
Di rumah Aarav ....
"Bella, dimana kakakmu?" tanya Laras yang tak melihat anak pertamanya ada di meja makan.
"Ada di sampingku," jawab Bella.
"Bukan Lexis, tapi Aarav?" tanya sang mommy sekali lagi.
"Lexis juga kakakku, di samping mommy dan Daddy juga kakakku kan? kenapa tiba-tiba mencari Kak Aarav?" cetus sang adik yang terlihat sangat cemas akan keberadaan sang kakak.
Dia bukannya ingin menyembunyikan fakta yang ada, hanya saja dia tidak mau jika mommy dan daddy marah.
"Bella, kau mengetahui sesuatu?" Sang daddy mulai angkat bicara.
"Tidak, aku mau ke dapur dulu, ambil sambal!"
Bella langsung menghindari pertanyaan mengenai sang kakak.
Dia juga penasaran dengan apa yang di lakukan oleh kakaknya.
Saat berada di dapur, dia menoleh ke kanan dan ke kiri, dia merasa aman karena tak ada orang sama sekali di sana.
Dia segera menelpon sang kakak.
"Halo kak? dimana kau?" tanya adik terlihat begitu khawatir.
"Aku ada di tempat yang kau tidak boleh tahu, yang harus kau lakukan adalah tutup mulut, Jangan mengatakan apapun kepada siapapun mengenai hal ini! Aku tidak akan melakukan kejahatan kepada Gadis itu tetapi, Aku hanya ingin semuanya menjadi baik," jawab sang kakak.
"Kak, kau tidak pernah bicara panjang lebar seperti ini. Aku sangat khawatir kau melakukan tindakan yang kurang ajar," cetus sang adik.
Dia merasa ada yang disembunyikan oleh kakaknya, namun saat suara seorang gadis terdengar, Bella merasa agak aneh.
"Kau siapa?" tanya sang adik.
"Aku teman dari kakakmu, Kau tidak perlu merasa jika kakakmu melakukan kesalahan kepadaku karena aku tidak merasa memiliki masalah dengan kakakmu!"
Tidak ada yang aneh dari suara itu, hanya saja Bella merasa ada yang aneh.
"Kau gadis yang bermasalah dengan kakakku?" ujar sang Bella.
"Kami tidak bermasalah, bayi itu sudah tiada, aku yang melakukan kebohongan. Maaf untuk kesalahanku ini."
__ADS_1
Sang gadis memberikan pernyataan yang aneh, sang adik kembali bertanya.
Namun, suara kakaknya terdengar lagi.
"Kau sudah dengar kan?"
"Dengar apa?"
"Aku tidak menghamilinya, jadi dia hanya salah sangka."
"Oh, begitu kah?"
"Iya."
Bella belum yakin dengan keterangan yang disampaikan oleh kakaknya karena terdengar jelas dari suara sang gadis begitu bergetar karena ketakutan.
Dia akan membuktikannya sendiri nanti.
...
Sementara itu ....
"Bagus, kau telah mengatakan hal yang baik, kebetulan bayi itu memang tidak berkembang, jadi tidak ada salahnya untuk di hilangkan. Dia sudah tiada di dalam kandunganmu!" ucap Aarav merasa lega.
Gadis polos yang menjadi seorang pelayan bar, dia mendapatkan perlakuan buruk dari seorang pelanggan bar itu lalu Aarav menolongnya.
Wajah yang cantik serta tubuh yang seksi, menjadi nilai plus dari Virna.
Namun, pertolongan itu, berdampak buruk terhadapnya karena dia justru mencintai pria yang telah menolongnya.
Waktu itu, Aarav masih doyan main sana-sini, jadi dia tidak mengetahui dengan siapa saja bermain dan itu sebenarnya atau hanya main-main saja.
Aarav, sebuah wujud dari ketidakwajaran yang sama sekali tidak pernah diajarkan oleh Alex dan Laras.
Jika Alex tahu, anaknya bisa di hajar babak belur, apalagi sang ibu, dia akan meminta kakek Hans memasukkan Aarav di dalam penjara seumur hidup.
