CEO Bastard Yang Bucin

CEO Bastard Yang Bucin
Gadis itu


__ADS_3

Adya sudah bangkit dari posisi bersimpuhnya sejak teringat akan sang sahabat kecil.


Dia terlihat membersihkan lututnya yang kotor.


Setelahnya, berjalan menuju mobil miliknya yang berada di depan apartemen sang kakak.


Dia mengusap air matanya dan berusaha tetap semangat dalam menjadi hidup karena sejatinya melepaskan seseorang yang kita cintai bukan suatu hal yang buruk.


Dia lebih memilih untuk mengalah, apa yang Netta inginkan, akan ia penuhi dengan senang hati.


"Aku tidak boleh terpuruk, toh hanya pernikahan paksa, aku tahu Netta tak benar-benar menerima kakakku, huft! Tapi tetap saja rasanya sangat tidak nyaman, bagaimana bisa aku membiarkan Netta hidup dengan orang yang sama sekali tidak mencintainya? aku pantau terus Kak Aarav, jika kau melakukan sesuatu yang buruk pada Netta, siap-siap baku hantam denganku!" Adya masuk ke dalam mobil dan langsung tancap gas meninggalkan tempat itu.


Sepanjang perjalanan menuju rumah Renata, Adya begitu gelisah, perasaannya tidak menentu, dia tidak menyangka akan sepatah hati ini karena baru pertama kali dia merasakan rasa gundah, sedih serta galau dalam satu waktu.


Dia benar-benar tidak bisa berpikir jernih, ingin rasanya merebut Netta yang sama sekali tak menginginkan dirinya.


Namun, nuraninya lebih mementingkan kedamaian dan ketenangan hidup Netta, Adya yakin akan hadir kebahagian itu kelak, dia hanya perlu bersabar.

__ADS_1


Ketika perasaan tidak menentu itu kembali hadir, Adya mendapatkan panggilan telepon dari kakaknya yang lain, Alexis.


Dia segera menjawab panggilan itu dengan meraih headset bluetooth di dashbord mobil lalu memasangnya di telinga, dia tetap fokus menyetir dan tidak ngebut meski hatinya sedang tidak baik-baik saja.


"Kau dimana?" tanya Lexis.


"Aku ada di jalan kak, ada apa?" jawab Adya.


"Kakakmu mau menikah malah keluyuran, mau datang tidak? Nanti daddy marah kalau kau tak segera pulang," cetus sang kakak ketiga, dari suaranya, Lexis begitu kesal.


"Mommy dan daddy marah ya?" ungkap Adya.


"Astaga kakak, kau hampir membuatku sakit perut karena ingin tertawa tapi bagaimana bisa ya aku tertawa? tersenyum saja sulit," jawab sang adik yang kembali merasa sedih.


"Hm, aku paham perasaanmu, Adelio mengatakan padaku bahwa kau memiliki hubungan spesial dengan calon kakak ipar kita? Apakah sudah sangat dalam?" tanya Alexis mencoba menelisik.


"Sudahlah kak, itu sudah berlalu. Aku akan segera pulang dalam waktu lima belas menit. Ada masalah dengan salah satu temanku, jadi aku harus datang padanya hari ini," cetus sang adik.

__ADS_1


"Oke, aku akan menunggu kedatanganmu, pernikahan kakak juga masih beberapa jam lagi, kau tidak perlu cemas. Mommy dan daddy sebenarnya yang terlalu berlebihan," ujar Lexis santai.


"Ya."


Adya menutup panggilan telepon itu dan melepaskan headset bluetooth itu dan meletakkan diatas dashbor mobilnya.


"Huft, aku tidak pernah menyangka akan terjebak dalam lingkaran cinta yang tidak berujung, berasa makan buah simalakama."


Beberapa menit kemudian ...


Letak rumah Renata ternyata ada di perumahan yang kebetulan tidak jauh dari apartemen milik Aarav, dia baru menyadarinya setelah memilih jalan yang tidak terlalu ramai kendaraan.


Kini mobil Adya masuk ke area perumahan dan mencari posisi rumah Renata, dia mengingat nomor rumah gadis yang merupakan teman kecilnya itu.


"Kalau tidak salah, di sini aku pernah jatuh dan keningku memar sebab ditabrak oleh Renata dari belakang, dia memang bar-bar kalau sedang bermain denganku," kenang Adya sambil mengingat setiap peristiwa yang sudah pernah ia lalui dengan sanga teman.


Saat mobilnya melewati sebuah rumah, tiba-tiba saja dia melihat seorang gadis dengan rambut dikuncir kuda sambil menenteng plastik sampah.

__ADS_1


*****


__ADS_2