
Di tempat lain, Aarav merasa kesal karena dikerjai oleh sang adik. Harusnya dia sudah bersama Netta kemudian berkenalan dengan ayahnya.
"Sialan! mengapa Bella lama sekali!" umpat Aarav sambil menendang tiang lampu yang ada di pinggir jalan.
Dia juga merasa kesal kepada Adya, pria itu berulang kali mengirimkan pesan singkat pada Aarav bahwa tidak boleh mendekati Netta.
Sang adik sepertinya enggan berhenti mengejar cinta sang gadis udik.
Namun, Aarav masa bodoh.
Aarav amarahnya meluap seketika dan langsung menelpon sama adik.
Sang kakak mengumpat habis-habisan kepada adiknya, tapi sang adik tetap santai menanggapi kemarahan sang kakak yang selalu meledak-ledak itu.
Perbincangan antara kakak dan adik itu sangatlah membahana, hingga beberapa pengendara mobil yang melewati jalan di mana Aarav berada, mengatakan jika dirinya gila.
Kini, sang pria telah melalui fase ketenangan batin karena mendapatkan telepon dari sang adik bahwa dirinya sebentar lagi menjemput Aarav.
"Bagus, kau harusnya segera mengatakan ini dari awal! bagaimana bisa kau menelantarkan aku di jalan!" teriak Aarav lagi.
"Astaga kakak, bagaimana bisa kau mengatakan itu padaku, padahal aku yang akan membantu menyatukanmu dengan Netta!" pekik Bella tak kalah kuat suaranya.
"Woy! mengapa kau berbicara keras sekali membuat telingaku sakit!" ucap sang pria sambil mengusap telinganya yang berdenyut karena mendengarkan suara yang cukup.
"Haha ... itu balasan karena Kak Aarav usil kepadaku, oh ya, aku sudah bertemu Netta dan ayahnya. Sepertinya ayahnya setuju untuk menikahkan putrinya denganmu, tapi kau harus beramah tamah dengan orang tua. Ayah Netta menyukai pria yang lembut dan tidak neko-neko, kau tahu sendiri kan putrinya saja baik dan lugu. Jadi, kau harus melakukan hal yang sama. Jadilah anak baik di depan ayah Netta," ujar Bella membuat rencana yang sangat luar biasa untuk sang kakak.
"Aku sebenarnya malas melakukan hal itu, tapi mau bagaimana lagi, ini adalah satu-satunya cara untuk menghempaskan Adya, dia juga ingin memiliki gadis udik! padahal, aku dan gadis udik lebih cocok bersama daripada, Adya dengan gadis udik!" jelas sang putra mafia sangat percaya diri.
"Ya ya ya, aku bisa melakukannya tidak?" tanya Bella mengulang pertanyaannya.
"Oke, aku bisa melakukannya dan kau atur pertemuanku dengan ayah Netta," pinta Aarav yang tidak ingin kehilangan kebebasannya.
Jika dia menikah dengan gadis udik, pastinya dia akan cepat selesai dalam menjalani kehidupan rumah tangga.
Cukup 6 bulan saja, kemudian dia akan bebas bebas bebasnya seperti burung yang terbang di langit.
Aarav mendapatkan titik terang dalam menyelesaikan permasalahan mengenai perjodohan antara dirinya dan Tifani.
__ADS_1
"Bell, sudah sampai mana?" tanya sang kakak.
"Aku sampai di jalan xxx, sebentar lagi juga sampai di tempatmu berada! aku tidak lama-lama di rumah Netta, karena ayahnya akan segera beristirahat, Netta juga, tidak enak rasanya mengganggu istirahat orang lain!" cakap Bella memberikan informasi.
"Nah itu tahu, makanya kau jangan terlalu mencampuri urusan keluarga mereka! yang harusnya ikut campurkan aku, aku adalah calon suami Netta," tegas Aarav yang sama sekali tidak mencintai gadis itu, dia hanya ingin memanfaatkan kepolosan sang gadis untuk kepentingannya sendiri.
Ini sangat buruk untuknya karena Netta terlalu baik untuk Aarav yang berandal itu.
