
Adya meminta Netta untuk pulang, karena melihat pemandangan ini sungguh menyebalkan.
"Aku tidak marah besar pada kakakku, hanya saja aku merasa apa yang dia lakukan sangatlah tidak bermoral! kita pulang saja Netta, kita tinggalkan kakak di sini!" pinta Adya sambil memegang pundak Netta, dia akan segera membawa pergi sang gadis idaman.
"Tapi nanti kalau mommy Laras tahu kita meninggalkan bos Aarav, pasti beliau marah," jawab sang Netta polos.
"Dia tidak akan marah, justru mommyku akan marah saat Kak Aarav masih bermain dengan gadis-gadis seksi itu," jawab Adya.
Netta yang tidak enak hati, merasa harus meminta Aarav segera pulang, bagaimanapun juga, Aarav adalah bosnya.
"Hm, kau suka dengannya? mulai suka?"
"Bos Adya tidak tahu jika aku akan mendapatkan masalah di tempat kerja jika mengabaikannya, aku harus cari uang untuk ayah yang sebanyak-banyaknya, tapi kalau dia aku tinggal di sini, yang ada aku di pecat!"
"Kerja di restoran ku saja, aku juga punya, meskipun tidak sebesar milik kakak, setidaknya aku bisa mengajimu tiap bulan."
Adya mencoba untuk merayu Netta.
"Kita ajak bos Aarav pulang, jika tidak mau, baru kita tinggal. Setidaknya ada itikad baik dari kita, bos Adya."
"Ya, ya, terserah kau saja. Namun, kau harus mempertimbangkan apa kataku, jadi lebih baik segera minta dia pulang, aku malas bertemu dengannya."
"Oke."
Netta berjalan menuju tempat di mana calon suaminya sedang berbincang dengan beberapa gadis.
Dia dengan percaya diri mengatakan bahwa Aarav harus segera pulang karena tidak boleh bersama dengan gadis lain sangat ada calon istri di sana.
"Oh, kau belum menjadi istriku tetapi sudah mengaturku? apa kau sudah menerimaku menjadi calon suamiku yang sesungguhnya?"
"Bukan itu, bos Adya, dia mengatakan padaku jika lebih baik mengajakmu pulang daripada meninggalkannya."
"Haha, kalian berdua bersekongkol untuk mengerjaiku?"
"Tidak bos, kami hanya meminta bos untuk pulang, tidak baik bersama gadis di sini, ingat kata mommy Laras, jadi kau harus segera pulang."
Netta yang udik dan polos sekali, selalu mengatakan segalanya dengan sangat jujur tanpa perasaan apapun.
Sang gadis mengatakan semua itu juga diminta oleh Adya, jadi tidak terlalu beban.
"Haha, apa kau tidak takut aku pecat?"
"Tidak bos, karena bos Adya akan menampungku setelah kau memecat ku."
__ADS_1
Deg!
Tatapan mata itu langsung tertuju kepada sang adik, dia sangat marah namun harus menahannya agar Netta tidak salah paham.
"Oh, oke. Mari kita pulang, tunggu aku di mobil, aku ganti baju dulu."
Aarav yang sedari tadi dikelilingi gadis cantik, tak membuat Netta cemburu, karena bosnya memang seperti itu sejak awal bertemu.
Dia berbalik dan berjalan menuju Adya berada, dia sedang merekam Aarav saat berselancar dengan celana boxer saja, terlihat jelas perut kotak-kotak itu, sangat macho.
"Bos, aku sudah memintanya pulang, dia mau, tunggu di mobil saja."
"Di sini sebentar, aku ingin foto denganmu," pinta Adya.
"Tidak mau, aku malu," jawab Netta.
"Kau akan menjadi istri kakakku, otomatis Kau adalah saudaraku juga kan, tidak masalah untuk mengambil foto beberapa saja," ucap sang Adya.
"Tidak mau!"
Netta mendapati dirinya di tarik secara tidak sengaja oleh Adya dan mereka berdua berpelukan, foto itu sangat tepat sasaran sehingga pose berpelukan menjadi sangat ideal terlihat di layar ponsel.
