
Anetta masih terpaku di ruang CEO, dia hanya menunduk dan merem@s bajunya. Sedangkan Aarav tersenyum bahagia.
Si Tuan bos menatap wajah Anetta," Hey kampung! kenapa masih disini? ada yang ingin kau sampaikan?" tanya sang Tuan bos heran.
"Tuan bos belum menyuruh saya pergi, jadi saya diam saja. Daripada nanti saya salah lagi," jawab Anetta.
Dia masih menunduk, rasanya campur aduk jika jadi Anetta.
Secara, tiba-tiba dilamar, harus bertemu kedua orang tua bos menyebalkan dan lebih menyeramkan lagi ada kontrak diatas janji suci pernikahan pura-pura dengan Tuan bos Aarav.
Dia bukan tipe orang yang melakukan apapun demi uang, dia lebih baik tetap miskin tapi jujur, daripada harus berbuat buruk untuk mendapatkan uang.
Untuk pertama kalinya Anetta melakukan hal yang tidak sesuai kata hatinya.
Namun, ini sudah menjadi keputusannya, toh demi ayahnya.
Dia juga tidak melakukan hal buruk, ini hanya kesepakatan untuk menolong Tuan bos Aarav agar tidak menikah dengan jodoh pilihan Laras.
"Haha ... kau benar, Hm ... karena kau sudah baik hati mau membantuku, aku akan menyebutkan namamu dengan baik. Siapa namamu?" tanya Aarav yang sudah lebih normal dari sebelumnya.
"Saya Anetta Tuan bos, panggil saja Netta," cakap sang gadis lirih.
Dia dalam tekanan batin yang luar biasa. Anetta dalam posisi serba tidak nyaman.
"Netta, kau duduklah, setelah ini aku akan memberimu jus jeruk, agar tenggorokanmu lebih segar dan bisa berkomunikasi dengan baik saat berbicara dengan bosmu ini," pinta Sang Tuan bos Aarav.
"Tidak perlu Tuan, saya bisa membuatnya sendiri nanti di dapur, Tuan tidak perlu repot-repot membuatkan jus jeruk untuk saya, benar Tuan. Tidak perlu," ujar sang gadis merasa tidak enak hati karena sang bos begitu baik hari ini.
"Woy! woy! woy! jangan ngelunjak ya? siapa juga yang mau repot-repot membuat minum untukmu! astaga! percaya diri sekali! aku memintamu duduk, itu biar kita bisa bicara lebih lanjut mengenai rencana pernikahan kita. Soal minuman, biar karyawan lain yang membuat, Nona Netta yang manis," ujar Aarav.
Netta tersenyum, dia tidak menyangka si bos bisa mengatakan hal itu kepadanya.
"Hey! apa itu! senyum-senyum? jangan kepedean ya? aku bilang kau manis karena memang manis, jadi jangan mengira aku suka padamu!" jawab Aarav menjadi salah tingkah.
"Tidak Tuan, aku tidak ...."
"Diam! jangan sekali-kali bicara, jika aku tidak memintanya, kau paham!"
"Hm." Sang gadis bungkam sambil mengaitkan jari telunjuk dan jempolnya membentuk huruf O.
Aarav tidak mau dianggap canggung karena mengakui wajah Anetta yang manis, meskipun terlihat kampungan.
Sang bos menelpon salah satu karyawan untuk datang ke ruangannya dan membawa 2 gelas jus jeruk.
Saat sang bos menelpon, Netta teringat tentang sampah yang masih ada di dalam ruang CEO arogan itu.
"Tuan bos, saya ingin membakar sampah ini, bolehkah saya keluar?" tanya Anetta meminta izin.
"Kau duduk saja, nanti biarkan karyawan lain yang membakar sampah itu. Sebentar lagi, kau akan menjadi istri seorang CEO, jadi harus punya jiwa orang kaya, tidak perlu mengurus sampah," cakap Aarav.
__ADS_1
Netta tersenyum, dia merasa senang, Tuan bosnya tidak terlalu kasar padanya kali ini. Bahkan dia menyebutnya manis, yang terbaru, si arogan ingin membicarakan pernikahan kita dan akan menjadi istri seorang CEO.
Meski hanya berpura-pura, melihat si arogan lebih ramah, membuatnya nyaman.
