
Anetta keluar dari ruangan Tuan bos dengan kondisi sangat lemas, dia tidak tahu harus berbuat apa. Rasanya kepalanya berputar-putar, tidak ada hal lain yang ada dipikirannya selain ingin lari dari masalah.
Akan tetapi, dia sudah terlanjur terjebak dalam kesepakatan gila yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Sang gadis mondar-mandir di depan ruangan Aarav.
Dia berbicara sendiri seperti orang gila.
"Mau, tidak, mau, tidak, mau, tidak. Astaga! aku mau tidak? tidak mau? astaga! mengapa aku menjadi sangat pusing!" ucap sang gadis sambil memegangi kepalanya yang berat karena ulah si bastard yang telah membuatnya gila hari ini.
Bagaimana bisa memutuskan pernikahan hanya dalam waktu satu jam, apa ini suatu hal yang wajar?
Tidak sama sekali, rasanya ingin membenturkan kepala di tembok, atau berenang di sungai, atau laut sekalipun untuk menjadikan otaknya yang telat mikir itu adem ayem.
Namun, semua adem ayem itu hanya khayalan semata untuknya.
Tidak ada rasa senang sama sekali saat dirinya berada dalam posisi ini.
Menikah dengan bos macam Tuan bos Aarav justru beban darinya.
Bertemu di restoran saat ada keperluan saja sudah malas, apalagi bertemu setiap hari dan melayaninya sebagai seorang istri, Netta sudah tidak tahan.
Dia berdoa kepada Tuhan agar ada orang yang mampu menolongnya menjauhkan dirinya dari Aarav sang diktator.
Anetta berulang kali menatap jam tangan kulit miliknya yang ia beli saat mendapatkan bonus karena giat bekerja saat hari libur.
Dua puluh menit sudah si udik mondar-mandir di depan ruangan sang Tuan bos.
"Aku harus bertemu Silvi," tukas sang gadis sambil berjalan cepat menuju dapur.
Setelah dia sampai di dapur, dia tidak menemukan si Silvi.
Anetta sudah bertanya kepada semua orang yang ada di dapur itu, tapi tidak ada yang mengetahui dimana si Silvi berada.
__ADS_1
...
Hingga orang yang dicari tiba-tiba hadir, dia membawa nampan dan beberapa pesanan di otaknya.
"Silvi! ayo ikut aku! ini penting!" ucap si udik sambil terus memantau waktu yang sangat cepat berlalu.
"Netta, aku sedang bekerja. Ada lima meja yang harus aku layani, apa kau tidak kasihan padaku jika bos Aarav marah?" jawab Silvi dengan tampang memelas.
"Tuan bos Aarav akan menikahiku!" ujar si udik dengan menunjukkan ekspresi paniknya.
Semua orang yang ada di dapur itu terlihat meremehkan kata-kata si udik yang terkesan seperti hoax itu.
Namun, Silvi yang mengetahui sifat si udik, langsung menyeretnya masuk ke dalam ruang ganti karyawan yang ada di samping dapur megah milik sang Tuan bos Aarav.
Dia dalam ruang ganti karyawan, si Silvi meminta Netta berkata jujur, dia memahami jika si Anetta adalah orang yang sangat jujur.
"Netta, apa kau mengatakan hal yang benar? atau kau hanya mendapatkan hukuman karena kesalahanmu dan harus mengatakan kebohongan ini?" tanya Silvi yang coba menerka apa yang terjadi.
"Aku tidak berbohong, dia mengatakan kepadaku ingin menikah denganku. Namun dengan syarat, aku harus setuju menikah kontrak dengannya selama 6 bulan," ucap si udik frustasi dengan si bos.
Ada banyak karyawan yang tidak suka dengan Tuan bos Aarav, meskipun tampan, dia tidak suka beramah tamah dengan para karyawan, itu yang membuatnya mines di hati para karyawan.