"Iya, aku paham kakak! oh ya, apakah memakai baju compang camping?" tanya Bella menggoda sang kakak.
"Sialan, mana ada? aku memakai baju yang bagus! memangnya kenapa kau mengatakan hal itu?" tanya Aarav penasaran.
"Hm, aku baru saja menemukan orang gila yang berbicara sendiri," jawab Bella yang kini berdiri di belakang sang kakak.
Saat sang kakak menoleh ke belakang dia mendapati Bella.
"Sialan! sudah lama kau di sini?" tanya Aarav terkejut.
"Haha ... baru saja 5 menit yang lalu, ayo kita pulang! kita sudah ditunggu mommy dan daddy," jelas Bella
"Kakak, lebih baik aku saja yang menyetir," pinta Bella mengetahui jika sang kakak akan balas.
"Tidak mau!"
Wussssshhhhhhh!
Jurus Daddy mafia langsung merasuk ke dalam dirinya, dia mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi seperti terbang ke langit.
"Kak Aarav! bisakah kau lebih pelan?" pekik Bella sambil berpegangan pada handle pintu mobil.
"Apa? aku tidak mendengar apa katamu! bisa kau mengatakan yang lebih jelas lagi?" pinta sang kakak, dia sedang menggoda adiknya.
Bella melotot ke arah sang kakak sedangkan kakaknya hanya tersenyum smirk.
Hanya butuh waktu 30 menit saja untuk sampai di rumah, ini rekor tercepat yang pernah Aarav lakukan.
"Nah, kita sudah sampai rumah! turun dari mobil jangan muntah-muntah ya."
__ADS_1
Belum sempat adik sudah muntah dan itu tepat di kakinya.
"Adekkkkkkkkkk!" teriak Aarav.
"Ah lega, belum sempat aku keluar, sudah muntah duluan! maaf ya, duh! mana bauk lagi, kau yang harus membersihkan mobil ini! aku pusing!" ucap Bella sambil turun dari mobil itu dan perlahan berjalan menuju pintu belakang.
Aarav mati gaya saat sepatu mahalnya mendapatkan muntahan sang adik.
"Bella, kalau kau tidak menjadi dewi penyelamatku! aku tidak akan memaafkanmu karena kelakuan gila mu ini!" jelas Aarav yang memilih melepas sepatu mahalnya serta celananya dan membuang begitu saja di dalam mobil, kini dia berjalan mengenakan jas dan celana boxer warna biru dengan motif gadis cantik nan seksi, serta satu sepatu yang masih terpasang di kanannya.
Dia turun dari mobil, berjalan seperti orang gila, masuk ke dalam rumah lewat pintu belakang.
...
Laras yang masih mempersiapkan pesta untuk Adelio, merasa heran dengan dua anaknya yang muncul dari pintu belakang.
"Hey, kalian berantem lagi ya?" tanya Laras.
"Tidak, kakak telah membuat onar, dia mengendarai mobil dengan kebut-kebutan!" jawab Bella yang kini sudah bersih, dia baru saja mandi kilat agar tidak bau muntahan.
"Aku tidak melakukan apapun tapi dia memuntahkan recehan yang ada di perutnya tepat di sepatuku, dia telah mengotori sepatu mahal yang baru saja aku beli!" teriak Aarav tak terima dengan apa yang dilakukan oleh sang adik.
Bella dan Aarav terus saja berdebat hingga muncul kata-kata pernikahan yang diucapkan oleh kakak pertama.
"Menikah? menikah dengan ...." Belum sempat sang mommy mengatakan nama Tifani, Aarav sudah menyebut nama lain.
"Netta, aku hanya ingin menikah dengannya!"
Seketika pria lain yang berwajah sama dengannya, yang kebetulan sedang berada di dapur, langsung bereaksi dan menatap sang kakak.
"Apa Adya? apa kau cemburu?" tanya sang kakak.
Adya malas ngeladeni sang kakak, dia membawa buku yang sedang ia baca lalu masuk ke dalam kamarnya.
"Ada apa ini? mengenai perempuan? siapa Netta itu?" tanya Laras belum memahami apa yang terjadi.
*****
__ADS_1