
Adya hanya tersenyum dan menatap sang adik," Dari dulu kau masih sama, suka merenggek."
"Kau jahat sekali Kak Adya."
"Aku memang jahat, ehm boleh meminjam Netta sebentar?"
"Tanya saja padanya, apakah dia mau bersamamu? Kenapa kau justru tanya padaku?"
"Aku akan menyelesaikannya dengan Netta, jadi aku meminta kau ikut aku."
Netta yang memahami hal ini, terlihat sangat santai menanggapi permintaan sang adik ipar.
"Aku akan berbicara dengannya."
"Oke."
Bella berbisik kepada Adelio dan Lexis.
"Aku mau mengajak kalian berdua taruhan, mau tidak?" tanya sang adik.
"Aku tidak mau, kau pasti akan membuat kami rugi bandar karena menjadi orang yang akan mempertaruhkan uang kami dan aku tahu kau akan menjadikan kami tidak berdaya. Aku sudah tahu akal busuk mu Bella!"
"Hahahaha ... Kau sangat pandai mengira sayangku!"
"Cih malas sekali, lebih baik kami berkencan dengan gebetan."
Lexis dan Adelio terlihat menyingkir dan memainkan ponsel masing-masing.
"Mana ada kencan pakai ponsel. Dasar kakakku sangat aneh."
Bella melanjutkan pekerjaan Netta.
Sementara itu, Netta dan Adya terlihat sedang mengobrol di teras.
"Netta, aku merasa telah melakukan sesuatu yang salah, yaitu mencintaimu," ucap Adya merasa bersalah terhadap sang kakak ipar.
"Aku tidak merasa seperti itu bos, itu hanya perasaanmu saja. Kelak kita akan bersama dalam hubungan yang sangat baik dalam satu keluarga jadi kau tidak perlu sungkan. Bagaimana?" Sang gadis mendekat ke arah sang adik ipar, Adya masih saja canggung.
"Jangan seperti itu, aku yang harusnya meminta maaf karena membuat hubungan antara bos dan kakak bos menjadi renggang," imbuh sang kakak ipar.
Ia menjauhkan tubuhnya dan memberikan sang adik ipar waktu untuk menghela nafas karena sejatinya, dekat dengan Netta sangat menyesakkan dada Adya.
"Aku hanya perlu waktu saja Netta, aku canggung karena belum terbiasa, jika sudah terbiasa tidak akan seperti itu lagi."
Adya akan membuat sebuah keputusan penting yang membawanya menuju hal yang sangat sakral dalam kehidupannya, dia tidak akan membuat segalanya menjadi sulit hanya karena perasaannya yang masih belum menentu.
Netta mencoba membuka obrolan yang sempat terhenti.
"Bos, aku sudah memilih bos Aarav dan aku menyadari keputusanku ini, mari kita datang kepada kakak di penjara."
__ADS_1
"Iya, aku akan menjadi seorang yang tidak memiliki dendam, jadi aku sangat setuju jika datang ke penjara denganmu. Kakakku cemburu tidak ya?'
Adya ternyata masih memikirkan perasaan kakaknya yang sudah tidak urakan lagi.
"Dia akan menjadi urusanku bos, kau tenang saja."
"Kau sudah pawangnya ya sekarang?'
"Bisa dibilang begitu."
"Aku senang untukmu Netta." Sang adik ipar terlihat dengan spontan memeluk tubuh sang gadis dan membuat terkejut.
Bella tiba-tiba saja sangat geli melihat ini.
"Heh! malah mesra-mesraan. Ayo kita berangkat, kita tidak boleh terlambat. Aku tidak sabar melihat Kakakku yang sangat aku sayangi itu dengan tubuh yang babak belur," cetus sang adik.
"Dia suamiku nona, jangan seperti itu ya?"
"Cie, ada yang membela. Ehm dah cinta mati nih?" ledek Bella.
"Sudahlah nona, kita lebih baik bersiap-siap. Aku ambil tas dan ponsel dulu," ucap Netta sambil beranjak dari tempat duduknya.
Dia masuk ke dalam rumah dan kini Bella mendekati Adya.
"Kak, apa kau sudah merasa lebih baik setelah Netta menerima Kak Aarav sebagai suami seutuhnya?" tanya Netta penuh dengan perasaan.
"Iya, aku sudah merestui keduanya, hanya saja butuh kebiasaan yang akan membuat kami menjadi dua orang saudara yang memiliki hubungan baik."
