
Keesokan harinya ...
Sang suami merasa nyaman saat sinar matahari begitu hangat menyinari seluruh tubuhnya. Namun yang dia pikirkan adalah Netta memeluknya.
"Terima kasih Netta."
Parah sekali sang pria ini membayangkan hal yang tidak sebenarnya, dia begitu senang dengan mimpi yang belum pernah dia alami.
"Ber cin t a di dalam mimpi? Apa ini gil a? aku sama sekali tidak menyukai semua ini, perasaan ini dan Netta."
Sang suami yang merasa pagi sudah menjelang, seperti biasa langsung pergi ke luar dan menikmati udara segar, tapi rencana di dalam otaknya tiba-tiba hilang hanya karena ingatannya yang ingin menjaga Netta tapi di atas ranjang, sang pria tak mendapati sang istri.
Dia panik.
"Apa dia kabur? Lari? Apa yang harus aku lakukan? Dia tidak boleh kemana-kemana."
Saat kepanikan melanda, sang suami berlari dan membuka pintu dengan cepat, tak di sangka, dibalik pintu ada Netta yang membawa sarapan serta susu hangat untuk sang suami.
"Aduh!"
Netta terjatuh dengan makanan dan susu hangat harus tercecer di lantai, belum lagi gelas kacanya.
__ADS_1
"Maaf, aku buru-buru."
Tanpa rasa bersalah, orang itu pergi. Permintaan maafnya hanya sebatas angin lalu saja.
...
Netta membereskan sisa-sisa pecahan gelas dan tangannya tiba-tiba berdarah.
Sang suami yang dari tadi memperhatikan sang istri lalu menggendong tubuh sang istri.
"Net? kau tidak apa-apa?" tanya sang suami yang terlihat sangat khawatir.
"Aku baik-baik saja, hanya saja jangan menggendong aku terlalu lama karena tanganku sangat sakit, lebih baik kau mengambilkan kotak obat dan mengobatiku."
Sang gadis hanya mencoba meminta bantuan sang suami, Ini sekedar percobaan, jika berhasil tidak masalah, tidak berhasil pun juga dia biasa saja.
Namun, pada kenyataannya, sang gadis tercengang dengan apa yang dilakukan oleh sang suami.
Pria itu, sangat perhatian dan melakukan apapun yang dikatakan oleh sang istri.
Aarav, hanya dalam satu hari saja.
__ADS_1
"Aarav, Apa yang terjadi padamu? Apakah kau merasa sakit atau ada yang terbentur kepalamu?"
"Tidak, Kau adalah istriku dan aku akan menjagamu."
"Oh, Apakah seperti itu? jadi kau meminta maaf dan pergi begitu, Apakah sebagai bentuk penjagaan?"
Sang suami diam, dia tidak akan memperlihatkan sisi rapuhnya karena selama ini sangat sesak jika disampaikan betapa dia merasa bersalah dengan apa yang sudah dilakukan di masa lalu.
Dia ingin mengatakan hal yang jujur tetapi takut sang gadis akan pergi dan meninggalkannya di saat dirinya sudah memiliki cinta yang tulus kepada sang istri.
"Aku hanya haus, maaf jika membuatmu merasa aneh. Aku juga aneh dengan diriku sendiri yang lebih peka dengan dirimu, Aku bahkan tidak menyukaimu tetapi sangat dekat denganmu hari ini. Aku berharap kau tidak baper dengan apa yang aku lakukan."
"Aku pernah baper dengan apapun, Aku hanya menjalani kehidupan 6 bulan bersamamu nanti, aku tidak berharap apapun selain berdoa agar segalanya berjalan dengan baik-baik saja tanpa membuat kerugian di kedua belah pihak. Bos, kau harus bertahan di sini bersamaku selama 10 hari. Aku tidak akan merepotkanmu, aku akan melayanimu di sini sebagai seorang suami tetapi untuk urusan ranjang aku tidak bisa."
"Haha, Kau terlalu percaya diri aku mau tidur denganmu!"
"Iya, Aku berharap kau tidak mau!"
Sang suami sangat tersiksa dengan apa yang ia rasakan, dia tidak pernah menyangka bahwa ada satu waktu dia harus menahan perasaan serta gejolak di dalam dadanya hanya karena gengsi semata.
Dia berada di dalam satu kesempatan yang cukup membuatnya pusing.
__ADS_1
"Haha, Aku juga berharap tetap bersamamu sebagai seorang pria yang keren dan memiliki banyak gadis," ucap Aarav menutupi kehidupan yang sebenarnya, kehidupannya yang sangat tidak bermakna dan penuh dengan kepalsuan.
*****