CEO Bastard Yang Bucin

CEO Bastard Yang Bucin
Cinta(?)


__ADS_3

Semalam sempat terjadi ketegangan yang cukup luar biasa, namun saat kedatangan Adelio, semua sirna, apalagi ada Tuan Fudo yang senantiasa menjaga Adelio.


Pesta penyambutan Adelio tadi malam cukup meriah meskipun hanya di hadiri oleh anggota keluarga.


Dua jam berlalu, pesta usai.


Semuanya kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat karena pagi harinya semua putra sang mafia akan melakukan sesi latihan bela diri yang akan di pimpin oleh Tuan Fudo.


Malam yang panjang untuk Adya dan Aarav karena kedua orang itu sedang kasmaran.


Di kamar Adya ...


"Aku akan bertemu dengan Netta, bagaimana rasanya? pasti sangat menyenangkan!"


.


.


.


.


Di kamar Aarav ...


"Netta, aku akan melamarmu, kau siap-siap udik! jangan kabur!"


.


.


.


Pagi harinya ...


Tuan Fudo serta ke enam putra dan putri sang mafia sudah siap untuk melakukan sesi latihan bela diri di depan rumah.


Hanya Aarav yang malas untuk melakukan sesi bela diri ini karena dia harus melakukan banyak hal, termasuk menjemput Anetta.


"Kakek Fudo, aku mau pergi sebentar," pinta Aarav.


"Memangnya kau mau kemana?" tanya Tuan Fudo.


"Aku mau berkencan dengan kekasihku!" jawab Aarav to the point.


Dia juga menyeret nama sang adik yang dia minta untuk menemani bertemu Anetta.


Bella menolak, tapi karena si kakak memaksa, dia segera menyeret tubuh Netta.


"Hey! kalian berdua akan kemana?" teriak Tuan Fudo.


"Jalan-jalan kakek!" teriak si bocah menyebalkan.


"Astaga anak Alex satu ini, menyebalkan sekali!"


Tuan Fudo merasa harus lebih bersabar, dia segera melakukan sesi pemanasan dengan 4 kembar yang masih tersisa.


"Jika kalian ingin pergi juga, silahkan pergi, tapi aku malas melatih kalian nanti," ungkap sang kakek yang hebat itu.


"Baik kakek, kami akan menurut kepada kakek."


Semua anak Alex yang tersisa berteriak bersama, setuju untuk latihan bersama.


Latihan di mulai ...


.


.


.


.


Di depan rumah sang mafia ...


"Kakak, nanti aku kena marah daddy, Tuan Fudo di sini untuk melatih kita, tapi kita justru kabur!" jelas Bella merasa bersalah dengan kakek Fudo.


"Bukan itu maksudku, aku akan menjemput Netta pagi ini, aku akan membawanya bertemu dengan Daddy dan mommy untuk membahas pernikahan," jawab Aarav.

__ADS_1


"Kau bisa mengatakan itu baik-baik dengan kakek Fudo," pinta Bella.


"Berisik! lebih baik masuk mobil, cepat!"


Bella kesal karena sang kakak sering marah-marah, padahal Bella selalu membantunya.


"Iya iya, bos kampret!"


Sang adik karena kakaknya selalu menyuruhnya ini dan itu, padahal dia selama ini tidak pernah membantah tapi selalu ditindas oleh kakaknya.


Nasib Bella memang sedang apes, tapi untuk selanjutnya dia akan mempermainkan perasaan sang kakak akan memahami apa arti menghargai dan mencintai sesama manusia, terutama saudara.


Bella masuk dalam mobil dan sang kakak yang mengemudikan mobil, kali ini Aarav tidak terlalu ngebut, biar si Bella tidak muntah-muntah lagi.


Bagaimana bisa muntah, dia sudah siap dengan baju dan sepatu yang bagus.


"Kak tolong ganti baju, aku juga masih pakai seragam untuk berlatih!" gerutu Bella.


"Haha, iya aku tahu, kau jangan terlalu khawatir, setelah ini akan ada sesi modeling, aku sudah menyiapkan banyak baju untukmu! kau tenang ya?"


Sang kakak merayu si Bella agar tidak menggerutu sepanjang jalan karena dia kesal saat sang adik yang memiliki hobi marah-marah itu kambuh, dia adalah cewek bawang (bawel banget).


.


.


.


Sepanjang perjalanan Aarav menyanyi lagu cinta karena sedang merasa berbunga-bunga.


Bella merusak suasana dengan panggilan telepon dari Adya.


"Ya kak Adya, ada apa?"


"Kau ada dimana?"


"Otw ke rumah Netta, kau mau ikut?"


Saat Bella mengatakan bahwa dirinya akan pergi ke rumah Netta, Aarav mengerem tiba-tiba mobilnya.