"Aku memahami segalanya, rasanya sangat sesak ketika aku harus menjadi orang ketiga diantara dua orang yang saling menyayangi, aku paham semua itu adik, Aku tidak akan membuat Netta kesulitan," ungkap sang kakak.
"Hm, syukurlah. Asal kau tahu, Kak Aarav sangat manja saat bersama dengan Netta. Aku menjadi saksinya. Apa kau tahu? Dia ingin kue yang di buat oleh Netta. Lalu ingin sok manja dengan Netta, duh kakakku satu ini sangatlah luar biasa."
"Haha apakah dia sudah bucin ya? Aku tidak percaya kakak kita sangat mencintai seorang gadis dengan seperti itu. Setahu kita kan, dia hanya mempermainkan para gadis?'
Saat dua orang sedang ghibah sang kakak, istrinya datang.
"Kalau ingin membicarakan suamiku, nanti saja. Kita pergi dulu ke penjara untuk menjenguknya," ucap Netta dengan tersenyum.
"Ups, ada istrinya."
Dua orang itu segera kabur dan masuk ke dalam rumah.
"Dasar dua orang itu."
...
Beberapa menit kemudian ...
Tiga orang itu sudah siap dan berada di dalam mobil dengan sopir si Adya.
__ADS_1
"Kita tancap gas menuju kantor polisi."
"Gaaaass!!"
Dua orang gadis sangat kompak.
Mereka berangkat dengan perbekalan yang cukup banyak, membuat mobil itu cukup penuh dengan makanan, seperti mau piknik saja.
Perjalanan menuju kantor polisi, sangat cepat karena mobil itu sangat cepat lajunya.
Mobil Bella hanya membutuhkan waktu setengah jam untuk sampai di kantor polisi.
"Sudah lama aku tidak kemari, rasanya aneh kesini karena ada Kak Aarav," cetus Bella.
"Kau benar juga, biasanya kita sangat senang membuat ulah dengan kakek Hans dan menyembunyikan tongkat saktinya," ungkap sang gadis.
Kakak beradik itu terus saja bercanda, sedangkan Netta hanya diam saja.
"Kenapa Netta?" tanya Bella yang duduk di sebelah Netta di jok belakang.
"Aku jadi gugup nona bos, sepertinya aku sangat tidak siap bertemu dengan suamiku sendiri."
Netta keringat dingin, Bella dan Adya menenangkannya.
"Kau tidak perlu merasa gugup Netta, kau terlihat sangat mencintai kakakku, jadi kau harus segera bertemu dengannya. Jangan pernah menyesali perasaan yang hadir di dalam hidupmu karena semuanya sangat benar adanya. Kami akan menemanimu," ungkap Adya.
"Iya, Kak Adya benar."
Netta merasa ada pendukung dan mengikuti apa yang di katakan oleh sang adik ipar.
Gadis itu keluar dari mobil bersama dua saudara yang membawa keranjang berisi kue yang sangat di sukai Adya.
Tak disangka, disana ada daddy dan mommy yang sudah menunggu kedatangan keduanya.
"Adya! Bella!" pekik sang daddy sambil melambaikan tangan.
Dua anak itu segera berjalan cepat menghampiri daddy Alex, sedangkan Netta mengekor langkah saudara itu karena langkah kakinya sangat berat.
Netta tiba-tiba saja tidak selincah sebelumnya.
Kini ketiga orang itu sudah ada di hadapan sang mantan mafia.
"Daddy sudah ada di sini sejak tadi malam?" tanya Bella.
"Tidak, aku dan Laras menginap di rumah Kakek Hans dan beristirahat di sana. Lalu pagi ini kami datang. Wah kue coklat kesukaanku," cetus sang daddy dengan membiarkan hidungnya mendekati kue yang ada di keranjang.
"Ini untuk Kak Aarav, stop daddy!"
Bella cukup senang membuat sang daddy tidak bisa memakan kue kesukaannya.
__ADS_1
Cukup menarik pemandangan ini, membuat kakek Hans ingin sekali bergabung.
"Ada apa ramai-ramai. Aarav sedang menunggu istrinya, hey Netta! masuklah! bawa kue itu masuk ke ruangan yang khusus di gunakan untuk kunjungan para tahanan. Aku tidak akan memperlakukan cucuku dengan istimewa karena dia sama saja dengan yang lainnya."