"Haha, ini bagus, terima kasih kakak ipar!"
Saat keduanya berebut ponsel, datanglah Aarav dengan baju yang sama saat ia sampai di pantai tadi.
"Ada apa ini? pemandangan yang sangat indah!" ucap Aarav saat mendapati dua orang itu sedang berebut ponsel, posisi keduanya sangat dekat sehingga membuat Aarav kesal.
"Aku sedang bermain dengan Netta, jika Kakak sudah selesai, masuk saja ke dalam mobil aku akan meneruskan permainan!" Adya sudah memulai misinya dan sepertinya berhasil.
Sang kakak diam lalu pergi menuju tempat dimana mobil terparkir sempurna.
Netta heran dengan sikap Kakak dari Adya itu.
"Bos Aarav, mengapa dia pergi begitu saja tanpa menunggu kita? padahal kita sudah di sini menunggunya?" ucap Netta perasaannya dengan sikap sang bos.
"Kita susul saja, daripada dia nanti yang meninggalkan kita?" pinta sang Adya.
"Ya bos Adya," jawab Netta.
Dua orang itu lalu berjalan menuju mobil tempat Aarav berada, jarak yang tidak terlalu jauh membuat keduanya sampai dengan cepat di tempat yang dituju.
Saat berada di dekat mobil, Aarav meminta Netta foto duduk di depan bersamanya.
__ADS_1
Netta tidak mau, tapi sang bos berbisik padanya, dia mengatakan sesuatu yang menjadikan Netta berpikir dua kali untuk melawan.
Mau tidak mau, Netta harus setuju dengan apapun yang dikatakan oleh bos Aarav karena sang bos memberikan ancaman.
Ancaman yang membuat Netta tak berkutik.
Adya curiga, lalu berkata," Jangan memberikan ancaman yang tidak penting, dia polos, pasti akan menuruti waktunya kau katakan jika ancamanmu itu membuatnya cemas!"
"Kau tenang saja adik, tidak ada hal seperti itu, yang ada hanyalah, aku akan menikahinya dua hari lagi, tolong kau urus ya semuanya?" pinta Aarav yang juga tidak mau kalah membuat sang adik cemburu.
"Benar apa yang dikatakan oleh kakakku, Net?" tanya sang Adya mencoba memastikan.
"Iya, aku tak apa," jawab Netta berpura-pura."
"Aku akan menyelidiki apa yang dikatakan oleh kakakku pada Netta, sementara waktu, aku akan menuruti apa kata kakak, setelah itu mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi."
Sang Adya lalu duduk di jok belakang dan membiarkan sang kakak duduk di jok kemudi dengan Netta ada di sampingnya.
"Sudah siap, baby."
"Hm."
"Oke, kita let's go!"
Sang Aarav, terlihat cukup puas dengan apa yang ia rencanakan. Jadi dia bebas mengatakan apapun pada Netta.
"Net, pulang ke rumahku saja ya? nanti biar Bella yang mengurusmu," ucap Aarav.
"Iya, kau harus mengenal Arsenio, Adelio dan Alexis, mereka juga memiliki wajah yang mirip dengan kami, kau harus bisa membedakan nama-nama kami juga, kita akan menjadi satu keluarga, benar kan kakak?" jawab Adya.
Dia sebenarnya malas sok akrab dengan kakaknya, tapi demi perbincangan yang kondusif, sang adik mengalah.
"Oh, benar sekali, kau juga harus mengenal siapa Daddy dan mommy, nanti aku akan memberitahu padamu."
Aarav selalu mencuri start.
"Aku juga lebih tahu tentang Daddy dan Mommy daripada Kak Aarav, jadi lebih baik mendengarkan kata-kata saja, ceritaku lebih menarik!"
Adya memang tidak mau kalah, dua mata sang kembar beradu dalam kaca spion tengah mobil, dua orang yang tidak mau kalah.
Di saat yang genting ini, Netta tak memperdulikan nya, pada intinya, gadis itu tak akan masuk ke dalam situasi rumit yang ada pada kakak-adik itu.
*****
__ADS_1