"Kenapa senyum-senyum lagi?"
"Tidak Tuan bos, saya tidak senyum."
"Itu, kau senyum! jangan bohong!"
"Iya, saya tersenyum. Maaf Tuan bos."
"Kenapa harus minta maaf, itu hakmu mau senyum atau tidak, huft! ribet sekali bicara dengan gadis udik, kampungan dan bodoh sepertimu! heh, Netta! pada intinya berhenti memanggilku Tuan bos Aarav, panggil Aarav saja."
"Apa? bos? A-arav?"
"Ya, jangan pakai bos. Sebut Aarav saja Netta, paham?"
"Ya Tuan, eh Aarav. Aku paham."
"Nah, bagus. Tunggu jus jeruk datang, baru aku akan bicara hal penting untuk acara pertemuan antara dirimu dan kedua orang tuaku," jelas Aarav yang kini lebih dekat dengan si gadis.
Tok ... tok ... tok ....
Terdengar suara ketukan pintu.
Ternyata orang yang datang untuk membawa minuman ke dalam ruangan bos Aarav adalah Ray Iko, gadis yang selama ini sangat membenci Anetta.
Ray Iko kesal, gadis culun itu selalu menjadi halangan untuknya mendapatkan jabatan tinggi sebagai manager operasional. Padahal Ray Iko lebih berpendidikan daripada Netta, alhasil si Ray sangat kesal terhadap si kampungan.
Ray terlihat canggung, dia tidak menyangka harus membuatkan minuman untuk sang musuh.
'Astaga, dia? di culun, ada urusan apa bersama Tuan bos Aarav! fix, dia sedang cari muka,' gumam si Ray.
Dia menatap si Netta penuh rasa benci, namun lupa ada bos yang berdiri di sampingnya.
"Woy! woy! Ray Iko? kenapa diam? kau melihat calon istriku seperti hantu, ada apa? apa karena dia kampungan?" tanya si bos membuat Ray terperanjat.
"Ha? calon istri, bos bilang?" jawab Ray sambil melotot.
"Hey! kenapa kau melotot? sudah berani ya?" bentak Aarav.
"T-tidak bos, maaf!" ucap si Ray.
Dia tidak mau membuat masalah karena banyak bicara di depan bos Aarav.
Si Ray memilih untuk meletakkan dua gelas jus jeruk itu di atas meja.
Saat Ray berbalik, Tuan bos Aarav memanggilnya.
__ADS_1
"Ray!" panggil Aarav.
"Ada a-pa b-os?" tanya Ray dengan senyum manisnya.
"Bawa plastik besar ini ke belakang dan langsung bakar! jangan sok kepo melihat isinya jika tidak mau saya pecat! kau paham!" ucap si Aarav tegas.
"S-siap b-os! pa-ham!" cakap Ray.
Secepat kilat dia mengambil plastik berisi sampah masyarakat yang ada di ruangan bos Aarav.
"Huft! akhirnya, dia pergi juga."
Tuan bos Aarav menatap wajah Anetta yang menunduk.
"Hadeh, ini orang menunduk mulu, tegakkan kepalamu Netta!" pekik Aarav.
"Iya bos!"
"Panggil Aarav!"
"Baik Aarav!"
Tuan bos Aarav justru tertawa saat melihat ekspresi wajah udik yang aneh karena latah.
"Kau latah ya?"
"Tidak Tuan!"
"Yang bener?"
"Iya, Tuan."
Aarav mengerjai Netta lagi," Netta, awas ada ular!"
"Hua ... ular ... ular ... ular! aku takut ular Tuan bos! huaaa!" teriak si Anetta.
Dia bahkan memeluk sang bos, saking terkejutnya.
"Netta!" ucap Aarav.
Menyadari dirinya memeluk erat tubuh Aarav, Netta langsung melepaskan pelukannya dan menjauh dari Aarav.
"Maaf Tuan."
"Ya ya, tidak masalah. Aku memaafkanmu karena sudah mau menerima pernikahan kontrak yang akan ribet ini."
Aarav mengajak si gadis duduk bersama, dia terlihat sangat serius karena ingin membahas hal penting mengenai pertemuan dengan kedua orang tuanya.
*****
__ADS_1