
Sedangkan Aarav yang masih kesakitan di ruang tamu, mencoba untuk diam saja, dia tak mau menjadi orang yang kurang ajar lagi, mungkin apa yang dia lakukan selama ini memang tak pantas mendapatkan maaf, jadi dia rasakan juga hukuman itu.
Satu jam merasakan ngilu, dia merasa cukup baik saat sang mommy menelponnya.
"Aarav, mommy ada di depan apartemen, maaf mommy lama, karena ada urusan di tempat lain," ucap sang mommy.
"Oke, tak apa mommy, aku menunggu mommy di sini," jawab Aarav.
"Rav? kau kesakitan?" ucap sang mommy yang mendengar sang putra seperti merasakan sakit.
"Iya sedikit, area bawah sana."
Ucapan sang putera langsung mendapatkan semprotan dari sang mommy.
"Ha? apa maksudnya area bawah sana?"
Sang mommy merasa putra pertamanya ini melakukan tindakan yang tak baik, sang mommy langsung menutup panggilannya.
"Astaga, mommy kenapa sih, tiba-tiba menelpon, tiba-tiba mematikan panggilan telepon? Hm, apa aku salah bicara?" cetus Aarav merasa dirinya salah ucap.
"Haha, aku memang salah bicara," imbuhnya lagi, sang putera pertama menyadari jika hari ini akan mendapatkan amukan sang mommy.
....
Bel apartemen telah berbunyi ....
Aarav paham jika itu pasti mommynya.
Dia beranjak dari tempat duduknya untuk membuka pintu.
Setelah langkahnya berada tepat di depan pintu, dia terlihat sangat kaget karena ada Bella di sana.
"Mommy mengajak Bella buat apa?" ucap Aarav.
"Hm, mommy ingin membuktikan ucapan Bella yang katanya kau sudah melakukan hal yang tidak-tidak di tempat ini, mana calon menantu?" tanya sang mommy yang menyerobot masuk ke dalam bersama Bella.
"Awas kau ya Bell!" ucap sang kakak lirih, sambil melotot ke arah sang adik.
"Bodo amat!"
Bella yang merasa diatas angin karena mendapatkan dukungan dari mommynya, terlihat mengetuk pintu utama yang memang hanya ada satu di tempat itu, di dalamnya pasti ada Netta, itu yang ada di pikirannya.
Tok ... tok ... tok ....
Pintu sudah di ketuk, tetapi tidak mendapatkan jawaban.
Sampai Bella mengetuk untuk ketiga kalinya, Netta tang ada di dalam kamar itu, membuka pintu.
Klek!
Pintu telah terbuka, dan mommy Laras langsung masuk ke dalam ruangan itu.
"Netta, apa yang Aarav perbuat padamu!" ucap sang mommy, yang sangat kesal.
"A-apa maksud mommy?" tanya Netta yang terlihat seperti wajah bantal, dia baru bangun tidur agaknya.
"Aarav, melakukan hal yang tidak-tidak padamu kan?" Laras terus mencecar sang calon menantu.
Hingga Aarav tiba-tiba hadir.
__ADS_1
"Iya aku yang salah, aku memeluknya dari belakang, dia takut dan menendang anu-ku," cetus Aarav yang mengakui perbuatannya.
"Aarav!!!!!!!!!!!"
Mommy Laras beralih ke Aarav, dia segera menyiapkan jempol dan jari telunjuk untuk menjewer telinga Aarav, pria ini memang sangat nakal dan menyebalkan.
"Mommy! sakit, ampun mommy! ampun!" Aarav merasa kesakitan di area telinga yang mendapatkan jeweran dari sang mommy.
Bella yang melihat kejadian ini, terus menyemangati mommy Laras agar memberikan hukuman lebih.
Sang mommy membawa Aarav masuk ke dalam kamar mandi dan memarahinya sambil menguyur pria itu dengan air super dingin dan menghajarnya.
Sang mommy merasa harga dirinya hancur karena putra tercintanya.
Netta dan Bella yang terbengong-bengong melihat aksi Laras, saling pandang.
"Mommy luar biasa ya?"
"Memang, dia akan kuat dan sangat super!"
...
