CEO Bastard Yang Bucin

CEO Bastard Yang Bucin
Keikhlasan Adya


__ADS_3

Netta menatap ke arah pintu keluar.


Pintu yang tak tertutup sempurna, membuat Netta tak sengaja melihat seorang pria dengan tubuh kekar mirip Aarav, gadis itu mengira jika pria yang berdiri di balik pintu adalah Aarav.


"Nona bos, apa ada bos Aarav?" tanya Netta.


"Dia sedang ada di apartemen, yang kau lihat itu Kak Adya, entah mengapa dia tak mau masuk ke dalam untuk menemuimu," jawab Bella santai.


Netta yang merasa bersalah, mencoba meminta bantuan Bella agar membawa Adya masuk, dia sepertinya ingin berterima kasih.


Bella beranjak dari tempatnya semula, lalu berjalan menuju pintu, dia terlihat berbicara dengan kakaknya.


"Kak Adya, Netta ingin berbicara denganmu," ucap Bella.


"Tunggu sebentar, hatiku sedang hancur," jawab sang kakak.


"Astaga, apa yang kau katakan? Aku sangat ingin tertawa tetapi aku menahannya," bisik sang adik.


"Sialan! aku kira kau adik yang baik, ternyata kok sama saja, selalu menghinaku!" Sang kakak sepertinya ngambek, dia tak bisa menutupi kesedihan yang sangat mendalam.


Dia gadis itu tetapi sang gadis akan menikahi kakaknya yang kurang ajar, rasanya belum ikhlas jika memaksa dirinya untuk pergi dari bayangan Netta, gadis itu terlalu sederhana dan istimewa untuk dilupakan begitu saja.


Namun, gadis tidak memiliki dirinya menjadi seorang yang sangat berarti, entah mengapa padahal spesifikasinya juga tak kalah jauh dari kakaknya.


Wajahnya dengan sang kakak, sangat mirip hampir tidak bisa membedakan, tak mampu mengungkapkan perasaan yang benar.


Mungkin itu yang menghambat dirinya tak bisa memiliki gadis itu.


Adya menundukkan kepalanya seraya bermain kuku, dia terlihat jelas yang sedih dan frustasi sehingga melakukannya.


"Kak, aku mengetahui kau memiliki perasaan yang sangat peka tetapi untuk kali ini aku mohon, tunggu kebahagiaan Kakak kita, demi perubahan Kak Aarav. Kau tahu kan, Kak Aarav itu orang yang seperti apa? jika dia merasa mendapatkan saingan, Netta yang akan menjadi korban. Kau harus berkorban Kak! kau paham kan?" Sang adik, mencoba menguatkan kakaknya, agar tidak oleng saat menjalani kehidupan selepas pernikahan kakaknya.


Bella juga berharap, tidak ada lagi permusuhan, saling bersaing, atau hal lain yang membuat hubungan saudara itu menjadi renggang.


Adya segera mengambil sikap agar semuanya baik-baik saja terutama gadis yang ia cintai, Adya menghela nafas dan menghembuskan secara perlahan.


"Huh, jika aku harus mengorbankan apa yang seharusnya aku perjuangkan, tidak masalah jika orang yang aku inginkan mendapatkan kebahagiaan di dalam kehidupan. Aku setuju akan pernikahan Kakak dan Netta."

__ADS_1


Sang kakak, benar-benar merasa terpuruk dan sakit hatinya, dia tak pernah menyangka jika akan kalah sebelum berperang, tapi ini semua demi kebahagiaan Netta, Adya akan membuat hidup Gadis itu menjadi sengsara karena perasaan cintanya yang sangat menggebu.


"Bagus, Mungkin ini suatu hal yang sangat sulit bagimu tetapi di masa depan, kau akan mendapatkan seorang gadis yang lebih baik dari Netta, Kau tidak perlu bersedih karena dirimu seorang kakak yang sangat baik tanpa ada keluhan sama sekali dariku. Tetaplah menjadi seorang kakak yang luar biasa bagiku dan jangan pernah menyerah dengan apa yang kau perjuangkan, kecuali Netta. Kau harus ikhlas, semoga kau tetap bahagia."


Sang adik, mencoba mengatakan ini semua agar kakaknya bisa lebih menyadari bahwa setiap orang, memiliki cara untuk melepaskan.


Adya memang harus merelakan kisah cintanya pergi.


Pergi bersama kakaknya yang kurang ajar dan tak bisa menghargai perasaan seorang gadis itu.


