CEO Bastard Yang Bucin

CEO Bastard Yang Bucin
Terlukis indah wajahmu


__ADS_3

Sang gadis tidak membahas karena sudah menduga jika Adya memiliki kekasih yang sangat ia cintai.


Dia masa bodoh, dia lebih mengurusi hidupnya sendiri.


Perjalanan menuju tempat yang digunakan oleh Aarav dan Netta menikah semakin dekat, Adya sudah siapkan mental baja menghadapi kenyataan pahit ini.


"Kini saatnya bersikap gentle," batin Adya.


...


Di depan gedung pernikahan ...


Mobil Adya berhenti di depan sebuah gedung mewah yang sangat indah dan cantik, semua orang yang dia kenal ada disana, termasuk Lexis yang sempat menelponnya tadi.


Sang kakak ketiga, sepertinya mengetahui bahwa sang adik datang, dia mendekati mobil Adya yang parkir di tempat khusus untuk anggota keluarga mempelai.


Lexis mengetuk kaca jendela mobil sang adik, dan mendapatkan respon.


Sang adik membuka kaca jendela itu.


"Adik, cepat keluar, mommy sudah menunggumu."


Sang kakak melihat ada seorang gadis yang ikut dengannya, sepertinya Lexis mengetahui siapa gadis tersebut.


"Dia temanmu ya? Renata?" tanya Lexis.


"Iya, dia Renata," jawab Adya.


Adya keluar dari mobil itu, saat ingin membuka pintu Lexis memprotes karena pintu mobil menyenggol dadanya.


"Duh, kau hati-hati dik!" ucap sang kakak sambil mengusap dadanya, rasanya cukup sakit.


"Hahha, maaf kak. Aku kira kau akan pergi, jadinya aku percaya diri membuka pintu mobil. Maaf ya?"


"Hm, tidak masalah. Jangan ulangi lagi, oke?"


"Oke, oya Kak. Kau bantu Renata bertemu mommy ya? Aku mau bertemu Bella."


"Oke, kau ikut aku Re."


"Ya kak Lexis."


Renata yang juga mengenal Lexis, tidak sungkan untuk ikut dengan kakak dari Adya itu.


Saat mereka berdua sudah keluar dari mobil, Lexis langsung mengajak sang gadis bersamanya menemui mommy, sedangkan Adya menemui Bella.


Dia segera menelpon Bella agar bisa bertemu secara cepat.


"Bella, kau ada dimana?"


"Ada di dalam kak, kau dimana? cepat kemari!"

__ADS_1


"Iya, tapi kau keluar dulu, ada yang harus aku katakan padamu."


"Posisi?"


Aku ada di depan gedung, aku berada di antar orang-orang asing berbaju hitam."


"Oh, mereka anak buah daddy, mereka diundang juga, kau nanti akan bertemu paman Willy. Kau sapa dia."


"Iya aku tahu, kau cepatlah. Ini mengenai aku dan Netta."


"Siap, aku akan meluncur."


Adya terlihat menutup panggilan telepon itu dan tiba-tiba seorang pria yang tidak ia kenal mendekat.


"Kau putra Alex?" tanya pria itu.


"Betul, paman siapa?" ucap Adya.


"Aku Liu Earl dan ini adikku Mike. Kami datang atas undangan bos Death Angel, Willy." Pria itu menjabat tangan Adya.


Adya agak ragu, meskipun ramah, mereka berdua sangat mencurigakan, namun Adya berusaha menepis perasaan itu.


Saat menyambut jabatan tangan dari Liu, sang adik datang dan memeluk Mike dan Liu.


"Paman Liu, Paman Mike!"


Sang adik justru sangat akrab dengan kedua orang itu sampai Adya terbengong.


"Kenal, guru bela diri di kampus, selain paman Willy dan daddy."


"Oh, mereka yang melatihmu?"


"Iya kakak, ada beberapa anggota geng jalanan yang menggangguku beberapa bulan lalu dan paman Mike yang menolongku."


Mike mengangguk dan agak cangung saat ada Jenie datang.


Jenie sebenarnya ingin mengajak kakak beradik itu masuk ke dalam, tapi ada Bella jadi dia hanya bersalaman saja.


"Willy apa kabar? putrimu dimana?" tanya Mike.


"Baik MIke, kau apa kabar? Sudah menikah?" sahut Jenie."


"Belum Jen, masih susah melupakan sesuatu, tapi ya sudahlah! Masa lalu biarlah berlalu."


MIke menatap tajam ke arah Jenie, Bella dan Adya menyinhkir karena tidak tahu masalah apa yang terjadi diantara doa orang itu.


Apalagi ketegangan mulai hadir saat Willy datang.


Dia sebenarnya cemburu, tapi bagaimana lagi, Jenie tidak suka Willy membuat masalah dengan MIke.


"Sayang!" panggil Willy.

__ADS_1


Sang mafai terlihat sangat protektif terhadap istrinya.


"Mike, Kak Liu. Ayo masuk ke dalam, yang lain sudah ada di dalam," pinta Willy dengan sang istri berada di dalam pelukannya.


"Ya, mari Kak."


Ke empat orang itu bersama masuk ke dalam gedung dengan Liu yang menahan tawanya.


Di sana masih tersisa Bella dan Adya.


"Bella? apa paman Mike itu mantan kekasih bibi Jenie?"


"Aku juga tidak tahu, aku tidak kepo urusan orang dewasa, by the way, kau ada urusan apa ingin bertemu denganku?"


"Oh iya, aku tidak ada kado yang bagus untuk Netta, apa aku harus memberikan gantungan kunci tas kerjanya, aku dulu menemukan di toilet, aku kira milik siapa, saat tahu ini milik Netta, aku menyimpannya. Aku berniat untuk memberikannya kemarin, tapi karena hari itu dia menghempaskan aku, mana bisa aku memberikan ini. Setidaknya ada Netta yang bersamaku, meski hanya sebuah gantungan kunci."


"Ck ck ... mirisnya, okelah. Nanti aku bantu, kau diam di sini, aku tunggu seorang teman yang akan membawa hadiah, wait. Aku panggil dia dulu."


Sang adik membuat panggilan telepon pada temannya yang merupakan pemilik toko baju.


Bella berniat ingin memberikan kado baju tidur untuk Netta dan Aarav.


"Astaga, apa yang kau pesan tadi?"


"Diam kak, kau sudah ikhlas kan? Makanya kau dukung saja, kita habisi bersama jika Kak Aarav sampai menyakiti bahkan mengkhianati Netta."


"Iya aku tahu, tapi apakah harus baju tidur? Apa ini tidak terlalu ekstrim?"


"Oramg menikah sangat suka di neri kado piyama, biar mesra."


"Bellaa!!!"


Sang kakak mengejar Bella yang berlari menuju bagian belakang gedung itu, dan tanpa sengaja menabrak seorang yang sangat berarti baginya.


"Netta? apa yang kau lakukan di sini? Kau cantik sekali!"


Entah apa yang ada di pikiran pria itu, tapi dia melihat Netta.


"Kakak? kau sedang bicara dengan siapa?" Sang adik merasa aneh dengan kakaknya yang bicara sendiri.


"Netta!"


"Tidak ada Netta, dia ada di dalam. Cepat kejar aku!"


"Ini ada!" Adya menatap ke arah gadis yang disangka Netta, dia tercengang, tidak ada Netta disana.


"Apakah cintaku begitu besar padanya, hingga aku berhalusinasi wajahnya?"


Adya mengacak rambutnya kasar.


*****

__ADS_1


__ADS_2