CEO Bastard Yang Bucin

CEO Bastard Yang Bucin
Heartbreak Anniversary


__ADS_3

Hari ini menjadi hari dimana hati Adya hancur berkeping-keping oleh sebab cinta kepada Netta harus benar-benar ia kubur.


Dia belum pernah merasakan duka yang mendalam semacam ini.


"Aku tahu jika ada yang ku lakukan ini adalah hal yang benar, tetapi apa kabar jantung dan mataku? Keduanya sama-sama bergejolak! Dasar pria cengeng," ucap sang pria yang bersimpuh diatas tanah.


Dia sedang mode terpuruk.


Adya yang memiliki sifat yang baik, terlihat selalu mengalah dan tak mendapatkan apapun, rasanya sangat frustasi.


Rasanya ingin pergi ke bar dan menikmati minuman serta para gadis di sana seperti apa yang dilakukan oleh sang kakak dulu.


Toh menjadi pria berperilaku buruk justru mendapatkan hati Netta yang sangat baik itu.


Namun, Adya segera menepis apa yang membuat jiwanya rapuh dan tidak bertenaga.


Dia lebih memilih untuk menepis semua kekhawatiran itu lalu pergi ke tempat dimana dia bisa kuat.

__ADS_1


Rumah sang sahabat kecil, Renata.


Ya, dia bahkan lupa saat memiliki gadis tomboi yang senantiasa mewarnai hari-harinya saat Netta belum merasuk di dalam batinnya.


Dia terlihat sangat egois, bahkan tidak mengingat Renata di saat hati sedang bahagia.


Bagai gayung bersambut, sang sahabat kecil yang lama tak bersua dengannya, tiba-tiba menghubunginya dan meminta bertemu.


Adya senang bukan main.


"Syukurlah, setidaknya ada Renata. Maaf Re, seperti biasanya, aku akan datang di saat sedih saja, sungguh pria yang tidak tahu diri," ucap Adya sambil menatap ponsel miliknya yang terlihat jelas terpampang nyata panggilan telepon dari seorang Renata.


Dia sudah siap untuk berbicara.


"Halo Re, ada apa?" tanya Adya berusaha baik-baik saja.


"Maaf aku menelponmu, aku kesulitan memasak sayur, kau bantu aku ya? ibuku belum pulang, ayah sangat lapar dan menyuruhku untuk memasak beberapa menu sayur dan lauk, aku bisa menggoreng ikan, tapi tidak bisa memasak sayur. Ayahku marah-marah dengan menyebut namamu, jadi aku ingat padamu yang memang pandai memasak,. Jadi aku berusaha mencari nomor teleponmu di buku alumni, syukurlah masih ada," jawab Renata panjang lebar.

__ADS_1


Dia tidak tahu keadaan Adya tapi cukup mampu membuat pria itu baik-baik saja.


"Haha, paman masih seperti itu ya? apa kau tidak menyimpan nomorku?" cetus Adya.


"Iya, nomor lama hilang semua, jadi aku tak memiliki kontak satu pun teman baik di kampus dulu. Ehm masalah ayah, ayah memang selalu seperti itu dia tak pernah mau berusaha sendiri, selalu menyalahkan aku saja. Dia berkata begini, Adya adalah seorang pria baik, sedangkan kau jahat! mana ada gadis tidak bisa memasak," ucap Renata sambil menirukan kata-kata sang ayah.


Seketika itu juga, Adya tertawa.


"Hahaha ... Aku tidak tahu jika kau pandai menirukan suara ayahmu, lucu sekali."


Adya sedikit terhibur dengan kehadiran Renata yang tiba-tiba.


"Aku memang lucu dari dulu, hehe ... by the way, cepatlah kemari karena ayahku akan merebus aku jika tidak kunjung membuat sayur yang enak. Kau masih ingatkan alamat rumahku?"


"Iya, aku akan datang ke sana, tapi dengan syarat, kau dandan ya? aku akan membawamu ke pesta pernikahan kakakku!"


"Ya, terserah kau saja, mau ajak ke gunung juga boleh, tapi kau datang ke rumahku dulu. Bantu aku mengurus ayah!"

__ADS_1


"Siap! laksanakan!"


*****


__ADS_2