"Bella, kuatkan aku, kau adalah kekuatanku dan Netta, merupakan sesuatu yang harus aku perjuangkan. Namun, aku hanya bisa melupakan itu semua dan merelakannya, perasaanku ini hanya kau yang boleh mengetahuinya. Orang-orang lain, tidak boleh tahu karena aku tak mau dikatakan sebagai orang yang Cemen, memang aku lebih peka dan lebih berperasaan. Jadinya orang-orang pasti mengira aku seperti itu."


"Jangan terlalu memikirkan hal itu, rasanya sangat tidak enak di dengar, aku merasa kau terlalu sensitif saja, ayo masuk ke dalam. Netta ingin bertemu denganmu."


"Oke, aku akan berusaha biasa saja meskipun sulit."


"Ya, harus seperti itu."


Akhirnya Netta mampu membuat sang kakak bangkit dari keterpurukannya dan membawanya ke tempat dimana Netta sedang duduk dan menjawab pesan dari ponselnya.


"Pesan dari siapa?" tanya Bella.


"Oh, Nona bos, Tuan bos, ini dari mommy Laras, dia bertanya mengenai kegiatan kita hari ini. Aku tak bisa menjawab panggilan teleponnya karena tidak enak hati, jadi aku menjawab panggilan telepon itu dengan menulis pesan. Untungnya mommy Laras mau memahami kesulitan ku, sehingga aku cukup tenang hari ini," jawab Netta dengan wajah yang sangat pucat.


Sedangkan Adya mencoba tetap tegar.


"Hay Nett, maaf aku tadi sedang ada obrolan penting mengenai pekerjaan, jadi tidak bisa langsung masuk ke dalam. Kau tidak marah kan?" cetus Adya, merasa dirinya tak berguna.


Dia berusaha menjadi seorang kakak yang sebaik-baiknya, tanpa ada keluhan dari Bella.


Netta yang senang Adya terlihat biasa saja, tersenyum.


"Tuan bos, memang hebat, selalu profesional dimanapun berada, tak peduli itu di luar, di rumah, atau di kantor sekalipun, pasti selalu fokus pada pekerjaan. Ini sangat keren, calon istri bos pasti sangat senang memiliki perasaan terhadap bos sebab kau orang yang teguh dan sopan, aku merasa bahagia untukmu,"


Netta yang polos apa adanya, hanya bisa mengatakan itu semua pada pria itu yang merupakan kakak dari Aarav, calon suaminya.


"Iya, aku juga senang bisa membantumu, ayo kita pulang ke apartemen lagi, lebih baik kau beristirahat di sana saja," pinta Adya.

__ADS_1


"Oke."


Sang kakak, terlihat begitu tenang saat mendekati Netta dan membantu memapah tubuh itu, Bella cukup senang.


"Nah, kakak sudah bisa membedakan mana perasaan mana rasa peduli," ucap Bella dalam hati.


Kini tiga orang itu keluar dari ruangan itu, dan menuju lift yang ada di sebelah kiri ruangan bibi Jenie.


Tiga orang menunggu di depan lift, sampai lift itu terbuka.


Ting!


Saat lift terbuka, kini tiga orang itu masuk ke dalamnya.


"Untung tak ada orang banyak," ucap sang pria.


"Memangnya kenapa kalau ada banyak orang? bukannya lift itu memang selalu banyak orang ya?" tanya sang adik.


"Haha, tak apa-apa, aku hanya ingin Netta tak berdesak-desakan, kasihan dia," jawab Adya sambil melirik ke arah sang gadis.


"Hm, baguslah! dia tak baper berlebihan, kalau seperti ini kan enak, aku tak harus melakukan banyak hal dan memberikan petuah berlebihan saat Kak Adya masih menyimpan perasaan terhadap Netta. Semoga ini akan berlalu dengan cepat, dan Kak Adya bisa move on dari Netta," batin Bella.


Beberapa menit kemudian ....


Ting!


Pintu lift terbuka dan tiga orang itu keluar, Netta mendapatkan tawaran dari Adya agar mau digendong olehnya agar cepat sampai di mobil, tapi Netta tidak mau, dia sungkan.


Tapi Adya nekat, dia mengendong begitu saja tubuh Netta.


"Hei Tuan! apa yang kau lakukan?" Netta terkejut akan tindakan sang bos.


"Ini bagian dari service pertemanan, kau harusnya berterima kasih padaku!"


"Duh, bagaimana ini? aku baper," batin Adya, dia terlihat sangat canggung tapi masa bodoh, salah sendiri melakukan tindakan di luar kemampuannya.


******

__ADS_1


__ADS_2