
"Ayo Adya, kau tidak bisa berlama-lama karena pesta pernikahan itu buka seperti mobil yang bisa tiba-tiba berhenti karena direm," ucap Renata.
"Iya, aku juga tahu. Tunggu sebentar, aku mau menelpon mommy dulu," jawab Adya sambil meraih ponsel yang ada di saku celananya.
Lalu membuat panggilan telepon kepada nomor sang mommy.
"Mommy? Aku akan datang ke acara pernikahan bersama temanku, Renata. Tolong siapkan baju untuknya ya? minimal gaun yang bagus," pinta Adya.
"Oke sayang, sebentar, dia kecil atau besar tubuhnya? Kalau dulu kan kecil. Ini Renata anaknya si Bram bukan?" tanya sang mommy.
"Iya benar, ini Renata yang itu. Tolong mommy siapkan sesuai dengan apa yang aku mau," cetus Adya.
"Siap! Sayang, apa kau baik-baik saja ketika mengetahui ini semua?' ujar sang mommy.
"Jangan bersedih saat pernikahan kakak, karena ini adalah waktu yang sangat tepat untuk bahagia. Oh ya, mommy harus membahas hal yang membahagiakan saja, hentikan jika tidak bahagia. Aku baik-baik saja mom," jawab Adya.
Adya memang salah satu putra Alex yang pandai menyembunyikan perasaannya.
Dalam situasi seperti ini dia mampu membuat segalanya tidak bermasalah. Dia selalu mengalah memang, jadi sakit hati adalah hal yang biasa saja.
"Oke sayang, kau hati-hati ya?"
"Ya mommy, aku tutup teleponnya."
__ADS_1
"Ya."
Panggilan telepon usai, Adya segera tancap gas.
Renata yang masa bodoh dengan apa yang terjadi, fokus dengan ponselnya.
Dia terlihat kesal.
"Astaga pria ini!" ucap sang gadis.
Raut wajahnya cukup mengurangi kecantikannya.
Adya tak sengaja menoleh ke arah gadis itu dan mendapati pemandangan yang cukup mengganggu.
"Aku memiliki seorang teman laki-laki, dia sama sekali tidak menyerah saat aku mengatakan tidak ingin menjalin hubungan dengannya, tetapi dia sama sekali tidak menyerah, membuat hidupku susah saja," cetus sang gadis.
"Oh, hanya itu saja," jawab Adya.
"Hanya itu tapi sangat mengganggu, aku tidak mengetahui apa yang dia cari dariku, padahal aku saja tidak pernah berdandan, aku hanya membantu ayahku bekerja di kantornya. Aku kan pengangguran," ujar sang gadis merasa tidak pantas mendapatkan apa yang namanya perhatian.
Dia lebih menyukai menjadi jomblo dan tidak dikejar-kejar pria.
"Katanya kau tidak ada yang suka? Menikah saja dengan pria itu."
__ADS_1
"Aku tidak mau menikah dengan pemabuk, dia itu temanku yang paling nakal, jadi aku tahu bagaimana kesehariannya. Dulu kami merasa tidak cocok karena aku begitu memegang prinsip nakal boleh, tapi obat terlarang dan mabuk tidak. Akan tetapi beberapa temanku melanggar, termasuk pria bernama North itu."
Sang gadis menjelaskan apa yang ada di dalam pertemanannya.
Dia juga menceritakan bahwa ada beberapa hal yang tidak boleh dilakukan saat menjadi teman, tapi lagi-lagi North dan beberapa teman yang lain lebih fokus pada pelanggaran.
Alhasil, North keluar dari pertemanan dengan sang gadis.
"Lalu dia masih mengganggumu? Katakan saja pada paman Bram, dia kan paman yang sangat ditakuti, apalagi kau pandai berkelahi."
"Aku tidak pernah mengandalkan otot saja saat memiliki teman yang menyebalkan seperti itu, hanya saja aku ingin memberikan pelajaran berupa etika pertemanan. Sebab aku sudah menghajar mereka satu persatu tetapi orang-orang itu ada jera sama sekali."
Sang gadis begitu serius bercerita, tetapi tidak ada tanggapan yang berarti dari Adya.
Adya terlihat sedang menatap sebuah benda yang menurutnya sangat bermakna.
"Woy! Kenapa tidak ada tanggapan?"
"Haha, sebentar, aku sedang melihat sesuatu."
"Apa itu?" tanya sang gadis penasaran, dia melirik ke arah benda yang ada di dashbor mobil.
"Gantungan kunci milik seorang gadis.'
__ADS_1
*****