Silvi masih berpikir hal yang lebih menguntungkan untuk Anetta, jadi dia akan tetap merasa untung dan tidak dirugikan saat menikah dengan sang bos.
"Netta, kau terima saja tawaran bosmu," pinta Silvi memberikan pendapatnya.
"Apa? atas dasar apa Sil? aku tidak bisa menikah dengan orang yang tidak aku cintai, apa lagi dia itu memiliki banyak kekasih. Aku tidak mau," jawab sang udik membela diri.
"Untuk sementara, jangan pikirkan cinta, kita pikirkan masa depan. Kau hanya menikah kontrak dengan bos, pasti bos memberikan penawaran uang yang banyak kan? berapa? 100 juta atau 200 ratus?" tanya Silvi yang akan memberikan pencerahan kepada Anetta.
"Dia bilang Milyar, tapi lupa jumlahnya, aku tidak tahu uang itu banyak atau tidak, tapi apa bisa uang mengganti ikatan suci pernikahan?" ujar sang gadis udik dengan segala kepolosannya.
Silvi tercengang, dia tidak menyangka jika bos Aarav akan membayar Anetta dengan uang berjumlah milyaran.
__ADS_1
"A-pa? m-il-yar? astaga! ratusan milyar? bisa beli kapal untuk ayahmu sekarung itu Netta, kau mau saja ya? ayahmu pasti senang saat kau memiliki banyak uang. Kita harus realistis, uang itu bisa kau manfaatkan untuk biaya terapi penyakit dalam ayahmu. Satu lagi, bos Noland akan berhenti meminta pernikahan dengan alasan kau sudah punya uang untuk melunasi hutang ayahmu. Nah, kau pikir coba? berapa keuntungan yang kau dapatkan saat menerima tawaran pernikahan kontrak ini?" cakap Silvi menerangkan secara gamblang agar sang sahabat tidak pusing lagi.
Waktu tinggal sepuluh menit, dia harus cepat memutuskan.
"Baik Sil, aku akan menerima tawaran Tuan bos, tapi bantu aku bicara dengan ayah, dia pasti terkejut saat aku tiba-tiba ingin menikah, padahal selama ini aku tidak memiliki kekasih, atau teman dekat seorang pria," tandas Anetta.
"Siap! kau tenang saja! go ... go ..., temui Tuan bos Aarav segera, kau nanti bisa kena lempar sepatu kalau tidak segera menemuinya dan memberikan keputusan yang jelas!" ucap Silvi.
"Baik Sil, terimakasih untuk semuanya, kau sangat baik," jelas si udik terharu dengan kebaikan yang selalu Silvi berikan kepadanya.
Meskipun Anetta kadang lemot dan loading lama, Silvi selalu sabar untuk menjelaskan segalanya.
Anetta menghela nafas panjang, dia keluar dari ruang ganti karyawan dengan mantap untuk menemui Tuan bos Aarav.
Tap ... tap ... tap ....
Derap langkahnya sangat yakin, dia tidak akan mundur lagi.
Kini dia sudah berada di depan pintu CEO room.
Anetta mengetuk pintu, sang Tuan bos mempersilahkan masuk.
"Bagaimana?" tanya sang Tuan bos menagih jawaban Anetta.
"Ya bos, saya terima tawaran Tuan bos Aarav untuk menjadikan saya istri pura-pura bos," ucap Anetta sambil menunduk.
"Yes!" jawab Aarav penuh semangat.
Dia merasa lega karena hidupnya akan menjadi lebih baik tanpa harus menerima perjodohan dari kedua orang tuanya.
Jika dia menikahi Tifani, hidupnya akan ribet dan semakin dalam kemunduran.
"Bagus! kau menggunakan otakmu dengan benar udik, Hahaha," cakap sang pria dengan tawa kebahagiaannya.
__ADS_1
Padahal si Anetta masih cemas, dia memikirkan sang ayah yang pasti akan terkejut saat Silvi memberikan informasi tentang pernikahan tiba-tiba ini.
*****