
"Silahkan kalau ingin bertengkar, aku tidak peduli!" batin sang gadis sambil menutup kedua telinganya akibat perdebatan yang kunjung usai dari dua saudara kembar itu.
Aarav yang menyadari jika gadis yang ada di sampingnya sudah terlelap, menatap dengan intens dan menghentikan perdebatan dengan sang adik.
"Hey, Kak Aarav, apa kau sudah selesai berbicara buruk tentangku?" tanya sang adik yang tidak paham jika kakaknya sedang dalam mode serius karena fokus menatap sang calon istri.
"Sstt! kau bisa diam kan? Netta sedang tidur!" ucap sang adik.
"Oh, iya kah?" jawab sang adik yang langsung diam.
Dia segera melihat ke arah depan, dan benar saja jika Netta sedang tidur.
"Dia cantik sekali, aku akan berfoto dengannya."
Cekrek!
Cekrek!
Cekrek!
Sang adik benar-benar membuat kakaknya muak, dia langsung mengambil ponsel Adya dan membuangnya keluar jendela.
"Kakak!"
"Diam!"
Sang adik kesal, dia memilih untuk mundur ke jok belakang lagi, dia kasihan dengan Netta yang terlihat lelah akibat ulah Aarav.
...
Perjalanan menuju rumah, cukup menyebalkan jadi keduanya hanya bersenang-senang dengan pemikirannya masing-masing.
"Apa kau tahu jika aku cemburu padamu?"
"Tidak, aku tidak peduli!"
"Jika tentang Netta? apa kau mau mengalah padaku?"
"Tidak, aku sudah pernah mengalah dan kau tidak menjaga apa yang sudah aku berikan!"
"Mirna maksudmu?"
"Siapa lagi kak? dia juga baik, tapi kau merusaknya!
"Asal kau tahu Adya, dia itu hanya berpura-pura, aku tak akan pernah percaya dengan gadis semacam itu."
"Cih, kau sudah mencicipinya dan bisanya mengatakan hal itu, memang kau pria gila Kak!"
"Haha, dia yang ingin dan aku tak bisa menolaknya, bagaimana ini? apakah ini perlu aku perjelas?"
Sang kakak memang kurang ajar, dia tak akan pernah sadar atas apa yang dia lakukan, ini adalah hal membuatnya akan tetap berusaha dengan keras melindungi Netta dan mencari tahu penyebab gadis itu tak mau menerimanya.
__ADS_1
"Hah, lelah kak. Terserah kau saja, aku lelah menghadapimu!"
"Oke, harusnya kau lelah saja karena sesungguhnya kau ini memang pria yang tak jantan!"
"Terserah!"
Perdebatan berlanjut sampai akhir, hingga sang kakak merasa cukup puas membuat adiknya menjadi orang yang mengalah terus menerus padanya.
Perjalanan yang cukup panjang, akhirnya ada ujungnya.
Sang kakak turun dari mobil dan mengendong Netta, sang adik begitu intens memandang sang kakak yang sedang membawa Netta dalam gendongannya.
Sesaat kemudian, Alex menyambut sang putra yang baru saja pulang.
"Baru pulang?" tanya sang daddy.
"Iya, kenapa? tumben di rumah?" sahut Aarav.
"Menjaga istri biar tak kabur ke rumah sakit, kan Gerald ada di sana," jawab sang daddy yang Bucin akut.
"Oh, ya."
Aarav terlihat berjalan menuju pintu depan, dia membuka pintu itu dengan penuh semangat.
Sedangkan sang adik lemas.
Daddy Alex pun heran dengan sang anak.
"Aku? tidak apa-apa, hanya saja sedang patah hati," jawab sang putra.
Adya langsung berjalan masuk ke dalam rumahnya dia memang tak ada daya dan upaya untuk melakukan hal yang membuatnya bisa mendapatkan Netta lagi.
Dia menyerah untuk sementara waktu.
"Kenapa anak-anakku ini? yang satu mengendong gadis, yang satu lagi, menggendong masalah "
Sang mafia tidak habis pikir dengan dua orang itu, dua putranya yang sangat dibanggakan olehnya.
Sang mafia, lalu mengikuti langkah Adya.
