CEO Bastard Yang Bucin

CEO Bastard Yang Bucin
Kesal bukan main


__ADS_3

Adya yang mendapati perasaan hati cukup galau dan kondisi jantung yang tak beraturan, berusaha santai dalam mengendong tubuh gadis itu, dia tak pernah menyangka jika bisa menjadi orang yang memiliki tingkat percaya diri cukup tinggi.


Netta yang hanya bisa diam tanpa bisa membalas tatapan calon adik iparnya, selalu membuang muka kala Adya berhasil menatap wajah cantiknya.


"Kenapa Netta?" tanya Adya yang kini sudah berada di depan mobilnya.


"Tidak apa-apa bos, aku hanya tidak nyaman ada di dalam gendongan, ini sangat canggung," jawab sang gadis dengan wajah bersemu merah.


"Sebentar lagi aku juga akan menurunkan tubuhmu, anggap saja aku adikmu, toh kelak kita akan menjalani hubungan kakak beradik, iya kan?" Adya benar-benar tegar menghadapi kehidupan ini, terlihat sangat menyedihkan serta penuh cobaan.


Melihat gadis yang dicintainya akan menikah dengan seorang pria yang notabene kakak yang tak layak untuk Netta, membuatnya sedikit frustasi, hanya saja dia berusaha untuk tetap tenang dan tidak membiarkan emosi menguasai hatinya.


Adya yang tak fokus, terbentur pintu mobil saat dia ingin memasukkan Netta dan membiarkan gadis itu duduk di jok belakang.


Rasanya sangat malu, hanya saja dia begitu bersemangat, jadi menahan perasaan malunya itu.


Bella yang sedari tadi ada di belakang keduanya, menahan tawa, dia kasihan dengan kakaknya, tapi merasa aneh saat sang kakak harus sok tegar.


"Kakak, kau jaga Netta, aku akan menyetir."


"Tapi dek?"


"Ikuti aturan Bella, daripada nanti kena benturan lagi."


"Ehm, ya terserah kau saja."


Pada akhirnya, Netta dan Adya duduk di jok belakang, sedangkan Bella yang menyetir mobil sang kakak.

__ADS_1


Mobil itu perlahan tancap gas meninggalkan kantor W.O milik teman bibi Jenie.


Di dalam mobil ...


Saat suasana hening, ponsel milik Netta berdering.


Panggilan telepon dari Aarav, membuat Netta ragu untuk menjawabnya.


Namun, Adya meminta Netta menjawab panggilan telepon yang cukup berisik itu.


"Net, siapa yang meneleponmu? apakah dia tidak tahu jika kita sedang ada di dalam mobil?" tanya Adya yang sebenarnya tak suka dengan suara bising ponsel berdering serta tak suka jika Netta ada yang menelpon.


Sungguh cinta yang cukup rumit.


"Bos Aarav, harusnya aku jawab?" ucap Netta.


Dia tak menyangka jika tubuhnya berada didekat Netta, tapi tak mendapatkan apapun.


Harusnya rasa nyaman cukup membuat pertemuannya dengan Netta memiliki greget, tak hambar seperti ini.


Apalagi Aarav masuk ke dalam situasi ini, sangat lelah menurutnya saat pura-pura tak cemburu.


Bella yang memahami sang kakak, lalu mengatakan sesuatu," Net, jawab saja panggilan itu, tapi kau tak perlu mengatakan apapun selain apa yang ditanyakan oleh Kak Aarav, oke?" ucap Bella mencoba menengahi.


"Oke siap!" jawab Netta.


Adya pura-pura tidak mendengar, dia lebih memilih untuk memalingkan wajahnya.

__ADS_1


Netta mulai menjawab panggilan telepon itu.


"Halo, ada apa bos?"


"Kau dimana?"


"Otw pulang ke apartemen, ada apa?"


"Aku mau ajak kau makan malam, kau harus mau!"


"Tapi bos? aku lelah, badanku lemas, aku mohon esok hari saja."


"Berani membantah?"


"Bos, aku tak bermaksud membantah, hanya saja aku merasa semua ini tak adil."


"Bagaimana tak adil?"


"Kau bersama Adya kan sekarang? Cih, apa yang merasa tak adil? aku menunggu di apartamen sambil menjalani hukuman membersihkan kloset, tapi kau enak-enakan di sana bersama adikku, sungguh menyebalkan!"


"Aku akan segera pulang."


Tut ... tut ... tut ....


Panggilan telepon itu Netta matikan dengan tiba-tiba tapi, kata-kata Aarav memang memicu emosi yang berlebih.


"Awas saja nanti jika bertemu, aku akan membuat pria itu menyadari jika Netta bukan gadis yang mudah di permainkan!" batin Adya.

__ADS_1


*****


__ADS_2