"Kak Aarav!!!!! apa maksudmu membuang ponsel mahal ku?"


"Karena kau memberitahu kepada rival tentang kepergian kita berdua!"


"Astaga!"


Bella dengan apa yang dilakukan oleh kakaknya, belum jadi suami sudah posesif gak ketulungan, apa lagi jadi istri?


Pasti Anetta akan menderita.


"Aku tidak mengizinkanmu untuk memberitahu Adya mengenai posisi kita berada, kau kan paham, aku dan Netta akan segera menikah! bagaimana bisa kau menghianatiku?" ucap Aarav.


Aarav membentak sang adik, Bella bereaksi dengan cepat.


"Oh, jadi ini cinta yang kau berikan kepada Netta? aku kecewa padamu Kak! harusnya kau menyayanginya dengan segenap hati karena dia juga menolongmu dengan setulus hatinya, aku tahu kalian hanya melakukan pernikahan kontrak!"


.


.


.


Deg!


.


.


.


Aarav tidak menyangka jika sang adik mengetahui permasalahan pernikahan kontrak ini.


Dia mencoba untuk menenangkan sang adik.


"Bella, kau jangan pernah mengatakan ini kepada daddy dan mommy, aku mohon! aku tidak mau mereka justru menjadikan pernikahan kontrak ini alasan untukku tetap menikah dengan Tifani," jawab Aarav.


Sang kakak terlihat sangat pucat, dia malas.

__ADS_1


"Haha ... lihat wajahmu! kau sangat pucat pasi!" ujar sang adik.


"Hm, kau akan menjadikan ini sebagai senjatamu kan?" sahut Aarav.


"Tentu saja, aku akan menjadikan ini sebagai senjataku yang paling ampuh. Kau sangat takut dengan Daddy, jika dia tahu, kau pasti akan dihajar olehnya!" bisik sang adik.


Aarav mulai gelisah.


"Oke, aku akan menuruti apapun yang kau inginkan!"


"Yakin? apapun itu?"


"Iya! bawel!"


"Ehm, oke. Pertama, kau harus bersikap baik pada Netta, jadilah pria yang baik. Dia tidak menyukai sifatmu yang kasar."


"Oh, hanya itu?"


"Memangnya kau bisa melakukannya?"


"Bisa, tenang saja."


..


Aarav percaya diri sekali, dia yang songong, mana bisa tiba-tiba menjadi manis.


"Kalau Netta tidak jatuh cinta pada kakak hingga 6 bulan ke depan, aku pastikan Netta akan aku dekatkan dengan Kak Adya!" ancam Bella.


"Haha, sampai kapanpun, Netta hanya milikku! Adya? dia kan hanya bisa meniru seleraku saja!"


"Oh, seleramu yang udik, jelek, bodoh?"


"Ehm, terserah kau saja pada intinya aku tidak ingin dia bersama dengan Adya! Netta harus menjadi istri ku!" jelas Aarav yang sangat posesif.


"Haha ... apa sih yang kamu suka darinya?"


"Aku hanya tidak suka dia dekat dengan pria lain, itu saja!"


"Cie, sudah tumbuh benih-benih cinta ini?" goda sang adik.


"Mana ada cinta, dia kan ...." Belum sempat mengatakan apa isi hatinya, Bella menepis pernyataan Aarav.


"Kakak sudah mencintainya, hanya kurang lemah lembut saja," jelas Bella.


"Oh, begitu ya?" jawab Aarav.


"Duh, dasar pria tidak peka!"


"Ya memang aku tidak peka, makanya aku butuh bantuanmu!"


"Ya ya ya ... nanti aku akan memberitahu padamu bagaimana caranya mendekati seorang gadis dengan benar tanpa harus marah-marah ataupun menyuruhnya ini dan itu, kau tahu kan aku itu tidak suka dengan pria yang banyak bicara! satu lagi, kau hentikan memanggil Netta dengan sebutan udik!" ucap sang adik.


"Astaga, kau seperti kereta api saja saat bicara, bablas tanpa rem!"


"Haha, paham tidak sebenarnya apa yang aku katakan?"


"Iya paham bawel"


"Oke, nanti kau praktek!"


"Ya ya ya!"


Si Aarav sebenarnya malas, tapi karena untuk meyakinkan Bella, dia menuruti apapun yang dikatakan oleh sang adik.


Rumah Netta tinggal beberapa meter lagi, namun Aarav sudah merasa jantungnya berdegup kencang.


..


'Apa ini cinta? tidak mungkin? mana ada aku suka gadis kampung itu? tidak ada, tidak mungkin!' batin Aarav merasa apa aneh di hatinya hanyalah rasa cemas biasa, bukan rasa cinta yang ia duga selama ini.


.


.


.


******

__ADS_1


__ADS_2