CEO Bastard Yang Bucin

CEO Bastard Yang Bucin
Wedding Day


__ADS_3

Perjalanan menuju apartemen Aarav, terasa sangat cepat karena sang kakak mengendarai mobilnya cukup cepat tetapi tetap memperhatikan rambu-rambu lalu lintas.


Mobil Adya, kini telah berada di depan apartemen milik sang kakak lalu meminta adiknya dan Netta, keluar terlebih dahulu karena dia ingin melakukan sesuatu.


"Kak, Jangan melakukan hal yang akan merugikanmu nanti!" pinta sang adik.


"Tidak, Aku hanya ingin melakukan apa yang menurutku benar, jadi Kau tidak perlu menasehati aku banyak hal!" jawab sang kakak.


Bella merasa aneh.


Namun, dia segera menepis apa yang ada di dalam prasangkanya.


"Oke, aku mengetahui kau lebih dewasa dariku, maka dari itu aku hanya ingin kau melakukan sesuatu yang tidak merugikan, bukannya ingin menggurui tetapi kau harus tahu bahwa aku sangat menyayangimu kak!"


"Ya, aku paham, cepatlah masuk dalam karena Aarav sudah menunggu!"


Belum selesai Adya berbicara, tiba-tiba saja muncul sang kakak yang sudah siap dengan baju yang sangat rapi bersama sang mommy.


Dia mendekat ke arah adik dan Netta.


"Oh, jadi sudah sampai, Kenapa tidak memberikan kabar sayang?" ucap Aarav sambil mengusap rambut Netta.


"Fiuh, sok romantis sekali padahal hanya ingin membuat orang lain cemburu!" jawab sang adik merasa semua ini sebagai drama semata.


Adya sudah melihat semua ini dan memilih untuk ayah dari tempat itu, tapi sang mommy mencegah.


"Adya sayang! tunggu, Kenapa kau jujur pergi ketika kakakmu ingin melangsungkan pernikahan hari ini? Apakah kau masih belum bisa melepaskan gadis yang akan menjadi calon Kakak iparmu?" Sang mommy memang benar-benar, dia selalu tutup poin dengan apa yang ada di dalam hatinya meskipun mengetahui bahwa putra keempatnya memiliki sifat yang cukup peka.


Untuk pertama kalinya, Adya sama sekali tidak memperdulikan panggilan sang mommy.


Sang mommy cukup kesal dengan apa yang dilakukan oleh putranya.

__ADS_1


"Aku tidak pernah mengajari Adya seperti itu, pasti dia belajar dari kau ya? dasar anak paling bandel!"


Sang mommy lalu menarik telinga Aarav, sang putra justru tersenyum.


"Aku tak marah ataupun sedih saat mommy melakukan ini padaku, karena aku merasa jika kasih sayang mommy terletak pada kekesalan, kemarahan mommy padaku. Terima kasih atas apa yang telah mommy lakukan kepada kami berenam, mungkin untuk sementara waktu aku dan Adya akan berselisih paham. Netta adalah gadis baik yang akan selalu mendapatkan perhatian berlebih dari setiap pria yang dekat dengannya karena dia menggemaskan, mommy aku sayang mommy," ucap Aarav mengatakannya panjang lebar, seolah-olah hanya pencitraan semata.


Dia menyadari jika tidak bisa berubah dengan cepat, hanya saja dia ingin berbuat baik pada sang mommy. Apalagi dia memiliki rahasia yang sangat jahat, sebuah rahasia yang tidak akan termaafkan oleh siapapun.


Dia dengan tega menghilangkan janin dari rahim seorang gadis yang seharusnya mendapatkan kasih sayangnya, Aarav memang raja tega.


Dia menggampangkan semua hal, sehingga saat ingin menikah, dai harus berhati-hati ketika bertindak.


"Wah ada apa gerangan sayang? sangat aneh tapi nyata, aku tak pernah menyangka jika kau memiliki perasaan dan hati, aku kira kau hanya ingin mempermainkan semua orang yang ada di sekitarmu."


