
Saat dua orang sedang mengobrol, tiba-tiba saja ada orang yang berdehem.
"Ehm, apakah kalian berdua lupa ada aku di belakang? kau juga Nett, kau adalah calon istriku mengapa kau genit sekali?" ucap Aarav yang baru saja bangun dari tidurnya.
"Oh iya, maaf aku tidak tahu jika kau ada dibelakang, aku kira kakak sudah hilang entah kemana!" Ucapan Aarav ditanggapi bercanda oleh Adya, membuat sang kakak kesal.
"Hentikan mobil ini atau aku akan lompat!" Aarav mengancam sang adik.
Adya yang santai kemudian menghentikan mobilnya.
Dia berhenti di sebuah padang rumput yang luas.
"Di sini tempat yang paling adem," celetuk Adya.
Sang adik menoleh ke arah belakang," Kak, turunlah! ayo kita lomba lari di padang rumput itu!"
Bukannya mendapatkan sambutan yang ramah, justru Aarav memukul wajah Adya.
Ini membuat Netta terkejut.
"Tuan bos! apa yang kau lakukan pada adikmu!" ucap Netta.
"Kau calon istriku, mengapa berteriak tepat di depan wajahku?" cetus Aarav kesal.
Dia tidak menyangka calon istrinya lebih membela sang adik.
...
Aarav kesal, dia keluar dari mobil itu dan mengumpat.
Netta masih bersama Adya di dalam mobil.
"Kau baik-baik saja kan?" tanya Netta.
"Baik, lebih baik kau susul kakak. Dia bisa gila kalau mengumpat di tempat sepi seperti ini," pinta Adya.
"Tidak, aku tetap ingin menolong Tuan Adya," jawab Netta keras kepala.
"Jika kau tetap bersamaku, berarti kau menerima cintaku, jika kau pergi, aku akan melepaskanmu!"
Deg!
Pilihan yang sangat sulit, tapi Netta bukan gadis yang mudah berubah, dia tetap akan menikah dengan Aarav sesuai perjanjian, dia tidak ingin disebut gadis murahan yang tidak berprinsip.
Netta meninggalkan Adya, agar Aarav tidak semakin menggila.
..
Netta keluar dari mobil kemudian menghampiri Aarav.
"Aarav!" panggil Netta.
"Apalagi Netta? kau sudah memilih, kau tidak mau menikah denganku kan?" teriak Aarav.
__ADS_1
Netta hanya diam saja, dia memeluk tubuh Aarav dari belakang.
Aarav terkejut.
"Katakan apapun, tapi lebih baik Aarav masuk ke dalam mobil, tidak baik berteriak-teriak di luar. Meskipun di sini padang rumput yang sepi, kau akan terlihat seperti orang tidak waras jika berteriak-teriak tidak jelas!"
Netta mempererat pelukannya.
Adya sedih melihat ini semua, tapi dia sebenarnya ingin memastikan jika Aarav memang bisa berubah kemudian mau menerima Netta apa adanya, tanpa embel-embel nikah kontrak.
..
"Semuanya untukmu Netta, aku sangat mencintaimu."
Adya tetap tersenyum dan mengabadikannya momen pelukan dengan kamera canggih di ponselnya.
Sedangkan saat Netta terdiam, terdengar suara Aarav berbicara.
"Aku tidak bermaksud menyakiti adikku, maaf jika kau takut tadi."
"Tidak masalah, aku juga paham kau memikirkan hal lain saat memukul adikmu, tapi aku rasa kau harus lebih menahan emosimu."
"Aku tidak tahu perasaan ini apa, tapi aku cemburu saat melihat kau akrab dengan Adya, apa ini cinta, Netta?"
"Tidak ada cinta diantara kita Tuan, tolong kondisikan kata-katamu, aku berusaha untuk tetap profesional dan tidak baper."
Netta yang polos ini, sama sekali tidak memahami perasaan pria yang dia peluk.
"Hm, jika suatu saat aku mencintaimu bagaimana?"
"Tidak mungkin, aku yakin tidak ada perasaan itu sama sekali, lebih baik kau masuk ke dalam mobil, kita lanjutkan perjalanan menuju pantai, aku sangat suka pantai!" ucap Netta sambil melepaskan pelukan.
"Oke, aku akan menuruti perkataanmu." Aarav berjalan lebih dahulu dan Netta mengekor dibelakangnya.
