CEO Bastard Yang Bucin

CEO Bastard Yang Bucin
Aarav memang gila


__ADS_3

Dua jam kemudian ...


Netta telah selesai bekerja, dia terlihat sedang beres-beres. Dia keluar terakhir dari ruang ganti karyawan.


Tiba-tiba saja dia terkejut saat mendapati Aarav ada di depannya.


"Astaga! Aarav? apa yang kau lakukan di dapur?" tanya Netta terkejut.


"Menunggumu keluar dari ruang ganti, aku sudah di sini selama 20 menit, sekalian mengecek pekerjaan karyawan," jelas Aarav beralasan.


"Tapi semua orang kemana perginya? perasaan tadi ada banyak orang deh, Silvi? aku tahu dia menungguku," ucap Netta merasa aneh.


"Aku sudah meminta semua orang untuk pergi dari dapur karena ada hal penting yang harus aku katakan kepadamu," jawab Aarav.


"Tuan bos, eh Aarav mau apa?"


Malas sekali rasanya, si Netta seolah-olah ingin menghindar dengan berbagai alasan, namun tidak bisa melakukan apapun.


Tuan bosnya tetap ingin berbicara dengan si udik.


"Aarav, tugasku hanya menikahimu secara kontrak, tapi tidak ada peraturan dirimu mengganggu kehidupanku, maaf! tolong Aarav pergi dari sini, aku ingin pulang."


Netta benar-benar malas melihat tampang sang bos, hingga rasanya ingin pergi saja.


"Tunggu, jangan pergi. Kita harus bicara!"


Aarav mencekal tangan Netta saat gadis itu berhasil menerobos tubuhnya yang kekar itu.


"Lepaskan Aarav!"


"Tidak, kau ikut aku dulu!"


Aarav membawa Netta keluar dari dapur menuju halaman restoran. Rasanya sangat kesal saat Netta sudah memberontak, namun sang bos masih mencekal pergelangan tangannya.


"Aarav! lepaskan aku!"


"Tidak, kita naik bis, kita bicara disana!" pinta Aarav masih saja mencekal tangan itu hingga kelakuan Aarav yang terlihat kasar, berhenti saat kedua orang itu masuk ke dalam bis.


"Aw!" pekik Netta saat Aarav melepaskan tangan Netta sambil melempar tubuh itu di atas jok belakang, kedua orang itu duduk bersanding.


"Aarav, kenapa kau sangat kasar kepadaku? salahku apa?" tanya Netta kesal.

__ADS_1


"Salahmu itu, tidak mau menuruti apa yang aku katakan. Nah, letak kesalahanmu disana," jelas Aarav.


"Aku sudah menuruti apa yang kau katakan, tapi apa lagi?" ujar Netta masih bingung dengan tingkah bos anehnya.


"Jika aku ingin bicara, ya kau harus menurut!! mana boleh pergi begitu saja, kau itu sudah terikat perjanjian denganku! jadi harus patuh padaku!" ungkap si diktaktor berwajah tampan itu.


"Astaga! aku sedang malas dan lelah Aarav, bukan karena tidak ingin bicara denganku, astaga orang ini, kau menyebalkan sekali!" ucap sang karyawan menunjukkan keberaniannya.


"Oh, jadi kau berani mengatakan aku seorang yang menyebalkan? oke, kelak kau akan mendapatkan hukuman!" cakap sang bos pede sekali.


"Aku akan mendapatkan hukuman saat berada di tempat kerja, ini bis umum, Aarav tidak berhak memberiku hal itu, kita sama saat ini. Sama-sama penumpang bis!"


Netta merasa tidak mungkin mengatakan hal ini kepada bosnya, tapi saking jengkelnya dia harus mengungkapkan apa yang ada di hatinya.


"Oh, mulai berani ya? oke! jika itu yang kau inginkan, mari lanjutkan permainan. Seberapa betah kau menjadi orang biasa!"


Sang bos beranjak dari tempat duduknya kemudian berdiri di tengah-tengah bis tersebut, entah apa yang akan dia lakukan, Netta sudah negatif thinking duluan.


'Astaga! dia mau apa lagi?' batin Netta merasa khawatir atas tingkah sang bos.


Dalam hitungan detik, sang bos sudah akan melakukan hal gilanya.