Dua jam berlalu, sang mommy membiarkan Aarav ada di dalam kamar mandi.
"Mommy, dimana Kak Aarav?" tanya Bella.
"Aku hukum dia membersihkan kamar mandi, biar kapok!"
"Haha, bagus mommy, apa aku boleh masuk ke dalam kamar mandi, aku ingin mengejeknya."
"Astaga, kau ini memang kurang kerjaan, atur acara pernikahan kakakmu hari ini juga, Aarav harus bertanggung jawab karena melakukan hal semena-mena kepada Netta."
"Kenapa? apa kau kesal padaku?" Sang mommy mencoba menelisik apa yang ada di mata sang putri.
Namun, respon yang ditunjukkan oleh sang putri justru berbeda dengan apa yang ada dipikiran mommy Laras.
"Aku senang saat Kak Aarav mau menikah dengan Netta, aku suka mommy, aku dan Netta akan mencari tempat yang bagus."
"Telepon saja Jenie, dia tahu W.O yang bagus, ini kartu namanya.
Sang mommy memberikan kartu nama kepada sang putri.
Bella gerak cepat, langsung menghubungi Jenie, istri Willy.
"Bibi Jenie, kau ada dimana?" tanya Bella.
"Ada di rumahku, ada apa? oh ini siapa ya?" sahut Jenie.
"Kau siapa?"
"Aku Bella, putri tercinta mommy Laras dan Daddy Alex!"
"Astaga, apa kabar? tumben telepon? ada apa?"
"Aku ingin meminta bantuan bibi, aku mau W.O terbaik untuk Kak Aarav, dia terlihat sangat siap untuk menikah bibi."
"Oke siap! kau ada dimana? nanti aku jemput, kita check di tempat yang aku tunjukkan."
"Apartemen milik Daddy, di jalan xxxx."
__ADS_1
"Oh oke, aku tahu. Bibi otw, tapi tunggu sepuluh menit lagi, bayi besar bibi sedang manja."
Tiba-tiba terdengar suara Willy.
"Baby, tutup teleponnya, apa kau tidak tahu aku sedang melakukan apa?"
"Iya, tapi ini Bella yang menelpon, apa kau mau kena jitak bos Alex!"
Percakapan itu berhenti, Bella hanya cengengesan.
"Wah, mau buat adik untuk Ghia ya?"
"Haha, mana ada?"
"Lanjutkan saja, setengah jam pun aku akan menunggu."
"Tidak, hanya perlu sepuluh menit untuk mengurus bayi besar. Oke? tunggu aku."
"Oke."
Panggilan telepon itu pun berakhir.
Bella hanya bisa tersenyum saat mengingat apa yang baru saja dia dengar.
"Apa? ada apa?"
"Paman Willy dan Bibi Jenie, mau buat Dede."
"Haha ... mereka sudah terlalu tua untuk punya anak, astaga!"
"Tapi paman Willy sepertinya lebih menggebu."
"Cih, apalah kau ini Bella, sok tahu."
"Hm, memang aku tahu!"
Dua orang yang merupakan ibu dan anak itu terlihat sangat bahagia karena akan menikahkan sang kakak yang menyebalkan itu dengan si gadis cantik nan polos, Netta.
Namun, Netta sepertinya merasa tak enak hati.
"Mommy, apa ini tidak terlalu berlebihan?" tanya Netta.
"Maksudnya?"
"Pernikahan ini, apa tidak terlalu berlebihan?"
"Tidak, Alex itu orang penting, jadi anaknya harus berlebihan memang, kau terima beres saja, aku yakin kau bisa merubah anakku, jadilah gadis yang baik selalu, ya nak?"
"Ya mommy, maaf jika aku mengeluh tadi."
"No, kau anak baik, mana ada mengeluh."
...
Mommy Laras memeluk tubuh sang gadis, lalu memberikan petuah.
"Net, Aarav itu sangat kerasa kepala, tapi di tanganmu, dia akan menjadi baik. Aku tahu ini sangat sulit, tapi aku merasa kau pantas mendapatkan kebahagiaan."
Netta membalas pelukan itu tanpa mengatakan sepatah katapun.
__ADS_1
*****