"Huft, mode sabar dan halus saat menghadapi bayi besar, Tuan Aarav Fernando," cakap Netta lega, akhirnya bisa membuat Aarav menuruti perkataannya.
Netta berhasil membawa calon suaminya masuk ke dalam mobil, sedangkan Adya hanya bisa tersenyum palsu saat dua orang yang sangat ia cintai mendekat ke arahnya.
"Kau sudah berhasil membuat kakakku kembali Netta, kau hebat!" ucap Adya dengan senyum palsunya.
Dia sebenarnya merasa sangat sedih, tapi mencoba menutupinya.
"Iya, dia kan memang pria aneh," celetuk Netta.
"Aneh, tapi Netta suka?" sahut Adya.
"Dia calon suami, harus suka," jelas Netta secara gamblang, dia menjadi lebih bebas masalah pernikahan kontrak.
Sudah basah juga, sekalian hujan-hujanan. Begitu mungkin kata pepatah.
Aarav yang di cuekin, merasa kesal. Rasanya ingin sekali membuat dua orang itu diam dan hanya berbicara kepada Netta saja. Namun nyatanya tidak bisa seperti itu.
"Sayang? kau jangan terlalu akrab dengan Adya, nanti kau akan jauh dariku, btw kau duduk saja di jok belakang," ujar pria sok manis ini.
__ADS_1
"Tidak Aarav, aku di sini saja," jawab Netta yang tidak ingin ada perdebatan lagi, rasanya menyebalkan jika ada orang sok peduli tapi pura-pura saja.
Ini yang Netta rasakan saat ini, harusnya Aarav tidak terlalu kasar kepada adiknya, mungkin calon istrinya akan lebih menghormatinya.
Karena si Aarav terlalu posesif meski belum ada ikatan, membuat Netta kurang nyaman.
Melihat ketegangan diantara dua orang itu, membuat Adya harus bertindak.
"Kakak, tidak perlu marah-marah dengan calon istrimu. Selayaknya gadis, harus diperlakukan dengan lembut dan terhormat." Kata-kata Adya sangat menyentuh hati Netta.
Netta bahkan harus berdosa jika memikirkan Adya, daripada Aarav.
Dia merasa tidak boleh egois karena dua orang itu adalah saudara kembar.
Jika Netta plin plan, dia akan di cap sebagai wanita yang tidak konsisten.
Netta tetap bertahan dengan pilihannya, meskipun perasaannya sudah menuju ke Aarav, tapi dia ragu.
"Aarav, jangan seperti itu pada bos Adya, dia baik."
Si culun membuat Adya berbunga-bunga.
Walaupun hanya sebuah kata-kata yang tidak terlalu bermanfaat, kata baik sudah cukup pakainya memberikan kesan menenangkan bagi hubunga keduanya.
..
"Jalan," pinta Aarav.
"Iya, kakak bos!" jawab Adya yang mengetahui jika kakaknya cemburu saat istrinya mengatakan dirinya baik.
Adya meneruskan perjalanan menuju pantai, sepanjang perjalanan itu, Adya dan Aarav diam saja, Netta menjadi kikuk sendiri.
Netta hanya bisa diam menatap pemandangan yang ada di luar jendela.
Tiba-tiba saja dia curhat ...
"Dulu, waktu ayah dan ibuku masih hidup, terdapat dua sering pergi ke pantai. Ayah Ge yang mengatakannya kepadaku, itu sangatlah menyukai pantai. Ayah Ge mengatakan jika aku mirip sekali dengan ibu. Hm, jika Ibuku masih hidup pasti aku akan sangat bahagia." Curhatan Netta di tanggapi oleh Adya dengan baik.
Hingga Aarav lagi-lagi kesal.
"Kau tidak perlu ikut campur masalah Netta, biarkan dia bercerita." Aarav memang resek sekali, bicara sedikit saja salah.
"Aku belum mengatakan banyak hal, tapi kakak sudah marah-marah saja. Kau itu lapar ya? apa kepalamu terbentur tiang?" Adya justru mengajak kakak bercanda.
"Tidak lucu," jelas sang kakak yang sama sekali enggan menatap Adya.
Netta tidak memperdulikan dua orang yang debat masalah tidak penting.
Dia lebih baik menikmati pemandangan yang ada di sekitar, perjalanan panjang menuju pantai di isi dengan keheningan lagi.
Netta tetap bahagia meski malas harus menjadi rebutan si kembar.
****
__ADS_1