"Para penumpang yang budiman, saya sedang menyatakan cinta kepada seorang gadis. Namun, gadis itu diam saja, sepertinya dia bingung. Bisakah kalian membantuku menyemangati gadis itu agar menerima pernyataan cinta saya?" ucap Aarav melakukan hal yang membuat Netta malu tidak ketulungan.


"Astaga, dia mau apa lagi! dasar bos sableng! aku kan malu, duh! apa lagi semua orang berteriak memintaku menerima cinta Aarav, dia kalau membuat malu orang tidak tanggung-tanggung emang ya, aku harus bagaimana?" Anetta berbicara sendiri, dia bingung harus melakukan apa.


"Terima Nona!"


"Terima saja! Tuan ini sepertinya sangat tulus, belum ada lho yang menyatakan cinta di dalam bis, terima Nona!"


Semua penumpang yang ada di dalam bis masih berteriak, mereka meminta Netta menerima cinta Aarav.


Apalagi, si Aarav juga totalitas dalam aktingnya.


Dia terlihat mendekati Netta, kemudian bersimpuh di hadapannya.


"Netta, mau kah kau menikah denganku?" cetus Aarav sambil membawa kotak kecil berbentuk cinta, di dalam ada sebuah cincin berlian yang khusus dibeli untuk acara pernikahan antara Netta dan Aarav.


"Bos, cukup!! jangan permainkan saya seperti ini," ujar sang gadis lirih.


"Terima saja, daripada aku akan membuatmu malu lebih dari ini!" bisik Aarav.

__ADS_1


Netta melihat sekeliling, dia memang sudah merasa malu dari awal Aarav berdiri di tengah-tengah bis itu.


Pada akhirnya, Netta harus rela dipermainkan oleh Aarav.


"Ya, aku setuju menikah denganmu."


Semua orang bersorak-sorai. Netta menderita dan Aarav tersenyum puas.


"Bagus udik! kau tahu kan bagaimana rasanya, jika tidak patuh kepadaku?" ucap Aarav lirih.


Netta diam saja, dia berada dalam dekapan tubuh kekar Aarav.


"Tolong Aarav menjauh dariku, aku tidak ingin sedekat ini, rasanya tidak nyaman, tolong!" pinta Netta yang langsung Aarav sanggupi karena dia merasa bahagia telah membuat malu sang gadis.


Saat bis itu berhenti di salah satu halte, Aarav meminta sang gadis ikut bersamanya. Mau tidak mau sang gadis harus mengikuti apa yang dikatakan oleh sang bos.


Semua orang yang ada di dalam bis itu merasa kagum dengan sifat gentle Aarav, namun dia tidak paham rasanya sakit menjadi seorang Netta yang dipermainkan oleh bosnya sendiri.


Aarav dan Netta kini berada di halte dan Netta tiba-tiba saja menangis.


"Cih, cengeng sekali! mengapa kau tiba-tiba menangis?"


"Aku harus sampai di rumah tepat waktu karena ayah sudah menungguku terlalu lama, tapi bos melakukan hal yang tidak penting sehingga aku harus membuang waktuku di bis tadi. Padahal halte bis yang menuju rumah, sudah terlewati jauh. Hiks ... ayah, maafkan aku!"


Netta menangis jadinya seperti anak kecil, membuat dua orang yang ada di halte itu berbisik.


"Wah, pria tidak bertanggung jawab, pasti dia sudah menghamili gadis udik ini, dan dia akan meninggalkan sang gadis begitu saja! dasar cabul, mesyum," ucap seorang ibu yang berbisik dengan temannya yang ada disampingnya.


"Iya, aku juga tidak habis pikir dengan anak-anak zaman sekarang, kelihatannya saja macho! tapi tidak beretika!" jawab ibu-ibu lain menjawab bisikan itu.


Aarav yang merasa terpojok, langsung menggendong tubuh Netta dan pergi jauh dari halte itu menuju sebuah tempat dimana dia sudah janjian dengan sang adik, Bellanca Damaris.


"Aarav, kau mau membawaku ke mana?" pekik sang gadis saat berada di pundak Aarav.


"Bertemu adikku, kau diam saja!"


"Tapi setidaknya turunkan aku!"


"Tidak, aku tahu kau akan kabur!"


******

__ADS_1


__ADS_2