Sang mommy masih ragu, dia menyangka jika sang putar tertua akan menjadi orang yang sok bijak, pasti ada maunya.


"Ada apa ya? Aku hanya ingin memberikan yang terbaik bagi mommy, yaitu seorang istri cantik dan baik hati seperti mommyku tercinta," jelas Aarav sambil merangkul pundak Netta.


Aarav menatap mata Bella," Aku tahu apa yang ada di dalam hatimu, tapi kau tidak perlu memperlihatkan ketidaksukaannya dengan tatapan yang aneh."


Menikah adalah hal yang sangat membahagiakan bagi sebagain orang, tetapi nyatanya tidak seperti itu bagi Netta.


Dai setuju menikah karena balas budi, sangat miris sekali, meskipun keluarga Fernando sama sekali tidak meminta balasan sedikitpun.


Kini Netta hanya bisa pasrah, berharap apa yang sudah dia lakukan, mendapatkan hal yang baik pula dikemudian hari.


Mommy Laras menyadari jika Bella berada di dalam pihak Adya, jadi dia akan selalu sinis dengan Aarav, jadi tidak mungkin Bella akan memberikan senyum terbaiknya.


"KIta masuk ke dalam mobil Aarav saja, aku sudah menghubungi Jenie jika kebetulan, dia memiliki teman yang sudah ready tentang persiapan pernikahan, di sana ada daddy Alex, ayah Ge juga sudah mendingan, dia menggunakan kursi roda. Aman dia bersama kami Netta, kau tidak perlu merasa gundah ataupun khawatir tentang keselamatan ayahmu," ucap Laras yang sudah menjamin segalanya.


"Terima kasih mommy, kita segera masuk ke dalam mobil karena aku sudah tidak sabar menikah," jawab Netta.

__ADS_1


Netta merasa bahagia di luar, tapi remuk di dalam , dia yakin ayahnya akan baik-baik saja dia menikah dengan Aarav.


"Coba kau dengar apa yang di katakan oleh calon kakak iparmu itu, dai sangat ingin menikah denganku ahri ini. Kau tahu kan? Aku tidak pernah memaksa siapapun, di sini kami rela sama rela," cetus Aarav penuh percaya diri.


"Aku muak," batin sang adik yang langsung masuk ke dalam mobil berharap semua ini cepat berakhir.


Kini ke empat orang itu sudah berada di dalam mobil, Aarav yang menyetir mobil itu.


"Aku akan seger terbang menuju hari pernikahan, apakah kau siap Netta?"


"Ya aku siap!"


Bella yang duduk disebelah gadis itu merasa aneh dengan Netta, dia melihat lebih dekat dan berbisik," Kau sangat sehat dan sadar dengan apa yang kau katakan Netta?"


"Iya, ini keputusan yang sangat benar dan nona bos jangan terlalu banyak bicara, karena aku sangat lelah, maaf ya?"


"Oh oke, maaf, aku juga karena tidak tahu jika kau sangat tertekan kala ingin menikah dengan kakakku yang sangat arogan dan menyebalkan ini!"


Mobil itu perlahan berjalan meninggalkan apartemen. Netta menatap Adya yang sedang berdiri melambaikan tangan padanya.


Dia berada di tempat yang cukup tersembunyi tapi Netta paham jika orang itu adalah Adya, orang yang sangat baik padanya.


"Maaf bos, aku tidak bisa melakukan hal lain, ini adalah suatu hal yang membuatku kebingungan, demi ayah sehat, Aku rela melakukan apapun."


Sang gadis bergumam dengan meneteskan air matanya, Bella melirik dan memahami apa yang dirasakan oleh sang calon kakak ipar.


Ini pasti sangat sulit bagi Netta, Bella menepuk pundak Netta.


"Kau yang sabar, setelah enam bulan, semuanya akan baik-baik saja."


Sang gadis tak menjawab apapun, dia masih terbayang wajah sang ayah yang pasti bahagia melihat dia menikah, tapi juga bersedih saat mengetahui bahwa setelah itu dia kan berpisah dengan sang suami.

__ADS_1


*****


__ADS_2