Dia lebih memilih untuk menghibur putra keempatnya.
"Adya!" panggil sang daddy.
Adya yang sudah setengah jalan menuju kamarnya kemudian menoleh.
Sang daddy, terlihat berjalan menuju kamarnya.
"Kau patah hati karena kakakmu akan menikahi gadis yang kau sukai?" tanya sang daddy.
"Lebih baik masuk ke dalam kamar, Aku ingin curhat denganmu Daddy!"
__ADS_1
"Oke."
Dua pria tampan dan gagah itu masuk ke dalam kamar milik sang putra.
Adya langsung menutup pintu kamarnya rapat-rapat, dia mengajak sang ayah untuk duduk kursi yang tersedia di kamarnya.
"Daddy, bagaimana perasaan wanita itu?" tanya sang Adya.
"Hm, Daddy juga belum paham mengenai hal ini tetapi masih belajar, Aku sebenarnya juga masih mengira-ira bagaimana seorang wanita memberitahukan perasaannya kepada para pria. Aku kadang juga bingung dengan Laras, dia sudah berumur, namun jiwanya labil.Melihatku dekat dengan temanku dulu, dia marah, kesal, malam ku tak berwarna, jatah pun berkurang."
Alex juga terlihat sangat sengsara saat dirinya diabaikan oleh sang istri, rasanya seperti hidup segan mati tak mau.
"Haha ... Daddy juga labil itu, kenapa bertemu dengan teman lama, setahuku, teman-teman Daddy itu tampan dan cantik, hayo ... ada siapa disana? gadis cantik ya? namanya siapa?"
"Sok kepo, aku tak akan memberitahu padamu, kau itu ember Adya!"
"Tidak Daddy, katakan saja!"
"Hm, siapa ya. Ah, aku masih ragu, kau selalu mengatakan apapun kepada mommy-mu saat panggilan telepon rumah berdering, saat itu ada seseorang gadis yang menelpon Daddy, kau merekam percaka kami. Jelas-jelas dia yang genit, bagaimana bisa kau memfitnah ayahmu sendiri," ucap sang daddy
"Hahahaha ... itu karena Daddy lebih membela Kak Lexis, dia kan sedang ada urusan di luar kota dan aku mendapati dia ada di bandara lalu pulang ke rumah, sedangkan kekasih Kak Lexis menangis karena ditinggal pergi. Nyatanya Kak Lexis hanya tipu-tipu untuk menemui gadis yang lain."
"Hm, dia kan menghindari Sonia karena genit nya minta ampun, dia juga suka menggoda Daddy, jadi aku dan Lexis sepakat melakukan ini."
"Astaga, wkwkwk ... Daddy, Kak Lexis, Kak Aarav, memang satu paket komplit. Sedangkan Aku, kak Arsenio, Adelio, serta mommy tim setia sampai mati!"
"Cih, setia apanya, kau tidak setia dengan gadis itu karena kau membiarkannya berada dalam satu kamar, kau tidak takut jika gadismu direbut oleh Aarav?"
"Hm, aku akan berjuang, dengan cara mengetes kak Aarav, jika dia bisa menjaga Netta, aku akan mundur tapi jika dia menyakitinya, aku bawa kabur."
"Jangan seperti itu dengan kakakmu, kasihan dia, sepertinya akan bertobat deh, soalnya beberapa hari lalu, dia curhat pada Daddy, lelah menjadi petualang cinta."
"Oh, benarkah? aku tidak percaya, kita harus buktikan kata-kata pembohong itu!"
"Oke, baiklah!"
Dua pria tampan itu nampak saling berpandangan, perlahan menuju ke arah foto keluarga di ujung ruangan.
"Foto saat kau baru lahir, Daddy jadi rindu Death Angel," cetus sang daddy.
"Mau menjenguk Paman Willy? Bibi Jenie sepertinya juga rindu dengan mommy, besok kita kesana ya Daddy?"
"Besok Daddy saja yang ke sana, kau tidak perlu ikut."
"Kenapa?"
"Di sana berbahaya, aku tak mau kau terluka."
"Aku sudah dewasa Daddy!"
"Belum nikah, kau masih kecil."
__ADS_1
*****