"Rav, Aku tidak pernah menyangka kau melakukan itu padaku! aku sudah menyerah mencintaimu, pergilah sesuka hatimu! tapi karma itu berlaku, kau tidak akan pernah bahagia dengan kebohongan yang ada di dalam hatimu! aku sudah ikhlas menerima semua ini, semoga setelah lepas darimu, aku bisa mendapatkan kebahagiaan sejati!"
Sang gadis benar-benar merelakan semua keburukan yang ada di dalam hidupnya, Virna mencoba memaafkan semua kesalahan orang yang telah menghancurkan masa depannya.
"Bagus, Aku tidak pernah menyangka kau mendoakan hal yang buruk, ternyata kau tidak sepolos yang aku kira! seumur hidup Aku akan mengingat apa yang kau katakan padaku! Hm, Aku tidak seperti yang kau kira! aku akan tetap bertanggung jawab atas kebutuhan hidupmu sampai kau mendapatkan cinta sejati mu!"
__ADS_1
"Kau ingin menunjukkan bahwa dirimu memiliki kuasa? Jangan pernah mengasihani aku yang tidak perlu dipikirkan lagi, pergilah dari sini Aku tidak membutuhkan bantuanmu! aku akan membayar semua biaya pengobatan di rumah sakit ini."
"Cih, seorang gadis yang sombong!"
"Aku tidak pernah sombong meskipun kau merasa Aku ini bukan gadis yang baik, Kau pergilah dari sini jangan pernah menemuiku!"
"Aku tidak akan pernah menemuimu tetapi akan memberikan uang kepadamu, walau kau tidak mau! tapi kau harus tutup mulutmu!"
"Aku tidak Sudi berurusan denganmu lagi, dari sini dan jangan pernah datang kembali!"
Aarav dengan senang hati meninggalkan sang gadis tapi masih saja ia peduli, dia sebenarnya pusing.
Sang putra mantan mafia, terlihat membayar semua biaya operasi pengangkatan rahim sang gadis.
Ini sangat menyakitkan bagi gadis itu tetapi dia mencoba untuk tegar sedangkan Aarav, berkubang dalam rasa bersalah meskipun dia terlihat biasa saja.
"500 juta, karena Rumah Sakit ini sangat mahal tapi kau harus membayar dengan harga yang mahal juga! lalu kau memintaku untuk menyembunyikan identitas dari gadis yang sudah melakukan operasi tadi, biayanya sudah lebih dari cukup untuk menutup mulutku!"
"Ya, aku akan menyiapkan uang itu beberapa menit lagi."
Sang pria lihat mengirim pesan kepada beberapa orang anak buahnya untuk menyiapkan uang yang dimaksud, dia menutup mulut para anak buah dengan memberikan imbalan masing-masing 50 juta, agar tidak memberitahukan kepada siapapun bahwa dia mengambil uangnya sendiri senilai 500 juta untuk biaya atas segala kesalahannya.
"Nanti nona akan mendapatkan uang itu, tunggu ada orang datang, dia akan memberikan uang itu secara cash! jika dokter atau siapapun yang bertanya, katakan saja dia adik sepupuku yang ditinggal oleh suaminya," imbuh Aarav.
"Baik tuan, jangan membawa uang itu kemari, temui aku di cafe xxx, nanti malam."
"Siap!"
Aarav telah membuat sebuah kesepakatan yang tak baik, dia merasa resah, tapi tidak ada jalan lain.
Dia sudah membuat kesalahan besar dengan menghancurkan masa depan Virna.
"Aku pulang dulu, nanti kau hubungi aku setelah mendapatkan uangnya, jangan pernah mengunjungi atau menghubungiku setelah uangnya kau terima."
"Siap, aku akan tutup mulut tuan."
"Baiklah, aku pergi dulu."
"Oke."
Aarav terlihat membalikkan badannya, dengan langkah yang yakin, dia benar-benar melupakan segalanya.
__ADS_1
"Semoga semua berjalan sesuai dengan keinginanku!" ucap Aarav penuh keegoisan, meski dalam dadanya ada yang bergemuruh.
Dia tidak memperdulikan apa yang dirasakan oleh Virna, pada intinya dia berhasil membungkam gadis itu dan orang-orang yang tahu mengenai hal ini.