CEO Bastard Yang Bucin

CEO Bastard Yang Bucin
Mau nikah, masih genit


__ADS_3

Sang kakak berhenti berlarian, merasa rapuh lagi dan seorang gadis yang sangat familiar datang padanya.


"Woy! kenapa kau berlarian seperti tikus? Kita akan menghadiri pernikahan dan kau belum mandi serta ganti baju, memalukan aku saja, Adya apakah aku sudah pantas memakai baju ini?" Entah siapa yang mengajak Adya berbicara, dia sama sekali tidak memperhatikannya.


"Adya?"


"Ya, Netta?"


"Bukan Netta, aku seperti orang lain ya?"


Adya terlihat syok saat mendapati ada Renata yang sangat canti dihadapannya, tapi ia mengira itu Netta.


Kejam sekali.


"Maaf, aku tidak fokus. Baik, aku akan mandi dan berganti naju."


Renata heran dengan pria yang ada di hadapannya, Renata memilih untuk mengalah dan mengikuti apa yang diinginkan oleh sang pria.


...


Tempat merias pria ...


Pria itu masuk ke dalam ruangan yang digunakan untuk merias mempelai pria, saat membuka pintu, terlihat jelas ada seorang pria yang sangat mirip dengannya, dai adalah sang kakak, Aarav.


"Halo bung, aku sudah menunggumu sejak tadi. Mandi dulu, kau sangat kucel dan bau. Apa masih main kejar-kejaran seperti waktu kecil? Kau memang tidak cocok menjadi mempelai."

__ADS_1


Sang kakak memang sangat menyebalkan, lalu dia menatap sang adik.


"Kau berani padaku?"


"Kamar mandi ada di sebelah sana dan kau menghalangi jalanku!"


Sang adik menghempaskan pundak dang kakak dan berjalan lurus ke dapan untuk mencari kamar mandi yang khusus.


"Cih, pria lemah, mana ada pria seperti itu ingin mendapatkan gadis secantik Netta? tidak akan pernah aku biarkan!"


Sang kakak membersihkan sisa sentuhan tangan sang adik, tiba-tiba saja Renata datang.


Mata keranjang itu sangat peka jika ada seorang gadis yang berada di dekat dengannya.


Renata yang tomboy masa boodh dengan apa yang ada di depannya, dia hanya ingin memastikan jika Adya ada di dalam ruangan itu. Dia cemas, Adya tidak segera bersiap-siap, pernikahan sang kakak akan segera dimulai, Renata sudah terlalu lelah mengenakan sepatu hak tinggi dan gaun indah selutut itu.


"Kau kekasih Adya?"


"Bukan, aku temannya, Kau Aarav kan?"


"Iya, kau sangat peka terhadap nama pria tampan sepertiku?"


"Aku mengenalmu, masa iya kau tidak mengenalku kak?"


"Siapa kau?"

__ADS_1


"Aku Renata."


Aarav mengingat nama itu untuk beberapa waktu.


"Aku tidak tahu siapa kau, aku lupa. Aku akan menikah, tapi kalau menambah istri lagi sepertinya bagus."


Sang gadis menjawab," Di sini ada cctv, jangan macam-macam. Bibi Laras tidak akan membuatmu menderita jika kau bertobat Kak Aarav!"


"Kau tahu apa tentang aku? Oke, jika tidak mau, aku pergi saja. Masih ada gadis cantik yang menginginkan aku."


Aarav pergi begitu saja sambil mengedipkan matanya.


Dia segera menuju altar pernikahan lagi, untuk persiapan mengungkap janji suci pernikahan.


Sedangkan sang gadis merasa aneh, dia tidak paham dengan sifat Aarav yang seolah-olah tidak menghormati calon istrinya.


"Aku akan mencoba bertanya pada Adya nanti mengenai calon istri kakaknya, kenapa ada gadis yang mau menikahi pria genit menyebalkan itu?"


Sang gadis bertanya-tanya dalam hati oleh sebab sikap Adya yang sangat aneh karena tidak memberitahukan rasa sakit hati serta tidak memberikan keterangan apapun mengenai status seorang gadis yang mungkin saja ada di dalam hatinya ini.


Altar pernikahan ...


Netta sudah berada di depan pendeta, dia duduk dengan gelisah, dia takut jika Adya berbuat nekat.


"Semoga bos Adya membawa seorang gadis kemari untuk menemaninya."

__ADS_1


Netta mencoba tersenyum, dia kuat dan tegar.


*****


__ADS_2