."


"Astaga nona, aku masih sangat sadar dan mencoba menjadi orang yang profesional."


"Oke, baiklah, aku kan hanya bercanda."


Dua orang itu tertawa bersama dan bersemangat dalam membuat kue kesukaan Aarav.


Kembar yang lain terlihat baru bangun dan bertanya kepada Bella.


"Tumben masak?" ledek Adelio.


"Dih, kau sangat menyebalkan Kakak." Sang adik cemberut dan di tertawakan oleh kembar yang lain.


"Eh, daddy dan mommy kemana ya?" tanya Lexis.


"Mereka pergi sejak tadi malam dan belum pulang juga, pasti ada hubungannya dengan urusan Kak Aarav."


"Maksudnya?"


Bella memahami tapi pura-pura tidak tahu.


"Kakak kita kan sedang mendapatkan hukuman dari Kakek dan Daddy, jadi Mommy mendampingi mungkin ya?" cetus Adelio.


"Kalian berdua sok tahu!"


"Memang kami tahu, wek!" Sang kakak menjulurkan lidahnya dan segera menghampiri adiknya, mereka sangat usil karena mengoleskan tepung ke wajah Bella.


Suasana dapur sangat riuh dan di saat itu Adya datang.


"Hm, ramai sekali," ucap Adya.


"Kakak! Kau je wer saja dua orang itu! begitu jahil dan menyebalkan!"

__ADS_1


__ADS_2